Marahalim Siagian

Sabtu, 19 Februari 2011

Road for Welfare







Desa Ngovi Kecamatan Rio Pakava adalah sebuah desa berpenduduk mayoritas Suku Bunggu atau Binggi yang mendiami dataran tinggi Donggala. Desa ini jauh dari sentrum pemerintahan sehingga tergolong minim perhatian dari pemerintah.
Penduduk di daerah ini hidup dari bertanam kakao dan belakangan kelapa sawit. Hasi-hasil pertanian biasaya dipikul dalam jarak yang cukup jauh dan upah yang tinggi. Dibukanya jalan ini dapat mempermudah masyakat untuk mengeluarkan hasl pertaniannya dengan biaya yang lebih murah.

Program ini terwujud atas kerjaama masyarakat Ngovi dengan PT. Pasangkayu dengan pendanaan utama PNPM.

A Morning in Bambamone

19 November 2010
Bambamone adalah sebuah dusun di Desa Gunung Sari, Kecamatan Pasangkayu, Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulawesi Barat. Dusun ini pada dasarnya adalah perluasan dari pemukim Bali yang migrasi ke Kelurahan Martajaya pada tahun 80-an. Orang meyakini bahwa Suku Bunggu (Sub Etnik Kaili) telah mendiami kawasan lebih awal, kemudian migrasi penduduk dari daratan Sulawesi Selatan: Toraja dan Bugis. Secara umum dusun/desa ini masih terisolasi. Sejumlah proyek pembangunan pemerintah yang diinvestasikan tidak berjalan baik, diduga karena diselewengkan. Hal ini terlihat dari pondasi jembatan dan proyek infrastruktur desa tidak berkembang.


Awernes Terhadap Undang-Undang Berlalulintas dan Penggunaan Helm SNI

SMP PT Pasangkayu, 12 Februari 2011

Sosialisasi Undang-Undang Lalulintas dan penggunaan helm SNI di SMP PT Pasangkayu.
Hadir dalam acara: Kasatlantas Matra AKP Abdul Rahman dan Kanit Laka. Ibu Kartina (kepala sekolah SMP) dan Ibu Hadiana (Kepala Sekolah SD PT Pasangkayu), Para siswa pengguna kendaraan dan siswa kelas 3. Bapak Triyanto dan Marahalim Siagian hadir mewakili management.

Stakeholder Empowering

Radar Sulbar, 16 Februari 2011
Koran Radar Sulbar menerbitkan berita Pelatihan Petani IGA yang dilakukan PT Pasangkayu terhadap mitranya. Sebanyak 65 orang di undang dalam kegiatan pelatihan ini, namun yg hadir ada 47 orang. Kegiatan ini diisi oleh pemateri Agustinus Silalahi dan Nursalim. Kegiatan ini terselengara atas bantuan Bapak Eri Ka TCA Area C1 yang diorganisir oleh CD Officer PT Pasangkayu Marahalim Siagian.

Selasa, 15 Februari 2011

Silahturahmi Astra Lestari Tbk Dengan Wartawan Matra.

Sumber: http://www.ujungpandangekspres.com
Astra Lestari Tbk menemui beberapa wartawan Kabupaten Mamuju Utara (Matra) di Rumah Makan Blok M Pasangkayu selasa kemarin. Silahturahmi ini merupakan pertama kalinya di lakukan oleh Perusahaan yang ada di Matra selama ini. Astra Group berencana menciptakan kerjasama yang lebih baik kedepan bersama para wartawan khususnya yang berada di Matra dan yang tergabung dalam asosiasi Perwakilan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Matra.
 
Astra Lestari Tbk Matra yang bergerak di bidang pertanian sawit, cenderung terbuka kepada wartawan, namun koordinasi dan komunikasi yang di bangun harus jelas seperti yang tergabung dalam asosiasi Perwakilan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Matra. Hal tersebut dalam waktu dekat akan ditindak lanjuti dengan seringnya di lakukan pertemuan antara Astra Lestari Tbk dengan para wartawan yang ada di Matra, agar hubungan yang selama ini di anggap tidak pernah ada, benar-benar tercipta hubungan yang lebih baik kedepan.
Menurut salah satu Kepala Administratur anak perusahaan Astra di Pasangkayu Indra Irawan mengatakan tertutupnya koordinasi antara perusahaan dengan wartawan akibat tidak adanya komunikasi, sehingga perusahaan dengan wartawan terkesan jalan sendiri-sendiri," perusahaan sebenarnya tidak tertutup, apalagi dengan teman-teman wartawan, yang jelasnya kami ingin mengenal wartawan lebih dekat, namun wartawan itu juga harus jelas dan memang berdomisili di Matra, idealnya hanya kurang komunikasi, tak kenal maka tak sayang, mungkin itulah yang terjadi," terang Indra yang di amini Marahalim Humas salah satu anak
perusahaan Astra Tbk.

Kemudian, Indra juga mengharapkan kedepan," kami dari perusahaan akan melakukan pertemuan lanjutan dengan para wartawan Matra, paling tidak satu atau dua bulan sekali untuk memperat hubungan antara perusahaan dengan wartawan agar saling lebih mengenal dan kami perusahaan juga mengetahui wartawan yang memang berdomisili di Matra," harapnya. Pertemuan ini merupakan silahturahmi yang sangat baik dan merupakan bukti, bahwa perusahaan yang bergerak di bidang pertanian sawit, tidak hanya berkontribusi terhadap daerah tapi juga memberikan perhatian terhadap wartawan yang ada di Matra. ()
 

Empowering Stakeholder: Pemberdayaan Petani Sawit Di Mamuju Utara

Bpk Agustinus Silalahi Memberikan Materi Perawatan Kebun,
Kualitas Buah dan Perawatan tanaman menghasilkan.
Training Center Area- Sulawesi Barat Februari 2011. 

Kegiatan pelatihan bagi petani "income generating activity" dan petani yang mengorganisasikan dirinya dalam koperasi tani mendapat pelatihan agar dapat membuat hasil pertanian mereka menjadi optimal yang pada gilirannya meningkatkan penghasilan mereka dengan meningkatnya hasil produksi mereka.
Pembukaan Pelatihan Oleh Bapak Eri Irianto, Ka TCA Area Celebes


Foto bersama dengan peserta pelatihan di Training  Center Area  

Pemahaman Mendalam dan Kurangnya Minat Riset Antropologi Tentang Orang Binggi

Marahalim Siagian
(Community Development Officer PT. Astra Agro Lestari, Tbk)

Sejauh ini, kita belum banyak mengenal kebudayaan Kaili kontemporer kecuali dari pengalaman para missionaris (penyiar agama Kristen) yang hidup dengan mereka selama bertahun-tahun. Interaksi yang intensif membuat mereka mampu menguasai bahasa dan kebudayaan sukubangsa ini dengan baik serta keberhasilan misi keagamaan yang mereka bawa.

Pendekatan seperti itu merupakan ciri khas pendekatan antropologi yakni, hidup dengan cara kebudayaan orang lain untuk mencapai pemahaman mendalam (deep understanding). Snouck Hurgronje, pada masa kolonial melakukan pendekatan semacam itu di Aceh untuk tujuan penaklukan Bangsa Aceh, antropolog Amerika Ruth Benedict dalam Perang Asia Pasific untuk tujuan perang. Ruth Benedict diminta oleh tentara Sekutu untuk memahami perilaku tentara Jepang yang begitu nekad seolah mengumbar nyawa dalam perang melawan Sekutu, tindakan yang tidak pernah dibayangkan oleh Barat. Orang Barat sukar memahami dasar dari tindakan bunuh diri tetara Jepang serta aksi-aksi nekad lainnya. Kebingunagan itu baru terjawab ketika Ruth Benedict mempublikasikan studinya tentang Jepang dalam buku berjudul Pedang Samurai dan Bunga Serunai.

Saat ini para petugas pengembangan masyasrakat (CD Officer) juga memerlukan pengetahuan mendalam semacam itu, dalam rangka mengelola masyarakat yang hidup d isekitar perkebunan yang jumlahnya tidak hanya satu melainkan beberapa sukubangsa. Hal itu diperlukan dalam mengambil keputusan jangka pendek misalnya, sebagai dasar pengetahuan untuk menegosiasikan suatu masalah agar tidak terjadi dispute yang merugikan. Diperlukan juga dalam rangka merangcang serta mengimplementasikan program community development yang baik, sehingga kelak berhasil. Namun, para CD Officer hampir mustahil untuk hidup bersama dalam waktu lama dengan satu atau beberapa sukubangsa agar memperoleh pengetahuan mendalam tentang masyarakat binaannya. Maka CD Officer dari warga setempat menjadi pilihan atau CD Officer yang memiliki latarbelakang budaya setempat, baik karena perkawinan atau hubungan kekerabatan dengan masyarakat kunci di sekitar kebun, atau dalam kasus tertentu CD Officer yang pernah melakukan riset mendalam tentang sukubangsa tertentu sehingga dapat memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk melaksanakan tugasnya di masyarakat.

Cara lain yang tersedia adalah menggunakan literatur yang ada serta keinginan untuk memanfaatkannya. Tetang Orang Kaili atau To Kaili saya kira, hanya segelintir literatur yang berkualitas yang tersedia. Human Relation Area Files (Ethnic Groups Of Insular Southeast Asia Volume 1: Indonesia, Andaman Island, And Madagaskar, Frank M. Lebar., ed, 1972) sebagai salahsatu rujukan antropologi yang penting tidak mencantumkan Sukubangsa Kaili dalam daftar sukubagsa untuk groups Celebes. Barangkali satu-satunya literatur terbaik untuk mengenal sukubangsa ini yang dapat diakses saat ini adalah artikel Prof. Matullada yang terbit pada tahun 1991 dalam Jurnal Antropologi Indonesia.

Artikel ini pun tidak jauh dari kerangka pengetahuan yang pernah dikembangkan oleh Matullada. Namun itupun terbatas pada sejarah Orang Kaili pra kolonial.

Secara eksplisit Matullada menyebut wilayah persebaran Orang Kaili adalah daerah yang kita kenal saat ini Sulawesi Tengah. Pada kawasan ini hidup beberapa sub etnik yakni; To Kaili dengan sejumlah subetnik antara lain To-Palu, To Sigi, To Dolo, To Biromaru, To Kulawi, To Parigi dan lain-lain. To Pamona dengan sejumlah subetnik seperti To Mori, To Bungku dan lain-lain. To Banggai dengan beberapa subetnik yang berdekatan seperti To Saluan, To Balantak, dan lain-lain. To Bual Toli-toli dengan sejumlah subetnik yang kecil-kecil.

Wilayah yang didiami sukubangsa To Kaili adalah Donggala, To Pamona mendiami kawasan Poso, To Banggai mendiami Kepulauan Banggai, dan To Buol Toli-toli mendiami kawasan Buol Toli-toli.

Kelompok-kelompok etnik dalam subetnik Kaili dapat dikatakan telah menjadi subetnik Kaili yang diidentifikasi sesuai dengan nama tempat pemukimannya sbb:
1. To Palu (To-Ri-Palu)
2. To Biromaru
3. To Dolo (To Ri Dolo)
4. To Sigi (To-Ri Sigi)
5. To Pakuli, To Banggai, To Baluase, To Sibalaya, To Sidondo
6. To Lindu
7. To Banggakoro
8. To Tamungkolawi dan To Baku
9. To Kulawi
10. To Tawaeli (to payapi)
11. To Susu, To Balinggi, To Dolago
12. To Petimbe
13. To Rarang Gonau
14. To Parigi

Kelompok-kelompok subetnik di atas pada masa pra-kolonial (abad ke-17) pernah mendirikan kerajaan-kerajaan lokal seperti: Banawa, Sigi, Biromaru, Tawaeli, Pantoloan, Sindue, Dolok, Bangga, Tatangan, Palu, Sibalaya, dan Parigi.

Kerajaan-kerajaan lokal ini memiliki perangkat kepemimpinan adat dan kekuasaan yang “sama” dalam pinsip-prinsip dan strukturnya. Masing-masing kerajaan juga memiliki rumah adat yang disebut baruga yang merupakan lambang kewibawaan dan kekuasaan adat kerajaan.

Kepemimpinan tertinggi suatu kerajaan dipimpin oleh seorang magau yang mengelola kerajaan dalam suatu dewan yang terdiri dari: Madika Malolo (raja muda), Madika Matua (menangani urusan pemerintahan umum dan kemakmuran), Ponggawa (penyelenggara kekauman dalam negeri dan adat perkauman dalam negeri), Galara (penyelenggara pengadilan dan adat-istiadat dalam hukum kerajaan, serta selaku penuntut umum), Tadulako (penyelenggara urusan pertahanan dan kemanan), Pabicara (penyelenggara ketertiban adat dan tata kehidupan masyarakat atau lebih dekat sebagai fungsi hakim dalam peradilan), Sabandara (bendahara yang mengurusi penghasilan perdangangan terutama perdangangan dilautan.

Disamping dewan kerajaan selaku pemerintahan kerajaan, terdapat semacam dewan perwakilan rakyat yang mewakili daerah-daerah dalam lingkup kerajaan, mereka disebut kotapitunggota yang diketuai seorang Baligau.

Beberapa Hal Penting Dari Budaya Kaili

Bagi orang Kaili, masa lalu disebut memberikan pamor dalam kehidupan masa kini dan masa depan. Masa lalu yang selalu dihadirkan pada kenyataan masa kini membuat orang Kaili sangat awas terhadap kehadiran orang lain dalam lingkungannya, karena dikhawatirkan kebanggaan masa lalunya menjadi kurang dihargai.

Waktu, dipandang memiliki kualitas tertentu yang ditentukan masa lalu, maka tidak perlu ada perlombaan dalam waktu. Waktu dalam kualitas tertentu harus dapat dinikmati dengan tempo yang lamban, maka tidak perlu berpacu dengan waktu, karena manusia yang menentukan dalam menikmati sesuatu yang disajikan oleh waktu.

Hakikat Hidup, hidup adalah untuk menikmati apa yang disajikan oleh alam, termasuk yang diwarisi dari pendahulu.

Hakikat Karya, karya analog dengan hakikat hidup Orang Kaili yakni menikmati sebagaimana adanya, apabila hakikat hidup telah terpenuhi maka karya itupun telah menemukan terminalnya.

Hubungan dengan Alam Sekitar, bagi orang Kaili alam sekitar adalah buat manusia yang harus dimanfaatkan untuk kesenangan, pelestarian alam kurang mendapat tempat dalam kehidupan orang Kaili.

Hubungan Manusia dengan Sesama, orang Kaili sangat menjunjung in groups solidarity (solidaritas kalangan sendiri) sehingga penerimaan terhadap orang luar dilingkupi dengan perasaan penolakan dan kecurigaan.

Saya kira, studi sejarah Matullada di atas memberikan sumbangan pengetahuan berharga bagi kita saat ini, namun studi kontemporer sangat diperlukan untuk mengkonfirmasi pengetahuan terdahulu dan memberikan deskripsi yang lebih tajam dan jelas perihal budaya Kaili dan subetniknya yang saat ini telah banyak dilanda perubahan. Semoga ada antropolog yang mengambil tantangan ini!?.
Marahalim Siagian
(OD&NORAD Norwegian Project: Staf Kajian dan Pendampingan Orang Rimba)

Senja di Dusun Tuo, tidak seperti senja lain yang berlalu menyambut malam. Matahari memerah seperti cat dalam canva dengan awan sebagai viguranya. Aku duduk di atas perahu yang ditambatkan di Sungai Batang Hari yang hiruk oleh penyadap karet yang pulang dari ke rumah. Aku terpana pada sebaris pepohonan yang berubah warna seperti api; tidak terlalu tampak panas hanya redup dengan warna merah kekuning-kuningan, diumbuhi warna hitam yang mulai jelas di Timur. Di jemban, tepian sungai, emak-emak memukulkan pakain kotor ke sebatang kayu. Mencelupkannya kembali ke sungai Batang Hari yang coklat. Lalu menyabunnya lagi. Buih-buih sabun hanyut seperti kembang-kembang yang diserakkan di air yang tenang. Dan aku terpaku oleh efek romantis senja hari.

Senja telah benar-benar lenyap, berganti dengan suara jangkrik yang bersahut-sahutan dengan kodok di tebing sungai yang lembab. Sekelompok emak-emak (ibu-ibu) turun lagi ke sungai dengan pakai sarung, jongkok dan menyulut rokok sambil membuang hajat. Mereka membuang hajat sambil mengobrol. Aku tidak mengerti bagaimana hal seperti itu berjalan sealamiah itu. Aku tidak selera mandi, bahkan enggan mencelupkan kakiku ke air. Ada perasaan malas dan pikiran yang berbunga-bunga dan aku larut dalam lamunanku, seperti tidak ingin terganggu dan kehilangan senja yang barusan singgah di Dusun Tuo.
Marahalim Siagian
(Mahasiswa Pasca Sarjana UGM)

Di tepi jalan, kira-kira 10 meter jauhnya dari jalan, pada kebun karet. Seorang bapak sedang memotong anak karet liar. Ia membuang akar serabutnya dengan pisau dan mengurangi lagi akar tunggangnya, juga pucuknya. Begitulah ia mempersiapkan bibit pada lahannya yang satu hektar lagi. Bapak ini sendiri punya kebun karet 4 hentar, dan satu hektar yang akan ditanami lagi.

Anaknya yang paling kecil berjalan-jalan dikebun karet tersebut, sepertinya tidak digigit nyamuk dan seorang anak perempuan lagi yang juga bertelanjang bermain-main di kebun tersebut tanpa dikwatirkan orang tuannya. Ibunya yang berada tidak jauh dari mereka mengawasinya. Sesekali menegur dan memberikan asi pada anak yang paling kecil. Lamanya ia memberikan asi tidak lebih 10 menit. Kemudian anak-laki-lakinya yang usiannya kira-kira 8 tahun sudah bisa mengamati kami dan menyelidik apa yang kami lakukan.

Seorang temannya yang selisih 2-3 tahun lebih tua darinya mengajaknya main-main. Kaki anak ini satu tidak normal (kerdil) sehingga hanya salah satu kaki saja yang berfungsi. Namun ia selalu bermain diatas sepeda bahkan membonceng kawannya. Yang unik adalah kerja sama diantara keduanya. Salah satu kaki anak yang lebih besar ini menggayuhkan pedal sepeda sedangkan temannya yang lebih kecil yang duduk dibelakang, membantunya dengan memberikan satu kakinya untuk ikut mendayuh sepeda tersebut. Sepeda itu berjalan dengan anggun, sebuah kerjasama yang baik.

Tentang istri informan saya ini, badanya agak kurus, putih dan rambutnya bergelombang. Ia masih berpakaian seperti layaknya seorang perempuan rimba. Rumah yang dia gunakan juga masih dengan konstruksi seperti orang rimba. Dia hanya beberapa kali tertawa, melainkan hanya menyimak pembicaraan kami. Suatu kali dia meninggalkan kami berbincang dengan suaminya, dia membawa naknya pergi setelah memakan roti yang saya bawa. Tetapi dia kembali lagi. Dan duduk dengan membawa kembali anaknya yang paling kecil, memegang ayam ditangannya sebagai mainan.

Tentang suaminya, informan. Tingginya sekitar 158-160 cm. Tidak terlalu kurus, sedikit lebih gemuk dari
saya. Kira-kira 50 kg beratnya. Ia menyirih dan juga merokok. Giginya banyak sekali yang ompong. Hanya bagian samping atas saja yang kelihatan masih tersisa ditempatnya. Ia tidak terlalu cerdas, tetapi bisa diajak berbicara dengan pertanyaan yang sederhana dan jelas. Kadang-kadang saya gagal mendapatkan jawaban yang saya harapkan. Atau bisa saja saya tidak bisa mendapatkannya dengan cara wawancara, melainkan dengan cara pengamatan langsung.
Marahalim Siagian
(OD&NORAD Norwegian Project: Staf Kajian dan Pendampingan Orang Rimba)

Anak-anak orang rimba tidak terlalu dekat dengan orangtuannya. Pada umur menjelang remaja, anak-anak menjadi sangat berkurang ketergantungannya kepada orangtuannya. Perempuan punya kedekatan khusus dengan rumah, bahkan agak jarang keluar untuk keperluannya sehari-hari. Anak tiri atau anak ambikan atau anak asuh atau juga disebut anak buah tidak terlalu merindukan orangtua biologisnya. Mereka tidak mengalami perasaan "rindu" seperti pengalaman anak-anak desa atau anak yang tumbuh di kota.

Anak-anak seperti mereka merupakan anak yang dimiliki sebagai ganti denda yang tidak bisa dibayarkan/ dilunasi, dan konsekuensi sebagai anak ambilan adalah dia bekerja layaknya seperti "tawanan" bagi pemilikinya.

Seorang perempuan bernama Mesumo berumur 15 tahun kelihatan lebih pendek dari pertumbuhan seusiannya. Penampilannya hitam dan rambut gimbal. Dia selalu melewati tenda saya pada pagi dan sore hari dari sungai untuk air minum atau untuk keperluan rumah tangga lainnya. Bila tidak ada yang mengawasi ia selalu tegak persis di depan tenda ku seperti ingin meminta roti dengan cara sembunyi-sembunyi. Suatu sore Penyuruk menembak seekor beruk yang bergantungan di kayu ara dekat ladang sekitar aku mendirikan tenda. Beruk suka tampil di dekat kebun itu untuk mencuri umbi-umbian atau tanaman Orang Rimba. Mesumo juga bertugas untuk menjaga dan menghalau beruk atau binatang pengganngu ladang itu. Orang Rimba di Das Kejasung memang dikenal memakan beruk, lain dengan mereka yang mengaku keturunan Das Makekal yang merasa 'goli' dengan makanan tersebut. Saya menanyakan nasib beruk itu pagi harinya kepada Penyuruk, ia dengan ekspresi alamiah mengatakan bahwa Mesumo memakan beruk tersebut. Ia sendiri mengaku tidak memakannya karena ia anak dari keturunan Orang Rimba di Das Makekal. (Sungai Kejasung Besar, 13 Maret 2004)

Bukit 12 National Park: Kejasung Field Notes

Marahalim Siagian
(OD & NORAD Norwegian Project: Staf Kajian dan Pendampingan Orang Rimba)

Lubuk Regas, 10 Maret 2004.
Tadi malam tersesat setelah berjalan sangat capek. Berangkat dari Dusun Tuo jam 9 pagi, sampai di Sungai Benuang sudah jam 3 sore. Lapar dan makan nasi sisa yang diberikan Bang Saipul dari Dusun Tuo. Nasi itu hanya aku yang makan. Porterku merasa tidak lapar. ia kelihatan sangat capek dan kepanasan. Ia membawa beban kurang lebih 35 Kg dengan jalan kaki kira-kira 16 Km.

Pada jam 6 sore kami sudah masuk ke daerah Pematang Limau. Jalanan setapak di dalam hutan sudah digenangi luapan air sungai kejasung. Karena hari sudah sore dan agak gelap, orientasi ruang sudah buyar. Kami berjalan dengan menaikkan celana sampai ke pangkal paha sekaligus was-was dengan terkaman ular air yang mungkin tertarik dengan sinar senter kami. Akhirnya kami melewatijalan yang diluapi air itu dan sedikit gembira karena sudah ketemu ladang Orang Rimba.

Kegembiraan kami segera pupus beberapa menit kemudian karena ladang itu tak ditunggui seorang manusia pun, kosong sepi. Aku coba 'bersesalung'(berteriak dengan cara orang rimba) tetapi suaraku tidak ada yang mendengar. Pernah sekali terdengarjawaban dari kejauhan tetapi kemudian hilang, aku frustrasi karenannya.

Akhirnya ku putuskan untuk bermalam di tepi ladang Orang Rimba tersebut walaupun kami tidak tahu siapa pemilik ladang tersebut. Bisa saja kami kena denda dengan perbuatan itu jika ada barang atau tanaman yang hilang dari kebun, kendatipun kami tidak menggambilnya. Kami berkeliling untuk mencari tepian sungai yang agak datar sekaligus dekat dengar air agar bisa memasak. Waktu kami melewati tepi ladang ternyata paroh ladang sudah ditinggalkan, namun dibagian lain masih kami temukan rumah yang sepertinya masih dihuni.

Kami berhenti pada sepetak tanah yang bersemak. Kami berdua mencabut golok dan membersihkan rerumputan dan semak duri agar bisa mendirikan tenda. Sekarang kami bisa mendirikan tenda dan meletakkan barang-barang bawaan kami.

Nasi sisa dari Desa Batu Sawar masih ada, sudah lebih berbau lagi karena dibungkus dalam plastik. Nasi basi seperti itu sayang untuk dibuag untuk orang yang kelaparan seperti kami, lagipula kami belum akan makan nasi setidaknya sampai besok pagi karena api belum bisa kami hidupkan untuk memasak.
Aku hanya berharap tidak tersesat lebih jauh. Aku harus menenangkan porterku, memasak dengan kondisi sangat buruk, hujan mulai turun, air sungai tidak terlalu jauh tetapi turun ke tebing sungai yang licin, sehingga setiap ambil air kaki penuh lumpur dan tak bisa masuk tenda.

Porterku juga tidak terlalu pembersih, tampaknya aku tidak bisa menuntut banyak dari dia malam ini. Syukur-syukur dia tidak minta pulang karena stres. Akhirnya air panas pertama mendidih, sedikit senang karena bisa buat teh. Sebelumnya entah sudah berapa kali meminum air sungai yang mentah dan aku khawatir kombinasi stres, capek dan makanan yang tak terartur dan tak bergizi dengan minuman yang tak matang akan merongrong staminaku.

Hujan semakin deras, dalam hujan rintik pun sudah sangat kepayahan menghidupkan dan memelihara api agar tetap hidup. Kami terpaksa memasukkan sisa kayu bakar ke tenda dengan kondisi bercampur gatal, belum mandi, tanpa lampu penerang karena bola senter mati. Akhirnya kami merebahkan diri, namun belum bisa pejamkan mata karena masih cemas. Agas menggigit sekujur tubuh, aku gerah sekali. Porterku kentut dalam tenda, bau tapi tidak ada pilihan selain tetap berada di dalam tenda. Dengat sangat tersiksa akhirnya tengah malam ku gosokkan Stop-X pada sekujur tubuhku dan sedikit hangat dibagian telapak kaki, namun agar kurang ajar itu terus mencari-cari tempat untuk menggingit, pada kuping dan dekat mataku, teruk...

Pagi, setelah bersusah payah menghidupkan api akhirnya berhasil menak nasi tetapi berasnya banyak tatal/sekam-nya, beras itu aku beli di Dusun Tuo. Akhirnya aku makan juga dan menutupnya dengan segelas capucino sachet.

Pagi hari setelah sedikit tenang, matahari mulai meninggi, kami melacak Orang Rimba yang berada di sekitar hutan tersebut, setengah jam kemudian kami bertemu dengan Selisi dan aku meminta dia ikut ke tenda. Setelah memberinya makan, ia bersedia bersedia mengantarkan kami ke Lubuk Rengas. Aku sudah tenang kembali. Porteku bersemangat karena membayangkan akan bertemu dengan Abul, Hari dan teman-teman satu desanya yang ikut dengan para antropolog yang mendahului kami 2 hari sebelumnya.

Dipinggir sungai kami bertemu lagi dengan seorang anak, dan dia memanggil Penyuruk. Penyuruk adalah orang yang sudah sangat biasa dengan kami, karena ia salah satu murid baca-tulis hitung KKI-Warsi. Bebera menit kemudia kami bertemu lagi dengan teman-teman lainnya. Sangat gembira. Aku merokok dan tidur dengan sangat terkendali. Beberapa jam kemudian, aku terpikir untuk mandi, mandi lama sekali, menggosok tubuhku yang bau dan juga rambutku yang gatal karena panjang, gosok gigi dan bisa berpikir untuk buat kegiatan 2 minggu di hutan, aku makan siang dan menggoreskan penaku pada buku diary.

MUFUT: Borneo Filed Notes

Marahalim Siagian
(Mahasiswa Pascasarjana UGM)
Penelitian ini disponsori oleh Cipta Lestari Indonesia

Mufut adalah satu kebiasaan tahunan yang khas dari Sukubangsa Dayak Punan di Kalimantan Timur, ditandai dengan perginya seluruh anggota keluarga meninggalkan kampung untuk masuk ke hutan mencari buah-buahan. Lamanya bisa 2-3 minggu. Para informan mengemukakan tradisi ini berhubungan dengan rekreasi dan juga berfunsi ganda yakni menghindari kelaparan dan menjaga keseimbangan hubungan sosial diantara kerabat-kerabat terdekat. Kesan saya, tradisi ini telah berubah makna sedemikian rupa sehingga menceritakan tradisi ini mengandung makna kekolotan. Orang Dayak Punan yang masih melakukan mufut dianggap masih tertinggal.

Pada beberapa grup pemukiman yang saya kunjugi, yang letaknya lebih terisolir, kebiasaan ini masih terus dilakukan dengan beberapa modifikasi. Dengan alasan keamanan kampung, maka hanya beberapa orangtua, khususnya laki-laki yang turut serta ke hutan, pada beberapa kasus ada juga beberapa pasang keluarga bersama kelompok mufut. Di Ranau, penduduk mengemukakan bahwa mereka sudah menanam buah-buahan, oleh sebab itu mereka tidak lagi melakukan mufut. Tetapi pemukiman tetangga mereka Long Tami dan sebagian Long Titi masih melakukan mufut.

Kebiasaan ini sering dikombinasikan juga dengan aktivitas berburu, namun tidak semua peserta mufut menggambil bagian didalamnnya. Para perempuan dengan beberapa laki-laki pergi mendahului mereka dengan janji bertemu di tempat tertentu, dimana hasil buruan kelak didistribusikan.

Borneo Field Notes: Bavui Nyatung


Marahalim Siagian
(Mahasiswa Pascasarjana UGM)
Penelitian ini disponsori Cipta Lestari Indonesia

Di Kecamatan Malinau Selatan, Ibukotannya Loreh, ada dua desa yang di huni Dayak Punan: Desa Plancau dan Desa Bila Bekayuk. Saya menginap di Desa Plancau, rumah seorang ketua suku besar bernama Ipu Kre. Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud ke datangan saya, saya diterima dengan hangat. Surat pengantar dari Lembaga Adat sepertinya dapat menjadi jimat dalam perjalanan saya menyusuri pemukiman-pemukiman Dayak Punan di interior Kalimantan Timur (Das Tubu dan Das Malinau).

Makan malam saya disuguhi daging bavui (babi), daginnya sangat banyak dan tak mungkin bisa dihabiskan oleh keluarga itu. Pak Ipu Kre bercerita, bahwa bulan ini ada migrasi babi dari barat ke timur melintasi Sungai Malinau. Migrasi babi ini biasanya terjadi bila musim buah-buahan hutan. Kelompok babi itu biasanya menyeberang dengan cara berenang (saya baru tahu bahwa babi adalah perenang yang hebat) dalam bahasa mereka disebut Bavui Nyatung. Sungai Malinau lebarnya kira-kira ratusan meter namun kawanan babi yang jumlahnya mencapai 50 ekor bisa sampai di tebing seberang sungai. Pada saat melintas atau pada saat di tebing sungai itulah biasanya kawanan babi itu dibantai menggunakan bujak (kujur atau tombak).

Kalau daging babi surplus, lemaknya dimasak untuk dijadikan minyak makan (minyak sayur), minyak babi itu mereka sebut lanyih. Kalau lanyih banyak tidak perlu membeli minyak makan. Pak Ipu Kre sendiri masih memiliki saving minyak babi 20 kg yang disimpan dalam galon-galon air. Dengan saving sebanyak itu, kebutuhan rumah tangga ini dapat terpenuhi untum masa 2-3 bulan.

Selain bavui nyatung pada musim buah ada juga migrasi kelelawar besar (mowak) yang juga mengincar buah-buahan hutan. Mowak juga bermigrasi dalam jumlah yang banyak dan dagingnya di sukai oleh orang Dayak Punan. Cara mereka membunuh mowak menggunakan sumpit atau senapan angin pada malam hari.

Punan Riset: Catatan Lapangan


Marahalim Siagian
(Mahasiswa Pasca Sarjana UGM)
Penelitian ini disponsori oleh Cipta Lestari Indonesia

Ranau, 20 November 2005
Kemarin, setelah habis digasak pacet, akhirnya kami sampai di Mirau. Lelah setelah berjalan mulai dari jam 8 pagi dan tiba jam 2 siang. Pertama kami disambut dirumah penduduk yang sangat kotor tetapi sangat ramah, kesan pertama kami langsung dimintai kopi dan gula, lalu seorang ibu tua dengan suara keras meminta obat paramex dan disusul oleh orang lain hingga malam tiba ada lagi yang minta paramex.

Kemudian beberapa penduduk terutama orang tua meminta celana, baju, senter, dan lain-lain. Kalau dikabulkan saya bias pulang telanjang. Tetapi masyarakat silih berganti memberikan makanan dengan berbagai variasi. Menurut penduduk, mereka sedang dalam masa kelaparan. Hal ini bisa saja betul karena makanan yang disajikan cukup beragam untuk membuat variasi rasa.
Perjalanan Mirau ke Avang melewati tiga gunung; Angan (tinggi), Kabong (tinggi sekali), dan Telou (sangat tinggi).

Lemuncung, 21 November 2005
Saya di lepas oleh penduduk Mirau seperti memberangkatkan anak mereka. Rasanya haru dan merasa berhutang budi atas kebaikan mereka dan mungkin juga karena saya menunjukkan surat pengantar dari Lembaga Adat Punan.

Saya juga diantar oleh guide yang merangkap porter terbaik, ia punya reputasi berjalan jauh yang dikagumi penduduk desa. Dari Mirau ke Ranau dia hanya perlu waktu satu hari perjalanan yang kami tempuh dengan susah payah selama dua hari dan capek yang sangat, lagi pula kami hanya sampai di Long Avang (pemukiman Punan sebelum Ranau).

Long Penai, 25 November 2005
Dua hari dalam perjalanan yang melelahkan dari Long Tami dengan rombongan mufut orang Punan, keluarga Awang Ipu bersama keponankannya, dan seorang perempuan Punan yang putih dan cantik. Ia selalu setia menyediakan makanan di dapur.

Tiba dipuncak bukit kami menginap di jalan, kami berbagi tugas untuk menyiapkan tempat bermalam dan makanan. Waktu semua pekerjaan selesai, kami duduk menikmati hidangan kopi manis. Tiba-tiba lantai kami ambruk, grubarak…, kami diam di tempat masing-masing, lalu saling menatap dan tertawa.
Tetapi yang membuat kami khawatir adalah seorang Ibu dengan bayi 4 bulan yang berada diujung lantai camp. Syukur ibu itu dan bayinya tidak mengalami apa-apa, dan kami kembali gotong royong untuk memperbaiki tempat menginap dan lantai camp yang sudah ambruk serta menurunkan tenda kembali supaya angin tidak menghantam tenda.

Malam hari, sudah sangat larut, hujan turun dan kami sudah lama tidur sebelum menyadari sebagian dari tenda kami kena air. Yang paling parah adalah tendaku yang agak terpisah dengan teman yang lain. Saya telah dibuatkan tempat tidur dengan bahan karung plastik yang masing-masing ujungnya diberi dua buah kayu penyangga. Tetapi sangat sempit namun cukup lumayan untuk kualitas tidur di hutan.
Kaki dan kepalaku basah dan rasanya sangat dingin diatas gunung yang dikurung rimba raya dengan lembah-lembah yang curam. Lalu aku mengecilkan tubuhku dengan “melipatkannya” walau kakiku tidak nyaman dengan kayu penyangga di satu sisinya. Saya mencoba menenangkan diri, menerima ketidaknyamanan itu dan baru bangun jam 7 pagi. Bagun pagi, hujan masih turun karenanya kami baru bisa melanjutkan perjalanan setelah jam 11 siang dan tiba di Long Penai pada jam 4 sore.

Long Penai, 26 November 2005
Sore kemarin, Avang Ipu dan Pak Pilung berburu babi dengan membawa beberapa anjing. Babi putih besar beratnya kira-kira 60 Kg di bagi tiga; untuk tuan rumah separoh, untuk Avang separoh dan paha sebelah untuk dibawa Adi porter saya ke Respen. Pesta makan babi pun berlansung. Kepala yang dipanggang di luar rumah hingga malam lalu menyayatnya sedikit-demi sedikit secara perlahan-lahan, harumnya enak. Saya menikmati separoh teliga kirinya dan makan dengan sop Iga yang lezat. Dengan makanan inau (sagu) yang lembut ditelan dan bersahabat dengan gigiku yang sedang sakit (sekarang sudah sembuh). JIka babi seberat 60 Kg didapat dua keluarga, paling yang bisa dimakan sebanyak 2 Kg dalam sekali makan. Dengan demikian perlu dua minggu untuk menghabiskan 1 babi berukuran 60 Kg.
Lemaknya diambil untuk minyak sayur yang disebut lanyih, bisa juga dimakan dengan campuran daun ubi. Jika babi tidak sedang ada dalam dua sampai tiga hari ada makanan yang bisa dimakan dari sekitar lading yakni sagu atau ubi.

Surplus makanan memberikan manfaat juga untuk ternak anjing yang dipelihara cukup banyak. Kadang-kadang anjing dipelihara lebih dari dua dalam satu rumah tangga. Dan anjing tidak diberi makan secara khusus sehingga menggangu waktu makan keluarga dan membuat kompetisi diantara para anjing yang kadang menimbulkan kekacauan pada saat makan.

Long Penai, 26 November 2005
Menunggu perahu dari Long Pada untuk mengantarkan kami kembali ke Malinau, sudah dua hari kendaraan air ketinting tidak ada yang lewat. Aduh….
Waktuku untuk balik ke Jogja lewat. Mestinya aku sudah di Malinau pada hari ini dan aku harusnya sudah pula ke Pulau Sapi untuk melihat perkembanga kecamatan yang menjadi kunci bagi perdagangan di Daerah Aliran Sungai Tubu. Hal ini sangat penting untuk membuat suatu perbandingan antara Das Malinau dengan Das Tubu sebagai dua Das utama penyebaran suku Punan di Kalimantan Timur.

27 November 2005
Pulang dari Long Penai dengan Longboat 40 PK dengan operator bernama Henry dan dibantu adiknya, saya bayar Rp. 100.000 untuk dua orang penumpang ditambah persekot Rp. 100.000,- untuk akomodasi dan jasa guide kepada Awang Ipu asal Long Penai dengan kedok “uang Natal buat anaknya”. Saya terbantu dengan adanya beliau yang mengusahakan perahu dan tempat menginap dirumahnya selama dua hari dan jasa baik karena bisa menumpang di rumah Pak Bilung yang beristrikan orang Cina.

Transmigrasi di Jambi: Tanah Kolonisatie Loh Djinawi


Marahalim Siagian, S.Sos, M.Hum
(Bagian dari tesis* di Pascasarjana Universitas Gadjah Mada)


“Tanah Kolonisatie loh djinawi”, itulah slogan yang menandai proyek pemindahan penduduk dari Pulau Jawa ke tanah sabrang. Pada awal abad ke-20, perhatian tentang kondisi petani tanpa lahan di Pulau Jawa dan Madura telah disorot dengan tajam oleh van Deventer dan atas usulnya, pemerintah Hindia Belanda di desak untuk melakukan perbaikan nasib penduduk Pulau Jawa.

Instruksi dari Nederland kepada Heyting (residen Sukabumi waktu itu) datang pada bulan September 1902, isinya agar dipelajari sedalam-dalamnya perihal pemindahan penduduk dari Pulau Jawa ke tanah sabrang (pulau-pulau di luat Jawa-Madura). Pulau-pulau di luar pulau Jawa dipandang wilayah tepat untuk mendistribusikan “petani tanpa lahan” ke pulau yang “banyak lahan sedikit petani” (Patrice Levang, 2003: 45). Tiga tahun setelah instruksi dari Nederland (1902) diterima Heyting, sebanyak 155 kelurga mulai dipindahkan ke Gedong Tataan, Lampung (Hereen, 1979: 10). Sejak itu pemindahan penduduk dari Jawa dan Madura terus ditingkatkan.

Secara resmi, pemerintah Hindia Belanda menyebut proyek ini kolonisatie (kolonisasi). Pada tahun 1905-1941, pemerintah Hindia Belanda telah berhasil memindahkan penduduk sebanyak 189.938 jiwa atau rata-rata 5.133 per tahun. Setelah kemerdekaan, proyek kolonisasasi dengan nama baru transmigrasi, mendapat prioritas pemerintah. Awal masa orde lama, rata-rata peserta transmigrasi yang berangkat sebanyak 24.021 jiwa per tahun dan pada tahun 1973/1974 menjadi 97.171 jiwa per tahun. Repelita I (rencana pembangunan lima tahun) Orde Baru, merealisasi proyek transmigrasi menjadi 180.749 jiwa (lampiran Pidato Presiden, 1974 dalam Hereen, 1979:x).

Dengan pertambahan penduduk Pulau Jawa-Madura sebesar 1,5 juta per tahun, jalan keluar dari lonjakan pertambahan penduduk ditempuh dengan melipatgandakan jumlah peserta transmigrasi. Disamping itu pemerintah terus berkampanye untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk dengan program KB (keluarga berencana) secara nasional.

Integrasi sosial-budaya para transmigran ini dengan penduduk setempat, konflik sumberdaya alam, dan dan perubahan komposisi penduduk menjadi persoalan baru. Lampung yang dahulu dipilih H.G Heyting sebagai tujuan kolonisasi telah melejitkan pertambahan penduduk.

Sensus tahun 1971 di Lampung menunjukkan jumlah penduduk telah menjadi 2,8 juta dan meningkat kemudian menjadi 3,6 juta pada Mei 1976 (Masri Singarimbun dalam Hereen, 1979:xii). Mayoritas dari jumlah itu (70 %) adalah pendatang dan penduduk setempat menjadi penduduk minoritas. Konsekuensi selanjutnya melahirkan persoalan tanah pertanian, ekologi, dan masalah pembangunan daerah pada umumnya.

Pada proyek-proyek transmigrasi tertentu seperti yang dikutip Singarimbun dalam KOMPAS, 11 Juli 1976, telah melahirkan konflik sosial antara transmigran dengan penduduk setempat, sampai pada bentuk pertumpahan darah. Fenomena konflik sosial seperti yang terjadi di Lampung ternyata juga ditemukan di Jambi.

* Orang Rimba Dalam dan Orang Rimba Luar: Studi Dampak Deforestasi Pada Mode Produksi, Mode Reproduksi dan Hubungan Suku Bangsa di Jambi, 2005. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada

Konsumerisme Kaum Muda Orang Rimba


Oleh: Marahalim Siagian, S.Sos
(OD& NORAD Norwegian Project: Staff Kajian dan Pendampingan Orang Rimba)

Apa yang mereka dengar, apa yang mereka baca, apa yang mereka lihat, tonton dan saksikan, serta apa yang mereka rasakan akan mempengaruhi jati diri dan orientasi kaum muda rimba di masa depan. Salah satu yang jelas tampak di depan mata, perubahan yang terjadi itu adalah munculnya nilai-nilai konsumerisme (seperti pembelian televisi, VCD player, motor, handphone, dll) dimana lambat laun dapat menghabiskan sumber daya yang mereka miliki sendiri. Disisi lain nilai-nilai yang ada, serta kontrol dari orang tua, rerayo dan penghulu di rimba semakin lemah terhadap mereka. Selain itu banyak juga pengaruh yang meracuni kaum muda rimba untuk berperilaku konsumerisme dan tidak peduli lagi dengan nilai-nilai kearifan adat budaya Rimba yang mengedepankan keseimbangan dan keharmonian alam yang menjadi tempat tinggal mereka selama ini. Dan ladang-ladang karet yang sesungguhnya bisa dijadikan penopang ekonomi Orang Rimba di masa depan kini hilang seperti deru suara dan asap yang keluar dari knalpot motor anak rimba itu.
Bagaimanakah nasib ladang-ladang karet yang lain? Persolalan ini kemudian menjadi satu diskursus di team sesama pendamping. Kami pun sampai pada suatu kata akhir. "Kita akan menyelamatkan lahan-lahan ini, seperti harapan Orang Rimba umumnya, dengan mewadahinya dalam lembaga ekonomi atau lembaga yang akan menjadi institusi yang memandirikan Orang Rimba". Caranya dengan membeli ladang karet tersebut dan menjadikannya sebagai common proverty (harta milik bersama) yang nantinya dikelola dan dinikmati oleh Orang Rimba sendiri.


Sembari berharap, lembaga ini juga dapat melahirkan satu mekanisme yang disadari dan ditaati bersama Orang Rimba agar kebun karet yang menjadi sumber daya ekonomi mereka di masa depan tidak lagi diperjualbelikan untuk tujuan konsumerisme semata.


Demikian halnya dengan lahan-lahan di dalam kawasan taman nasional yang ingin diperjualbelikan, tentunya pihak yang berwewenang, seperti BKSDA misalnya diharapkan dapat menindak tegas mereka secara hukum walaupun mereka Orang Rimba.

Oleh: Marahalim Siagian, S.Sos
(OD & NORAD Norwegian Project: Staff Kajian dan Pendampingan Orang Rimba)

Kemampuan subsistensi (cara produksi yang hanya mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari) yang dimiliki Orang Rimba jarang ditemukan pada suku-suku lain di dunia. Kekhasannya terletak pada kemampuan Orang Rimba melepaskan diri dari ekonomi berladang dengan dukungan perangkat pengetahuan yang mereka punyai.
Pengetahuan Orang Rimba akan ruang (baca: sub ekosistem) sangatlah kaya. Mereka menggunakan (pengetahuan) itu sebagai dasar tindakan pemanfaatan SDA yang terkandung di dalamnya, didukung kerja sama dengan kelompok atau aliansi antar kelompok. Kerja sama ini dibangun berdasarkan hubungan tradisional, seperti perkawinan dan kekerabatan. Pemanfaatan ruang ini dikombinasikan dengan kemampuan membaca musim dan energi alam yang memudahkan Orang Rimba untuk menentukan tindakan pengeksploitasian ruang. Pengetahuan ruang ini terpetakan secara sistematis dalam sistem kognitif Orang Rimba.

Definisi ruang ekologis Orang Rimba yang paling menonjol yaitu sungai. Fungsi tradisional sungai ini untuk sarana transportasi, daerah pemanfaatan SDA, serta dasar orientasi di dalam hutan oleh Orang Rimba. Sungai juga dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam pembukaan ladang. Sungai menjadi patokan penentuan letak dan posisi ladang, posisi kelompok, batas adat Orang Rimba dengan orang desa, juga untuk menunjukkan kekhasan kelompok Orang Rimba. Misalnya Orang Rimba yang berdiam di Daerah Aliran Sungai (DAS) Air Hitam, menyebut dirinya kelompok Orang Rimba Air Hitam, ada Orang Rimba Bernai (karena dekat Sungai Bernai), dan Orang Rimba Kejasung (berdiam dekat Sungai Kejasung). Sungai yang zonanya datar dijadikan pusat sumber makanan.

Demikian pula dengan ekosistem darat, diklasifikasikan berdasarkan berbagai fungsi pemanfaatannya. Misalnya bukit dikonsepsikan banyak dihuni setan/hantu. Konsep ruang ini mengindikasikan bahwa bukit tidak bagus bagi Orang Rimba, baik untuk berladang maupun mencari buruan. Ditambah anggapan tipe ruang ini miskin kehadiran binatang dan diversitas tumbuhan yang bisa dimanfaatkan.

Sebagian jenis ruang lainnya dikaitkan Orang Rimba dengan tempat ritual mereka, misalnya tano pusoron (tempat mayat), tano peranaon (tempat menunggu kelahiran), genah sentubung/sungori budak (tempat tumbuhnya pohon sungori dan sentubung yaitu dua jenis pohon rimba yang melambangkan jiwa dan raga bayi). Di daerah-daerah ini tidak dibolehkan membuka hutan. Beberapa jenis buah yang terdapat di sekitarnya dilindungi secara hukum (adat).
Gambaran pemanfaatan ruang Orang Rimba berdasarkan dua kategori ekologis (sungai dan darat) secara lebih rinci sebagai berikut :

Ekosistem sungai : Deyok (bibir sungai yang diendapi lumpur), sumber daya yang dimanfaatkan yaitu berbagai jenis amfibi. Pulo (endapan pasir dan tanah yang membentuk daratan kecil), terdapat berbagai jenis katak. Siding (lobang yang menjorok pada batang sungai), hidup beberapa ikan khas seperti, baung, lele dan gabus. Lubuk (dasar sungai yang dalam, biasanya di bagian tepi sungai), sumber daya yang dimanfaatkan yaitu beragam jenis ikan dan jenis kura-kura (tryonyx cartilsgineus), biuku, serta berang-berang. Rongga (lobang pada batang sungai yang ditutupi akar kayu), dapat dimanfaatkan jenis amfibi seperti sebodo. Rantau
(lantai sungai yang landai), terdapat kepiting, udang, cinceher, dan ikan ukuran kecil seperti, suluang, kepiul, dan lainnya. Napol (lantai sungai dari lumpur yang membatu), sumber dayanya ikan baung dan ikan telan. Lebung (mirip rawa namun lebih kecil) terdapat katak, sebodo, ikan sepat, dan membiyang. Sususpon/inumon (kolam yang airnya asin), tempat binatang besar untuk minum seperti, tapir, beruang, dan kijang. Tumbang (genangan air yang luasnya mirip kolam), sumber daya yang bisa dimanfaatkan yaitu ikan palau, gabus, sradang, ikan kebarau, dan berbagai jenis ikan yang bisa hidup di air tergenang. Sako (anak sungai yang lebih kecil), terdapat ikan-ikan kecil seperti, suluang dan pancit. Tanjung (belokan sungai), tempat yang disukai bintang jenis napu. Lumpur ( endapan daun yang membusuk di pinggir sungai), terdapat kerang, tengkuyung, dan berbagai jenis keong.

Ekosistem darat : Kasong (kasang/pematang), sumber daya yang dimanfaatkan adalah kancil, babi, bentorung, umbi benor, umbi kona, rotan manau, dan damar. Kubang (tempat beberapa jenis hewan ‘mandi’), sumber daya yang dimanfaatkan rusa dan babi yang menyukai tempat ini untuk berkubang. Bukit (bukit), tempat mengambil getah balam, pasak bumi, selusuh, serta tempat buruan jenis tupai dan tikus. Tobing (tebing), sumber daya yang dimanfaatkan jenis tikus dan posou. Lamon (permukaan tanah yang ‘dibesihkan’ burung kuau), lokasi tersebut sering digunakan untuk menjerat burung kuau. Tenggelou (semak duri), sumber daya yang dimanfaatkan adalah berbagai jenis rotan, seperti rotan temiyang, soni, siu, dan rotan tetebu. Payaou (rawa), sumber daya yang dimanfaatkan yaitu rotan rumbai. Rana (renah), yangdimanfaatkan ialah umbian, seperti benor, gadung, jehong, tekusut, slemak, binatang kancil, musang, biawak, babi, dan pangka.

Formasi Kelompok
Keberhasilan subsistensi Orang Rimba sangat ditentukan oleh dukungan kelompok sekitarnya. Dukungan ini tidak saja menyangkut distribusi ubi, lauk, dan berbagai pemberian lain untuk memelihara hubungan antar mereka. Melainkan hubungan ini juga dipertahankan untuk tujuan politik kelompok. Misalnya di suatu masa salah satu kelompok Orang Rimba akan terlihat sangat mesra dengan kelompok lain, namun di waktu berikutnya juga bisa saling menghindar atau menjelek-jelekan.

Anggota satu kelompok Orang Rimba biasanya 4-10 rumah tangga. Jarang sekali satu kelompok padat yang jumlahnya sampai 30 rumah tangga dan juga jarangditemukan satu rumah tangga Orang Rimba yang soliter. Kelompok yang berjumlah 4-10 rumah tangga bisa lebih mandiri mengelola SDA. Sebaliknya kelompok yang lebih besar akan kesulitan dalam pembagian hasil buruan. Pengumpulan hasil hutan akhirnya mempercepat SDA sekitar pemukimannya habis.
Demikian juga satu rumah tangga soliter (sendiri/terpisah dari kelompok), sangat sulit mengelola rumah tangganya tanpa dukungan kelompok sekitar. Kesulitan ini menyangkut penggunaan tenaga kerja, seperti kebutuhan tenaga kerja dalam jumlah yang besar untuk mengikuti semua proses pembukaan ladang. Hingga keberadaan tenaga kerja Orang Rimba ini akan sangat tinggi nilainya.

Dasar tradisional untuk memelihara hubungan antar kelompok adalah kewajiban dari status yang disandang. Misalnya orang semendo (pemuda rimba yang tengah berbakti ke orang tua perempuan rimba demi menyakinkan si orang tua agar diizinkan menikahi anaknya). Bujang rimba harus membuktikan ke pihak perempuan (mertua dan waris perempuan) ketangguhan dan ketekunannya mencari penghidupan seperti berburu, mengambil madu, membuka ladang, mengambil rotan, dan lainnya. Dia juga harus melayani pimpinan kelompok si wanita meskipun si pimpinan bukan dari kelompok yang sama dengannya.


Berkurangnya satu orang anggota kelompok dianggap satu kerugian. Cara menghindari kerugian seperti ini biasanya dengan mencari calon istri dari kelompok terdekat. Cara ini akan sekaligus menjamin suatu dukungan kerja sama di masa depan. Kerja sama antar kelompok biasanya menyangkut pengerahan tenaga kerja untuk pekerjaan-pekerjaan besar, seperti membuka ladang, ritual, dan lainnya. Kerja sama juga dibutuhkan saat salah satu kelompok melangun (berpindah tempat tinggal karena ditimpa musibah kematian). Kelompok yang melangun bisa saja akan sangat tergantung pada kebaikan hati kelompok lainnya.


Siklus Subsistensi Orang Rimba
Siklus umum subsistensi Orang Rimba dimulai dari ekonomi berladang. Sistem perladangan mereka berbeda dengan masyarakat desa terutama dalam pembuatan keputusan perpindahan ladang. Di mana perpindahan ladang Orang Rimba sering dipengaruhi oleh musibah penyakit dan kematian. Perpindahan ini membawa semua barang rumah tangga dan tempat tinggal sebelumnya tidak akan ditempati lagi.

Berladang dilakukan 1-2 tahun sekali. Perladangan ini memiliki cara khas dalam mengefisienkan waktu pemanenan. Caranya dengan menyelaraskan berbagai jenis tanaman yang interval waktu panennya bertahap, dari yang terpendek hingga jangka panjang. Cara ini untuk mendukung pemenuhan kebutuhan subsistensi.
Pada tahap paling awal, ladang diisi beberapa jenis tanaman umbi-umbian yang masa panennya lebih cepat. Padi jarang ditanam karena resiko kegagalannya tinggi. Ladang biasanya ditinggalkan setelah seluruhnya tereksploitasi. Orang Rimba akan terbantu dengan datangnya musim petahunon (musim buah-buahan) yang memberikan kelimpahan madu pada tahap awal dan buah pada tahap akhir. Kualitas madu yang dihasilkan bagus. Selain dikonsumsi rumah tangga Orang Rimba untuk jangka pendek, madu juga dijual ke desa. Perdagangan madu ini sudah lama berlangsung antara Orang Rimba dengan penduduk desa. Sementara hasil buah-buahan dapat diolah dalam bentuk makanan yang tahan (disimpan) lama. Dengan kata lain musim petahunon menyediakan suplai makanan hingga tiga bulan untuk Orang Rimba.
Siklus musim petahunon ini bersamaan dengan siklus perkembangbiakan beberapa jenis binatang, salah satunya siklus burung besar. Burung-burung besar menggunakan lubang-lubang kayu tua untuk bertelur. Biasanya jenis burung ini bisa dikonsumsi (dibunuh) Orang Rimba dengan menemukan sarangnya, baik siang maupun malam hari. Beberapa burung besar yang dimaksud, yaitu kuneng paru, henggang, kongkoi, selelayak, pusoron, burung hubanon, dan burung nyeyarok.

Siklus ini berakhir pada musim kemarau, di mana air sungai surut bahkan hampir kering. Ikan akan sangat mudah didapat pada musim ini. Kegiatan mencari ikan dengan cara ngakop (menangkap langsung dengan tangan) pun dimulai.

Orang Rimba: Penanda dan Pependa


Oleh: Marahalim Siagian
(OD & NORAD Norwegian Project: Staff Kajian dan Pendampingan Orang Rimba).




Ada beberapa cara khas Orang Rimba mengatur pemanfaatan sumber daya hutan, terutama buahbuahan. Orang luar bisa saja berpikir buah-buahan yang banyak tumbuh di rimba itu tidak bertuan/berpemilik, padahal sebaliknya.


Ada dua klasifikasi hak pemanfaatan buah-buahan ini. Pertama, Orang Rimba menyebutnya dengan buah cucuk tanom yaitu buah yang sengaja ditanam. Biasanya buah cucuk tanom ini berada di ladang yang sudah menjadi belukar. Buah ini tentu jelas siapa pemiliknya. Kedua, buah laloton yaitu buahbuahan yang tumbuh alami di hutan, siapa saja berhak mengambilnya. Kecuali jika ditemukan penanda simbolik pada batang buah atau sekitarnya yang menunjukan buah tersebut sudah ada pemiliknya.




Penanda ini bisa berupa seleligi, maksudnya ranting kayu yang diarahkan ke batang buah, dengan posisi kira-kira 45 derajat. Bisa juga dengan gegelagon yaitu batang buah yang digelang akar tumbuhan, bisa pula dengan melukai batang buah secara bertingkat yang disebut dengan tukak tangga. Di samping itu, cara umum yang dilakukan adalah dengan membersihkan batang buah. Cara terakhir ini juga dipakai masyarakat Melayu.


Aturan pengambilan buah-buahan atas dua jenis klasifikasi ini tentunya juga menyepakati sanksi bagi .pencuri.-nya. Namun sanksi ini lebih ditujukan pada .pencurian. terhadap buah laloton. Ada keunikan antara sanksi ini dengan penanda yang dihadirkan pada buah laloton. Umumnya tanda-tanda dan sanksi tersebut dikaitkan dengan seksualitas. Misalnya Gegelangon yang diambil dari analogi gelang gadis, simbol batang buah yang digelangi. Jika buah batangnya diambil sama artinya dengan mengambil gelang gadis (Orang Rimba) si pemilik buah tersebut. Hal ini juga berarti pelanggangaran terhadap norma kesusilaan dan bisa dihukum secara sah. Besar-kecilnya hukuman ditentukan oleh seberapa bernilainya batang buah tersebut bagi Orang Rimba.




Demikian juga dengan tukak tangga, tanda ini beranalogi pada rumah tangga pemilik buah liar tadi. Jika seseorang yang menemukan luka bertingkat tiga pada batang buah dan mengambil buahnya tanpa izin, maka dianggap telah melakukan pelanggaran.


Pelanggaran ini dikaitkan dengan aturan telah merebut istri/suami/anak atau mengganggu rumah tangga pemilik buah tersebut.  Dendanya lebih besar kalau batang buah yang di-tukaktangga-i jenis durian, buah tampui, dan buah lain yang hasilnya banyak.



Namun Orang Rimba juga tidak dibenarkan menandai seluruh buah yang tumbuh liar di hutan apalagi demi tujuan monopoli. Bahkan beberapa buah tersebut di lain waktu bisa diambil orang lain, karena Orang Rimba punya tradisi berpindah tempat, umumnya disebabkan sakit atau musibah kematian, melangun dalam istilah Orang Rimba.


Namun ada juga simbol seks yang pemakaiannya oleh Orang Rimba diistilahkan dengan pependa. Pependa merupakan simbol seksualitas (penis/vagina) yang dituliskan pada batang pohon, tanah, dan lainnya. Ada pun simbol seksualitas tersebut di mata Orang Rimba digambarkan sebagai berikut:





Simbol seksualitas perempuan "V"





Simbol seksualitas laki-laki "V" (dengan posisi terbalik)





Pependa ini bisa dipandang sebagai pelecehan terhadap norma kesopanan Orang Rimba karena bermakna menghina. Apabila seseorang (pria/wanita) membuat simbol tersebut sengaja ataupun tidak pada kayu apalagi di jalan umum, dapat dihukum secara sah menurut adat Orang Rimba. Pelanggaran terhadap norma ini mempunyai dua implikasi. Pertama, bisa dikaitkan dengan norma susila yang mereka sebut dengan cempolo. Kedua, bersifat lebih serius lagi yaitu dikaitkan dengan keinginan berzina.



Jumlah denda pada kedua konteks tersebut juga berbeda. Hukuman untuk cempolo masih memungkinkan pengurangan jumlah hukumannya atau diistilahkan Orang Rimba dengan penguntingan hukuman (kupang). Biasanya pelaku hanya dibebankan membayar enam lembar kain lewat rapat adat Orang Rimba. Sedangkan hukuman untuk pelanggaran yang dipandang mendekati .zina. (bukan perzinaan dalam arti sebenarnya), tetap harus dihukum, membayar denda 80-120 helai kain.





Nasehat kuno mengajarkan, berjalan peliharalah kaki, bekerja peliharalah tangan, dan berbicara peliharalah mulut, benar juga, sarat makna (khususnya jika ingin masuk ke rimba). Ajaran sederhana ini sungguh akan bisa menghindarkan diri dari masalah.

Malaka Strait Expedition: Field Notes

Marahalim Siagian
(Penelitian ini disponsori Cipta Lestari Indonesia)

20 Juni 2007
Berangkat dari Daik ke Pancur dan lanjutkan ke Pulau Senayang, dalam perjalanan bertemu dengan orang-orang cina yang menggunakan bahasa Melayu dengan fasih, hutan mangrove di kiri kanan jalan kondisinya masih bagus. Lama perjalanan 30 menit. Ongkos Rp. 20 ribu rupiah, tetapi ada juga yang membayar Rp. 10 ribu mungkin orang tersebut sudah dikenal. Di Pancur, sekelompok orang-orang Cina naik kapal tujuan Pangkal Pinang, tidak banyak yang saya ketahui tentang bisnis atau usaha mereka kecuali dugaan saja bahwa mereka membuka usaha kelontong dan usaha penjualan sembako di pulau-pulau kecil ini (Selat Malaka).

Pagi tiba di Senayang di Bandar/pelabuhan bertemu dengan camat yang hendak pergi ke Tanjung Pinang utuk rapat. Saya memperkenlkan diri kepada camat dan menelopon ajudannya untuk mengurus keperluan penelitian.

Di kecamatan bertemu dengan beberapa staf kecamatan. Pak Dodi, dan beberapa yang tidak sempat saya catatat namanya, juga berkenalan dengan beberapa orang yang berasal dari Jambi (Broni). Mereka adalah petugas kesehatan di Senayang dan telah beristri berdomisili disana. Mereka mengaku hanya satu kali dalam setahun pulang ke Jambi. Di kecamatan saya juga mendapat segelas air dan berkomunikasi dengan mereka secara formal. Diskusi beberapa waktu dan diberi peta kerja dimana dibuat suatu pembagian pulau-pulau berdasarkan desa dan atau bagian dari desa.

Peta tersebut membantu untuk memahami situasi keruangan desa-desa di Kecamatan Senayang. Ada lima desa yang termasuk Kecamatan Senayang dan satu kelurahan: Desa Tamiang terdiri dari Pulau Gabah, Tekoli, Tajur Biru, Limas, Pulau Medang, Teban dan Senang. Informasi dari pak Mun, Tajur Biru adalah Ibukota Desa Tamiang. Desa Pulau Medang meliputi pulau: Benan, Nopong, Baru, Bukit, Merondong, Mesanah, dan Duyung. Desa Pasir Panjang terdiri dari pulau: Berjong, Mabong, Belubang, Cempa, Cumpa, Pasir Panjang, dan Tukul. Sebagian dari Pulau Tukul (utara dan barat) adalah wilayah administrated Desa Mamut. Desa Mamut meliputi pulau: Tanjung Kelit, Lipan, Mamut, Ujung Kayu, dan Manik. Desa Rejai terdiri dari pulau: Baran dan Rejai. Kelurahan Senayang terdiri dari pulau: Baning, Senayang, Anak Hile, Laut, Lutung, Ujung Beting, Labah, Belakang Hutan, Cando, Kentar, Buluh, Pungguk, Kongki, Renaan, Mensuma, dan Kojang.

Pulau Kentar, 20 Juni 2007
Bermalam di Pulau Kentar bersama Orang Laut, makan malam dengan sotong/cumi-cumi. Pak Mun (informan kunci dan kunci keberhasilan riset) pergi ‘berkelong’ (menangkap ikan dengan menggunakan petromaks), saya tidak diijinkan ikut karena khawatir tidak cukup kuat berenang di lautan, terpaksa tinggal di rumah menjaga keluarga mereka.

Sialang: Field Notes

Marahalim Siagian
(NORAD & OD Norwegian Project: Staf Kajian dan Pendampingan Orang Rimba)

Sialang, merupakan sumberdaya penting yang dilindungi oleh Orang Rimba (Kubu), begitu tingginya nilai pohon sialang ini sehingga di setarakan dengan satu nyawa manusia. Sialang adalah sebutan umum, untuk mengatakan pohon madu yang merupakan istilah yang lebih luas menyebut "kedudungdung"/"kedongdong", "kruing", "pulai", "kayu kawon", dan "par"i

Mani rapa, begitu Orang Rimba menyebut madu adalah sebuah keajaiban sekaligus dianggap bedewo (keramat). Madu dipercaya Orang Rimba berasal dari bunga-bunga yang telah mengembang yang dibawa rapa/repo (lebah) di kepala dan kakinya. Sedangkan anak rapa berasal dari embun yang dimasukkan kedalam sarang-sarang yang sangat rapi---lubang-lubang yang hampir sama ukuran. Mulanya ia akan menjadi klayot lalu makan madu sehingga ia bertambah besar dan menjadi dewasa—kepala, kaki, sayap dan semakin hitam dan akan menjadi anak dewasa yang juga masih dapat dimakan.

Dikisahkan bahwa rapa berasal dari gunung Kerinci yang mempunyai penjaga(pawang) yang digambarkan bermata merah, garang, berkulit putih dan tinggi besar seperti Orang Belanda. Konon mereka mengakui ada sialang batu yang merupakan perhention(perhentian) rapa di sana. Lebah datang seperti musim, menjelang bunga mulai memekarkan kelopaknya. Siang malam lebah akan bekerja menimbun madu seperti para protestan yang menganggap bekerja sebagai ibadah.

Menjelang sore laki-laki dewasa yang telah belajar memanjat sialang mulai melantak (memakukan kayu ke pohon sialang) hingga ke cabang pertama dan dilanjutkan pada malam hari pada cabang-cabang yang lebih kecil untuk menghindari cahaya agar tidak disengat lebah.

Beberapa pemuda yang memanjat sialang, telah menghafalkan sejumlah tomboy(pantun) yang sangat sitematis dan pada malam hari pantun itu akan digunakan merayu gadis agar memberikan susunya untuk diperah. Gadis yang dimaksud adalah lebah dalam anatominya yang dapat dikenali dengan beberapa sebutan. Bidang, kepalo rapa, anak, dan induk rapa.

Mengambil madu memerlukan sebuah ritus penyucian diri untuk menghindari songot rapa (sengat lebah.), karena jumlahnya mencapai ratusan ribu ekor, rapa sangat potensial untuk menciderai sebab punya bio(bisa) yang meyiksa korbannya karena sengatannya. Untuk menghindari hal tersebut tidak diperbolehkan mandi pakai sabun, makan cabai, garam, ketiga pantangan ini bersifat tajam (bermambu, peday, asin). Makanan lain yang juga dihindari mis, boung, ikan tano, keli, kepuyu, sepat, kebakang, tikus dan daging babi, karena punya “kemiripan” dari sifat yang dapat dilihat pada lebah).

Keseluruhan objek sialang dipandang mempunyai “pemilik” yang sifatnya gaib dan dalam pantun harus disebut satu persatu untuk menghindari rintangan, sapaan dari setan yang menghuni pohon sialang tersebut.

Pohon sialang sendiri dipersonifikasikan sebagai balay panjang (rumah panggung:penulis) dan di balai panjang tersebut terdapat gadis yang dianggap tunangan dan induk sebagai penjaga anak gadis tersebut.

Proses pengambilan madu digambarkan sebagai sebuah penyuntingan anak gadis oleh pemuda yang gagah. Dimulai dengan memindahkan penghuni pohon sialang untuk sementara agar tidak menegur sapa dan menghalangi, lalu dilanjutkan dengan besetabik (petmiasi) sebagai salam perkenalan untuk berkeliling balay panjang, lalau dilanjutkan dengan menjauhkan induk rapa atau menurunkannya dengan cara membujuknya, kemudian setelah hampir semuannya di turunkan diahiri dengan pantun beramit (permisi) turun dari pohon sialang.

Semua peralatan yang dipakai dalam menurunkan madu haruslah baru; lantak, geganden, tunom, tali hanyut, sludang, sengkorot, periuk. Lantak digunakan sebagai pijakan untuk naik pohon sialang dengan cara memakukannya dengan menggunakan gegenden berfungsi seperti martil besar dan terbuat dari akar kayu sungori lebah di usir dengan menggunakan tunom (bara api) kulit kayu meranti yang dijadikan sebagai api untuk mengusir lebah lalu madu di turunkan dengan tali hanyut (tali untuk menurunkan madu) yang dibuat dari routan temiyang yang cukup kuat dan sebagai wadah penampungya digunakan sludang yang terbuat dari kulit kayu dibentuk seperti ember persegi empat yang ringan namun kuat.
Madu yang letaknya sulit karena pada dahan yang kecil dapat diambil menggunakan bantuan sengkorot yang terbuat dari kulit antuy yang panjangnya mencapai 20-25 cm untuk di ikatkan dikaki dengan cara telungkup menjalar pada dahan yang paling kecil.

Orang Rimba memakan madu dengan beberapa cara:

-Direngka, anak rapa lebah yang masih muda dipotong-potong kecil-kecil lalu di campur madu secukupnya kemudian dikukus atau di goreng tanpa menggunakan minyak.
-Klayot, anak rapa yang masih putih seperti ulat kecil bisa dimakan dengan mencampurkan madunya , rasannya seperti susu.

-Kluyu, anak rapa yang bagian tubuhnya dikeluarkan dengan cara memerasnya, air yang keluar dimasak hingga mendidih dan mengumpal ,dimakan tanpa menggunakan air madu.
Madu diawetkan dengan cara memasaknya , menggunakan suhu api yang harus relatif stabil. Madu selain untuk diminum, juga digunakan sebagai obat. Seperti obat untuk bekas sengatan yang membengkak, untuk ibu yang baru bersalin dengan mengoleskan diperutnya, juga di oleskan pada bibir bayi yang baru lahir agar cepat menyusui.

Sarang lebah biasannya telah dibagi-bagi kepada semua orang yang hadir, dan semuanya biasannya mendapkan madu. Pembagian sarang lebah didasarkan pada orang-orang yang intensif menjaga/membersikan belukar sekitar pohon, juga didasarkan atas kepemilikan sialang.

Selain dipohon sialang lebah juga bisa ditemukan pada kayu lain dengan jumlah sarang yang sedikit. Lebah seperti ini dikenali sebagai rapa bumbun. Selain manusia, elang juga mengiginkan madu dan kadang beberapa dari sarang telah kosong karena diterkam oleh elang.

Banjirnya madu menjaminkan tersediannya kecukupan vitamin, protein, lemak dan unsur-unsur lain yang dibutuhkan Orang Rimba dalam jangka waktu yang relatif lama (setidaknya 2 bulan) setelah masa itu beberapa bulan kemudian akan muncul musim buah---buah petahunon, yang juga menyediakan kecukupan makanan bagi Orang Rimba. Siklus tahunan ini tampaknya yang memberikan setengah tahun makanan yang berkecukupan, dan siklus ini begitu mereka pahami sebagai sumberdaya penting yang jika terganggu mengancam kelangsungan hidup mereka.

"Batu Bertanah": Mode Produksi Masyarakat Sambirejo

Oleh: Marahalim Siagian
(Mahasiswa Pascasarjana UGM)

Hidup di dataran tinggi yang kekurangan air dan tandus tidaklah mudah, seperti Desa Sambirejo di pengunungan Batur Agung. Pegunungan Batur Agung merupakan kawasan perbukitan yang membujur dari wilayah Prambanan sampai wilayah pantai selatan, perbukitan ini oleh Belanda disebut siwa plateau. Seperti halnya di Gunung Kidul, Desa Sambirejo selalu kekurangan air dan pada musim kemarau tanah-tanah pertanian tidak bisa lagi ditanami. Lapisan tanah di Desa Sambirejo sangat tipis, didominasi batuan kapur, sehingga penduduk desa mengidentifikasi desa mereka dengan sebutan ”batu bertanah”.
Dengan lingkungan khas seperti Sambirejo, menarik perhatian untuk mengetahui bagaimana penduduk desa memproduksi makanan dan kebutuhan hidup subsistesi lainnya. Dengan kata lain bagaimana moda produksi masyarakat di lingkungan kering dan tandus seperti Sambirejo?

Lansekap
Desa Sambirejo berada pada ketinggian 150-400 d.p.l Curah hujan rata-rata yang tercatat dalam monografi desa hingga Desember 2004 hanya 200-300 mm, dengan suhu udara rata-rata 23-32 derajat celsius. Topografinya ditandai dengan tanjakan memanjang dengan kemiringan kira-kira 30-45 derajat. Kita dapat menyaksikan pemandangan persawahan yang terdiri dari petak-petak kecil tanah pertanian, bertingkat-tingkat, di kiri kanan jalan. Lahan-lahan itu tidak seluruhnya ditanami padi, bahkan tidak terlihat penanaman padi serentak. Satu petak lahan pertanian misalnya digunakan untuk menanam kacang-kacangan, jagung, dan padi, dan atau campuran tanaman palawija dengan padi sesuai dengan kesuburan tanah.

Dari luas 839.637 ha tanah desa hanya 171.270 ha atau kurang dari 20 % yang dapat diolah menjadi lahan pertanian pangan. Angka ini telah mengindikasikan gambaran umum kekurangan pangan di desa yang berpenduduk 5.000 jiwa ini. Pada bagian puncak desa yakni kompleks Candi Ijo, daerah ini lebih banyak ditanami pepohonan. Bukit yang membentuk jurang dibawahnya sangat curam. Lahan seperti itu digunakan untuk tanah perkuburan dan atau dibiarkan menjadi semak belukar dengan menanami kayu jati. Budidaya kayu jati pada lokasi yang lebih ektrim ini merupakan potensi kayu bakar dan bahan baku kayu perumahan pada 5-10 tahun mendatang. Berbagai rumput yang tumbuh disela-sela kayu jati dipotong untuk makanan ternak. 600 ton lebih padi dihasilkan oleh lahan seluas 173 ha, 525 ton jagung dihasilkan oleh lahan 350 ha dan 1225 ton ketela pohon dihasilkan oleh lahan 350 ha. Tiga jenis tanaman pangan ini merupakan sumber karbohidrat utama penduduk Sambirejo. Selain padi, tanaman jagung, ketela pohon, kacang-kacangan, sayuran, pisang, mangga, dan hasil pertanian lainnya, masih mempunyai arti yang signifikan untuk pemenuhan hidup sehari-hari.

Sumber keberhasilan pertanian di Sambirejo ternyata karena tersedianya pupuk (organik) yang berasal dari kotoran ternak. Faktor inilah yang memungkinkan petani memproduksi makanan yang cukup untuk populasi manusia yang demikian banyak---dari kandang ke meja makan.

Kotoran ternak (jabuk) yang lazim dikenal pupuk kandang terutama bersumber dari 752 ekor sapi, dan 781 kambing. Satu ekor sapi dapat menghasilkan kira-kira 1 kg pupuk kandang kering per hari dan dari kambing kira-kira 0,3 kg pupuk kandang kering per hari, hasilnya 986 kg pupuk kandang per hari untuk lahan pertanian.

Ternak sapi tenaganya juga dimanfaatkan untuk membajak tanah pertanian. Kontribusi tenaga kerja sapi sangat besar peranannya pada tanah-tanah pertanian Sambirejo.

Sumber makanan ternak adalah rumput yang tumbuh dipekarangan, kebun dan tepi jalan. Selain itu, sumber yang lebih rutin dan berkesinambungan adalah rumput kolonjono yang ditanam serta jerami padi yang dapat disimpan dalam waktu lama tetapi, masih dapat diberikan sebagai makanan ternak dalam kondisi kering.

Petani yang berhasil harus memiliki ternak, bahkan jika tidak dapat memiliki dengan cara membeli, seseorang dapat memiliki sapi atau kambing dengan cara bagi hasil (gaduh), praktek seperti ini lazim terjadi di Sambirejo.

Sumber batu kapur, seperti telah disinggung di atas keadaanya melimpah bahkan dimasa yang akan datang. Penduduk telah mengenal baik manfaat batu kapur sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Produksi batu kapur awalnya ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku candi. Studi lapangan mahasiswa arkeologi Universitas Gadjah Mada tahun 2005 yang lalu (Penambangan Batu Putih Dan Pengaruhnya Terhadap Pembentukan Fitur Di Batur Agung) menginformasikan bahwa sumber batu untuk Candi Ijo, Candi Barong, rumah, dinding sumur galian berasal dari batu kapur dalam desa Sambirejo.

Komersialisasi batu kapur baru dimulai 1980-an seiring dengan dibukanya jalan kendaraan umum yang diikuti meningkatnya permintaan pasar. Selanjutnya, bentuk dan cara produksinya dikembangkan lebih massal, beragam, dalam bentuk dan ukuran.

Produksi batu diserap oleh pasar di Bali, Jakarta bahkan Malasya. Ratusan penduduk dapat terserap disektor ini dalam profesi yang berbeda-beda; sebagai penambang, buruh bongkar muat, sopir truk, penggergajian, dan pemahat batu.

Terdapat 8 industri kecil-menengah pengergajian batu yang beroperasi di dusun Nglengkong dan Gunung Sari. Seorang pengusaha penggergajian batu yang dikunjungi mempekerjakan 24 orang buruh. Pada kondisi optimal dimana mesin beroperasi seluruhnya ia dapat mempekerjakan buruh 28-30 orang. Gaji buruh bervariasi antara 20-25 ribu rupiah/hari.

Batu yang dapat diserap dari penambang sebanyak 3-4 truk per hari, basarnya permintaan bahan baku tidak dapat dipenuhi dari dalam desa sendiri. Untuk beberapa jenis batu seperti batu itam, batu ijo, kuning doreng didatangkan dari Wonosari dan desa disekitar merapi. Industri batu ini merupakan sumber ekonomi kedua di Sambirejo. Lebih dari itu, industri ini merupakan media hubungan sosial, ekonomi dengan masyarakat di dataran rendah.

Keberhasilan subsistensi pada masyarakat Sambirejo disokong dua jenis kegiatan produksi. Pertama. pertanian tadah hujan yang sukses pada lahan kering dan tandus, terdukung dengan jumlah ternak yang dapat memproduksi pupuk kandang untuk menyuburkan tanaman. Tenaga hewan peliharaan itu juga sangat penting perananya dalam kegiatan produksi pertanian. Tipe produksi pertama ini secara umum mendukung pemenuhan kebutuhan subsistensi masyarakat desa dan orientasinya domestik.
Berbeda dengan kegiatan kedua, yakni produksi batu kapur. Tujuan produksi batu kapur adalah masyarakat di luar desa (dataran rendah). Sektor ini menyediakan cukup besar lapangan pekerjaan. Sektor kedua ini memperlihatkan dinamika ekonomi di Desa Sambirejo yang berciri ke luar.

ASA BOCAH DI MAMUJU

Adalah proyek Pakava yang membuka jalan bagi berdirinya SMP PT Pasangkayu, sekolah yang dibutuhkan anak-anak karyawan dan masyarakat sekitar saat itu agar anak-anak karyawan yang bekerja di kebun dapat mengakses pendidikan sampai tingkat pertama di kebun. Kehadiran SMP PT Pasangkayu ini melengkapi sekolah setingkat TK dan SD sehingga jadilah sebuah kompleks pendidikan yang kompak atau terintergrasi. Pendidirian sekolah di lingkungan PT Pasangkayu tersebut bukan asal ada, namun direncanakan sebagai sekolah yang mumpuni di Mamuju Utara. Hal itu tidak saja terlihat para tenaga pengajarnya yang  qualifield, juga terlihat dari anggara pendidikan, fasilitas, kurikulum, dan sarana pendukung belajar lainnya seperti laboratoium bahasa, laboratorium kimia, laboratorium komputer, bimbingan konseling, dan ribuan koleksi buku-buku bermutu.

Tiga tahun setelah menerima murid pertama, sekolalah ini dipercaya menyelenggarakan ujian nasional dan hasilnya exelelence lulus 100%. Anak didiknya pun mulai tampil dipentas kabupaten dan provinsi untuk mengikuti olimpiade fisika, matematika, sastra sampai kegiatan pramuka. Mereka membotong piala-piala dan menjadi semakin percaya diri ketika mereka menoleh lemari piala yang kian banyak.

Saat ini SMP PT Pasangkayu tidak saja milik anak-anak karyawan namun juga kebanggaan anak-anak di Desa Gunung Sari, Martajaya, Ako, Pakava, sampai Desa Ngovi. Membludaknya peminat membuat kapasitas sekolah cepat penuh, tahun 2010, managemen menambah 6 ruangan lagi dan menambah fasilitas internet. Luar biasa, internet membuat anak-anak dari pedalaman Mamuju Utara connect ke jagad maya. Para guru membeli laptop sehingga dapat menggunakannya untuk mengunduh artikel-artikel bermanfaat membantu mereka meningkatkan mutu bahan ajar.

Pertengahan 2010, Bapak Joko Subagio melakukan sejumlah improvement, ia merubah banyak hal yang sebelumnya tanpak konvensional mulai dari desain bangku belajar, cara mengajar yang lebih efektif, bahkan sampai tips-tips “menghukum” anak didik yang bandel. Tujuannya agar mereka bertanggungjawab dan berkomitmen dengan apa yang mereka lakukan. Improvement ini tidak hanya menyentuh aspek belajar namun juga pada akreditasi para guru dengan cara leveling guru-guru. Beliau juga men up-grade bila masih ada guru yang memenuhi tingkat leveling yang ditentukan.  Goal nya untuk mencapai standart sekolah bertaraf nasional.

Kabar baik yang membanggakan pada kami pada tahun ini bahwa penilaian yang dilakukan badan akreditasi nasional menetapkan SMP Pasangkayu masuk akreditasi “A”, konon satu-satunya SMP yang menyandang akreditasi “A” di Mamuju Utara. Bila hari ini anak-anak pedalaman bermimpi melanjutkan sekolah se Sorbone saya kira itu sangat mungkin, karena seorang Andrea Hirata yang sekolah di kandang ternak bisa sampai ke Prancis untuk meraih mimpi-mimpinya. Ayo bermimpilah kawan-kawan!.