Marahalim Siagian
Selasa, 15 Februari 2011
Konsumerisme Kaum Muda Orang Rimba
Oleh: Marahalim Siagian, S.Sos
(OD& NORAD Norwegian Project: Staff Kajian dan Pendampingan Orang Rimba)
Apa yang mereka dengar, apa yang mereka baca, apa yang mereka lihat, tonton dan saksikan, serta apa yang mereka rasakan akan mempengaruhi jati diri dan orientasi kaum muda rimba di masa depan. Salah satu yang jelas tampak di depan mata, perubahan yang terjadi itu adalah munculnya nilai-nilai konsumerisme (seperti pembelian televisi, VCD player, motor, handphone, dll) dimana lambat laun dapat menghabiskan sumber daya yang mereka miliki sendiri. Disisi lain nilai-nilai yang ada, serta kontrol dari orang tua, rerayo dan penghulu di rimba semakin lemah terhadap mereka. Selain itu banyak juga pengaruh yang meracuni kaum muda rimba untuk berperilaku konsumerisme dan tidak peduli lagi dengan nilai-nilai kearifan adat budaya Rimba yang mengedepankan keseimbangan dan keharmonian alam yang menjadi tempat tinggal mereka selama ini. Dan ladang-ladang karet yang sesungguhnya bisa dijadikan penopang ekonomi Orang Rimba di masa depan kini hilang seperti deru suara dan asap yang keluar dari knalpot motor anak rimba itu.
Bagaimanakah nasib ladang-ladang karet yang lain? Persolalan ini kemudian menjadi satu diskursus di team sesama pendamping. Kami pun sampai pada suatu kata akhir. "Kita akan menyelamatkan lahan-lahan ini, seperti harapan Orang Rimba umumnya, dengan mewadahinya dalam lembaga ekonomi atau lembaga yang akan menjadi institusi yang memandirikan Orang Rimba". Caranya dengan membeli ladang karet tersebut dan menjadikannya sebagai common proverty (harta milik bersama) yang nantinya dikelola dan dinikmati oleh Orang Rimba sendiri.
Sembari berharap, lembaga ini juga dapat melahirkan satu mekanisme yang disadari dan ditaati bersama Orang Rimba agar kebun karet yang menjadi sumber daya ekonomi mereka di masa depan tidak lagi diperjualbelikan untuk tujuan konsumerisme semata.
Demikian halnya dengan lahan-lahan di dalam kawasan taman nasional yang ingin diperjualbelikan, tentunya pihak yang berwewenang, seperti BKSDA misalnya diharapkan dapat menindak tegas mereka secara hukum walaupun mereka Orang Rimba.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar