Marahalim Siagian
(OD&NORAD Norwegian Project: Staf Kajian dan Pendampingan Orang Rimba)
Anak-anak orang rimba tidak terlalu dekat dengan orangtuannya. Pada umur menjelang remaja, anak-anak menjadi sangat berkurang ketergantungannya kepada orangtuannya. Perempuan punya kedekatan khusus dengan rumah, bahkan agak jarang keluar untuk keperluannya sehari-hari. Anak tiri atau anak ambikan atau anak asuh atau juga disebut anak buah tidak terlalu merindukan orangtua biologisnya. Mereka tidak mengalami perasaan "rindu" seperti pengalaman anak-anak desa atau anak yang tumbuh di kota.
Anak-anak seperti mereka merupakan anak yang dimiliki sebagai ganti denda yang tidak bisa dibayarkan/ dilunasi, dan konsekuensi sebagai anak ambilan adalah dia bekerja layaknya seperti "tawanan" bagi pemilikinya.
Seorang perempuan bernama Mesumo berumur 15 tahun kelihatan lebih pendek dari pertumbuhan seusiannya. Penampilannya hitam dan rambut gimbal. Dia selalu melewati tenda saya pada pagi dan sore hari dari sungai untuk air minum atau untuk keperluan rumah tangga lainnya. Bila tidak ada yang mengawasi ia selalu tegak persis di depan tenda ku seperti ingin meminta roti dengan cara sembunyi-sembunyi. Suatu sore Penyuruk menembak seekor beruk yang bergantungan di kayu ara dekat ladang sekitar aku mendirikan tenda. Beruk suka tampil di dekat kebun itu untuk mencuri umbi-umbian atau tanaman Orang Rimba. Mesumo juga bertugas untuk menjaga dan menghalau beruk atau binatang pengganngu ladang itu. Orang Rimba di Das Kejasung memang dikenal memakan beruk, lain dengan mereka yang mengaku keturunan Das Makekal yang merasa 'goli' dengan makanan tersebut. Saya menanyakan nasib beruk itu pagi harinya kepada Penyuruk, ia dengan ekspresi alamiah mengatakan bahwa Mesumo memakan beruk tersebut. Ia sendiri mengaku tidak memakannya karena ia anak dari keturunan Orang Rimba di Das Makekal. (Sungai Kejasung Besar, 13 Maret 2004)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar