Marahalim Siagian

Selasa, 15 Februari 2011

Marahalim Siagian
(Mahasiswa Pasca Sarjana UGM)

Di tepi jalan, kira-kira 10 meter jauhnya dari jalan, pada kebun karet. Seorang bapak sedang memotong anak karet liar. Ia membuang akar serabutnya dengan pisau dan mengurangi lagi akar tunggangnya, juga pucuknya. Begitulah ia mempersiapkan bibit pada lahannya yang satu hektar lagi. Bapak ini sendiri punya kebun karet 4 hentar, dan satu hektar yang akan ditanami lagi.

Anaknya yang paling kecil berjalan-jalan dikebun karet tersebut, sepertinya tidak digigit nyamuk dan seorang anak perempuan lagi yang juga bertelanjang bermain-main di kebun tersebut tanpa dikwatirkan orang tuannya. Ibunya yang berada tidak jauh dari mereka mengawasinya. Sesekali menegur dan memberikan asi pada anak yang paling kecil. Lamanya ia memberikan asi tidak lebih 10 menit. Kemudian anak-laki-lakinya yang usiannya kira-kira 8 tahun sudah bisa mengamati kami dan menyelidik apa yang kami lakukan.

Seorang temannya yang selisih 2-3 tahun lebih tua darinya mengajaknya main-main. Kaki anak ini satu tidak normal (kerdil) sehingga hanya salah satu kaki saja yang berfungsi. Namun ia selalu bermain diatas sepeda bahkan membonceng kawannya. Yang unik adalah kerja sama diantara keduanya. Salah satu kaki anak yang lebih besar ini menggayuhkan pedal sepeda sedangkan temannya yang lebih kecil yang duduk dibelakang, membantunya dengan memberikan satu kakinya untuk ikut mendayuh sepeda tersebut. Sepeda itu berjalan dengan anggun, sebuah kerjasama yang baik.

Tentang istri informan saya ini, badanya agak kurus, putih dan rambutnya bergelombang. Ia masih berpakaian seperti layaknya seorang perempuan rimba. Rumah yang dia gunakan juga masih dengan konstruksi seperti orang rimba. Dia hanya beberapa kali tertawa, melainkan hanya menyimak pembicaraan kami. Suatu kali dia meninggalkan kami berbincang dengan suaminya, dia membawa naknya pergi setelah memakan roti yang saya bawa. Tetapi dia kembali lagi. Dan duduk dengan membawa kembali anaknya yang paling kecil, memegang ayam ditangannya sebagai mainan.

Tentang suaminya, informan. Tingginya sekitar 158-160 cm. Tidak terlalu kurus, sedikit lebih gemuk dari
saya. Kira-kira 50 kg beratnya. Ia menyirih dan juga merokok. Giginya banyak sekali yang ompong. Hanya bagian samping atas saja yang kelihatan masih tersisa ditempatnya. Ia tidak terlalu cerdas, tetapi bisa diajak berbicara dengan pertanyaan yang sederhana dan jelas. Kadang-kadang saya gagal mendapatkan jawaban yang saya harapkan. Atau bisa saja saya tidak bisa mendapatkannya dengan cara wawancara, melainkan dengan cara pengamatan langsung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar