Marahalim Siagian
Selasa, 15 Februari 2011
Punan Riset: Catatan Lapangan
Marahalim Siagian
(Mahasiswa Pasca Sarjana UGM)
Penelitian ini disponsori oleh Cipta Lestari Indonesia
Ranau, 20 November 2005
Kemarin, setelah habis digasak pacet, akhirnya kami sampai di Mirau. Lelah setelah berjalan mulai dari jam 8 pagi dan tiba jam 2 siang. Pertama kami disambut dirumah penduduk yang sangat kotor tetapi sangat ramah, kesan pertama kami langsung dimintai kopi dan gula, lalu seorang ibu tua dengan suara keras meminta obat paramex dan disusul oleh orang lain hingga malam tiba ada lagi yang minta paramex.
Kemudian beberapa penduduk terutama orang tua meminta celana, baju, senter, dan lain-lain. Kalau dikabulkan saya bias pulang telanjang. Tetapi masyarakat silih berganti memberikan makanan dengan berbagai variasi. Menurut penduduk, mereka sedang dalam masa kelaparan. Hal ini bisa saja betul karena makanan yang disajikan cukup beragam untuk membuat variasi rasa.
Perjalanan Mirau ke Avang melewati tiga gunung; Angan (tinggi), Kabong (tinggi sekali), dan Telou (sangat tinggi).
Lemuncung, 21 November 2005
Saya di lepas oleh penduduk Mirau seperti memberangkatkan anak mereka. Rasanya haru dan merasa berhutang budi atas kebaikan mereka dan mungkin juga karena saya menunjukkan surat pengantar dari Lembaga Adat Punan.
Saya juga diantar oleh guide yang merangkap porter terbaik, ia punya reputasi berjalan jauh yang dikagumi penduduk desa. Dari Mirau ke Ranau dia hanya perlu waktu satu hari perjalanan yang kami tempuh dengan susah payah selama dua hari dan capek yang sangat, lagi pula kami hanya sampai di Long Avang (pemukiman Punan sebelum Ranau).
Long Penai, 25 November 2005
Dua hari dalam perjalanan yang melelahkan dari Long Tami dengan rombongan mufut orang Punan, keluarga Awang Ipu bersama keponankannya, dan seorang perempuan Punan yang putih dan cantik. Ia selalu setia menyediakan makanan di dapur.
Tiba dipuncak bukit kami menginap di jalan, kami berbagi tugas untuk menyiapkan tempat bermalam dan makanan. Waktu semua pekerjaan selesai, kami duduk menikmati hidangan kopi manis. Tiba-tiba lantai kami ambruk, grubarak…, kami diam di tempat masing-masing, lalu saling menatap dan tertawa.
Tetapi yang membuat kami khawatir adalah seorang Ibu dengan bayi 4 bulan yang berada diujung lantai camp. Syukur ibu itu dan bayinya tidak mengalami apa-apa, dan kami kembali gotong royong untuk memperbaiki tempat menginap dan lantai camp yang sudah ambruk serta menurunkan tenda kembali supaya angin tidak menghantam tenda.
Malam hari, sudah sangat larut, hujan turun dan kami sudah lama tidur sebelum menyadari sebagian dari tenda kami kena air. Yang paling parah adalah tendaku yang agak terpisah dengan teman yang lain. Saya telah dibuatkan tempat tidur dengan bahan karung plastik yang masing-masing ujungnya diberi dua buah kayu penyangga. Tetapi sangat sempit namun cukup lumayan untuk kualitas tidur di hutan.
Kaki dan kepalaku basah dan rasanya sangat dingin diatas gunung yang dikurung rimba raya dengan lembah-lembah yang curam. Lalu aku mengecilkan tubuhku dengan “melipatkannya” walau kakiku tidak nyaman dengan kayu penyangga di satu sisinya. Saya mencoba menenangkan diri, menerima ketidaknyamanan itu dan baru bangun jam 7 pagi. Bagun pagi, hujan masih turun karenanya kami baru bisa melanjutkan perjalanan setelah jam 11 siang dan tiba di Long Penai pada jam 4 sore.
Long Penai, 26 November 2005
Sore kemarin, Avang Ipu dan Pak Pilung berburu babi dengan membawa beberapa anjing. Babi putih besar beratnya kira-kira 60 Kg di bagi tiga; untuk tuan rumah separoh, untuk Avang separoh dan paha sebelah untuk dibawa Adi porter saya ke Respen. Pesta makan babi pun berlansung. Kepala yang dipanggang di luar rumah hingga malam lalu menyayatnya sedikit-demi sedikit secara perlahan-lahan, harumnya enak. Saya menikmati separoh teliga kirinya dan makan dengan sop Iga yang lezat. Dengan makanan inau (sagu) yang lembut ditelan dan bersahabat dengan gigiku yang sedang sakit (sekarang sudah sembuh). JIka babi seberat 60 Kg didapat dua keluarga, paling yang bisa dimakan sebanyak 2 Kg dalam sekali makan. Dengan demikian perlu dua minggu untuk menghabiskan 1 babi berukuran 60 Kg.
Lemaknya diambil untuk minyak sayur yang disebut lanyih, bisa juga dimakan dengan campuran daun ubi. Jika babi tidak sedang ada dalam dua sampai tiga hari ada makanan yang bisa dimakan dari sekitar lading yakni sagu atau ubi.
Surplus makanan memberikan manfaat juga untuk ternak anjing yang dipelihara cukup banyak. Kadang-kadang anjing dipelihara lebih dari dua dalam satu rumah tangga. Dan anjing tidak diberi makan secara khusus sehingga menggangu waktu makan keluarga dan membuat kompetisi diantara para anjing yang kadang menimbulkan kekacauan pada saat makan.
Long Penai, 26 November 2005
Menunggu perahu dari Long Pada untuk mengantarkan kami kembali ke Malinau, sudah dua hari kendaraan air ketinting tidak ada yang lewat. Aduh….
Waktuku untuk balik ke Jogja lewat. Mestinya aku sudah di Malinau pada hari ini dan aku harusnya sudah pula ke Pulau Sapi untuk melihat perkembanga kecamatan yang menjadi kunci bagi perdagangan di Daerah Aliran Sungai Tubu. Hal ini sangat penting untuk membuat suatu perbandingan antara Das Malinau dengan Das Tubu sebagai dua Das utama penyebaran suku Punan di Kalimantan Timur.
27 November 2005
Pulang dari Long Penai dengan Longboat 40 PK dengan operator bernama Henry dan dibantu adiknya, saya bayar Rp. 100.000 untuk dua orang penumpang ditambah persekot Rp. 100.000,- untuk akomodasi dan jasa guide kepada Awang Ipu asal Long Penai dengan kedok “uang Natal buat anaknya”. Saya terbantu dengan adanya beliau yang mengusahakan perahu dan tempat menginap dirumahnya selama dua hari dan jasa baik karena bisa menumpang di rumah Pak Bilung yang beristrikan orang Cina.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar