Marahalim Siagian

Selasa, 15 Februari 2011

Pemahaman Mendalam dan Kurangnya Minat Riset Antropologi Tentang Orang Binggi

Marahalim Siagian
(Community Development Officer PT. Astra Agro Lestari, Tbk)

Sejauh ini, kita belum banyak mengenal kebudayaan Kaili kontemporer kecuali dari pengalaman para missionaris (penyiar agama Kristen) yang hidup dengan mereka selama bertahun-tahun. Interaksi yang intensif membuat mereka mampu menguasai bahasa dan kebudayaan sukubangsa ini dengan baik serta keberhasilan misi keagamaan yang mereka bawa.

Pendekatan seperti itu merupakan ciri khas pendekatan antropologi yakni, hidup dengan cara kebudayaan orang lain untuk mencapai pemahaman mendalam (deep understanding). Snouck Hurgronje, pada masa kolonial melakukan pendekatan semacam itu di Aceh untuk tujuan penaklukan Bangsa Aceh, antropolog Amerika Ruth Benedict dalam Perang Asia Pasific untuk tujuan perang. Ruth Benedict diminta oleh tentara Sekutu untuk memahami perilaku tentara Jepang yang begitu nekad seolah mengumbar nyawa dalam perang melawan Sekutu, tindakan yang tidak pernah dibayangkan oleh Barat. Orang Barat sukar memahami dasar dari tindakan bunuh diri tetara Jepang serta aksi-aksi nekad lainnya. Kebingunagan itu baru terjawab ketika Ruth Benedict mempublikasikan studinya tentang Jepang dalam buku berjudul Pedang Samurai dan Bunga Serunai.

Saat ini para petugas pengembangan masyasrakat (CD Officer) juga memerlukan pengetahuan mendalam semacam itu, dalam rangka mengelola masyarakat yang hidup d isekitar perkebunan yang jumlahnya tidak hanya satu melainkan beberapa sukubangsa. Hal itu diperlukan dalam mengambil keputusan jangka pendek misalnya, sebagai dasar pengetahuan untuk menegosiasikan suatu masalah agar tidak terjadi dispute yang merugikan. Diperlukan juga dalam rangka merangcang serta mengimplementasikan program community development yang baik, sehingga kelak berhasil. Namun, para CD Officer hampir mustahil untuk hidup bersama dalam waktu lama dengan satu atau beberapa sukubangsa agar memperoleh pengetahuan mendalam tentang masyarakat binaannya. Maka CD Officer dari warga setempat menjadi pilihan atau CD Officer yang memiliki latarbelakang budaya setempat, baik karena perkawinan atau hubungan kekerabatan dengan masyarakat kunci di sekitar kebun, atau dalam kasus tertentu CD Officer yang pernah melakukan riset mendalam tentang sukubangsa tertentu sehingga dapat memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk melaksanakan tugasnya di masyarakat.

Cara lain yang tersedia adalah menggunakan literatur yang ada serta keinginan untuk memanfaatkannya. Tetang Orang Kaili atau To Kaili saya kira, hanya segelintir literatur yang berkualitas yang tersedia. Human Relation Area Files (Ethnic Groups Of Insular Southeast Asia Volume 1: Indonesia, Andaman Island, And Madagaskar, Frank M. Lebar., ed, 1972) sebagai salahsatu rujukan antropologi yang penting tidak mencantumkan Sukubangsa Kaili dalam daftar sukubagsa untuk groups Celebes. Barangkali satu-satunya literatur terbaik untuk mengenal sukubangsa ini yang dapat diakses saat ini adalah artikel Prof. Matullada yang terbit pada tahun 1991 dalam Jurnal Antropologi Indonesia.

Artikel ini pun tidak jauh dari kerangka pengetahuan yang pernah dikembangkan oleh Matullada. Namun itupun terbatas pada sejarah Orang Kaili pra kolonial.

Secara eksplisit Matullada menyebut wilayah persebaran Orang Kaili adalah daerah yang kita kenal saat ini Sulawesi Tengah. Pada kawasan ini hidup beberapa sub etnik yakni; To Kaili dengan sejumlah subetnik antara lain To-Palu, To Sigi, To Dolo, To Biromaru, To Kulawi, To Parigi dan lain-lain. To Pamona dengan sejumlah subetnik seperti To Mori, To Bungku dan lain-lain. To Banggai dengan beberapa subetnik yang berdekatan seperti To Saluan, To Balantak, dan lain-lain. To Bual Toli-toli dengan sejumlah subetnik yang kecil-kecil.

Wilayah yang didiami sukubangsa To Kaili adalah Donggala, To Pamona mendiami kawasan Poso, To Banggai mendiami Kepulauan Banggai, dan To Buol Toli-toli mendiami kawasan Buol Toli-toli.

Kelompok-kelompok etnik dalam subetnik Kaili dapat dikatakan telah menjadi subetnik Kaili yang diidentifikasi sesuai dengan nama tempat pemukimannya sbb:
1. To Palu (To-Ri-Palu)
2. To Biromaru
3. To Dolo (To Ri Dolo)
4. To Sigi (To-Ri Sigi)
5. To Pakuli, To Banggai, To Baluase, To Sibalaya, To Sidondo
6. To Lindu
7. To Banggakoro
8. To Tamungkolawi dan To Baku
9. To Kulawi
10. To Tawaeli (to payapi)
11. To Susu, To Balinggi, To Dolago
12. To Petimbe
13. To Rarang Gonau
14. To Parigi

Kelompok-kelompok subetnik di atas pada masa pra-kolonial (abad ke-17) pernah mendirikan kerajaan-kerajaan lokal seperti: Banawa, Sigi, Biromaru, Tawaeli, Pantoloan, Sindue, Dolok, Bangga, Tatangan, Palu, Sibalaya, dan Parigi.

Kerajaan-kerajaan lokal ini memiliki perangkat kepemimpinan adat dan kekuasaan yang “sama” dalam pinsip-prinsip dan strukturnya. Masing-masing kerajaan juga memiliki rumah adat yang disebut baruga yang merupakan lambang kewibawaan dan kekuasaan adat kerajaan.

Kepemimpinan tertinggi suatu kerajaan dipimpin oleh seorang magau yang mengelola kerajaan dalam suatu dewan yang terdiri dari: Madika Malolo (raja muda), Madika Matua (menangani urusan pemerintahan umum dan kemakmuran), Ponggawa (penyelenggara kekauman dalam negeri dan adat perkauman dalam negeri), Galara (penyelenggara pengadilan dan adat-istiadat dalam hukum kerajaan, serta selaku penuntut umum), Tadulako (penyelenggara urusan pertahanan dan kemanan), Pabicara (penyelenggara ketertiban adat dan tata kehidupan masyarakat atau lebih dekat sebagai fungsi hakim dalam peradilan), Sabandara (bendahara yang mengurusi penghasilan perdangangan terutama perdangangan dilautan.

Disamping dewan kerajaan selaku pemerintahan kerajaan, terdapat semacam dewan perwakilan rakyat yang mewakili daerah-daerah dalam lingkup kerajaan, mereka disebut kotapitunggota yang diketuai seorang Baligau.

Beberapa Hal Penting Dari Budaya Kaili

Bagi orang Kaili, masa lalu disebut memberikan pamor dalam kehidupan masa kini dan masa depan. Masa lalu yang selalu dihadirkan pada kenyataan masa kini membuat orang Kaili sangat awas terhadap kehadiran orang lain dalam lingkungannya, karena dikhawatirkan kebanggaan masa lalunya menjadi kurang dihargai.

Waktu, dipandang memiliki kualitas tertentu yang ditentukan masa lalu, maka tidak perlu ada perlombaan dalam waktu. Waktu dalam kualitas tertentu harus dapat dinikmati dengan tempo yang lamban, maka tidak perlu berpacu dengan waktu, karena manusia yang menentukan dalam menikmati sesuatu yang disajikan oleh waktu.

Hakikat Hidup, hidup adalah untuk menikmati apa yang disajikan oleh alam, termasuk yang diwarisi dari pendahulu.

Hakikat Karya, karya analog dengan hakikat hidup Orang Kaili yakni menikmati sebagaimana adanya, apabila hakikat hidup telah terpenuhi maka karya itupun telah menemukan terminalnya.

Hubungan dengan Alam Sekitar, bagi orang Kaili alam sekitar adalah buat manusia yang harus dimanfaatkan untuk kesenangan, pelestarian alam kurang mendapat tempat dalam kehidupan orang Kaili.

Hubungan Manusia dengan Sesama, orang Kaili sangat menjunjung in groups solidarity (solidaritas kalangan sendiri) sehingga penerimaan terhadap orang luar dilingkupi dengan perasaan penolakan dan kecurigaan.

Saya kira, studi sejarah Matullada di atas memberikan sumbangan pengetahuan berharga bagi kita saat ini, namun studi kontemporer sangat diperlukan untuk mengkonfirmasi pengetahuan terdahulu dan memberikan deskripsi yang lebih tajam dan jelas perihal budaya Kaili dan subetniknya yang saat ini telah banyak dilanda perubahan. Semoga ada antropolog yang mengambil tantangan ini!?.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar