Marahalim Siagian
Selasa, 15 Februari 2011
Oleh: Marahalim Siagian, S.Sos
(OD & NORAD Norwegian Project: Staff Kajian dan Pendampingan Orang Rimba)
Kemampuan subsistensi (cara produksi yang hanya mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari) yang dimiliki Orang Rimba jarang ditemukan pada suku-suku lain di dunia. Kekhasannya terletak pada kemampuan Orang Rimba melepaskan diri dari ekonomi berladang dengan dukungan perangkat pengetahuan yang mereka punyai.
Pengetahuan Orang Rimba akan ruang (baca: sub ekosistem) sangatlah kaya. Mereka menggunakan (pengetahuan) itu sebagai dasar tindakan pemanfaatan SDA yang terkandung di dalamnya, didukung kerja sama dengan kelompok atau aliansi antar kelompok. Kerja sama ini dibangun berdasarkan hubungan tradisional, seperti perkawinan dan kekerabatan. Pemanfaatan ruang ini dikombinasikan dengan kemampuan membaca musim dan energi alam yang memudahkan Orang Rimba untuk menentukan tindakan pengeksploitasian ruang. Pengetahuan ruang ini terpetakan secara sistematis dalam sistem kognitif Orang Rimba.
Definisi ruang ekologis Orang Rimba yang paling menonjol yaitu sungai. Fungsi tradisional sungai ini untuk sarana transportasi, daerah pemanfaatan SDA, serta dasar orientasi di dalam hutan oleh Orang Rimba. Sungai juga dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam pembukaan ladang. Sungai menjadi patokan penentuan letak dan posisi ladang, posisi kelompok, batas adat Orang Rimba dengan orang desa, juga untuk menunjukkan kekhasan kelompok Orang Rimba. Misalnya Orang Rimba yang berdiam di Daerah Aliran Sungai (DAS) Air Hitam, menyebut dirinya kelompok Orang Rimba Air Hitam, ada Orang Rimba Bernai (karena dekat Sungai Bernai), dan Orang Rimba Kejasung (berdiam dekat Sungai Kejasung). Sungai yang zonanya datar dijadikan pusat sumber makanan.
Demikian pula dengan ekosistem darat, diklasifikasikan berdasarkan berbagai fungsi pemanfaatannya. Misalnya bukit dikonsepsikan banyak dihuni setan/hantu. Konsep ruang ini mengindikasikan bahwa bukit tidak bagus bagi Orang Rimba, baik untuk berladang maupun mencari buruan. Ditambah anggapan tipe ruang ini miskin kehadiran binatang dan diversitas tumbuhan yang bisa dimanfaatkan.
Sebagian jenis ruang lainnya dikaitkan Orang Rimba dengan tempat ritual mereka, misalnya tano pusoron (tempat mayat), tano peranaon (tempat menunggu kelahiran), genah sentubung/sungori budak (tempat tumbuhnya pohon sungori dan sentubung yaitu dua jenis pohon rimba yang melambangkan jiwa dan raga bayi). Di daerah-daerah ini tidak dibolehkan membuka hutan. Beberapa jenis buah yang terdapat di sekitarnya dilindungi secara hukum (adat).
Gambaran pemanfaatan ruang Orang Rimba berdasarkan dua kategori ekologis (sungai dan darat) secara lebih rinci sebagai berikut :
Ekosistem sungai : Deyok (bibir sungai yang diendapi lumpur), sumber daya yang dimanfaatkan yaitu berbagai jenis amfibi. Pulo (endapan pasir dan tanah yang membentuk daratan kecil), terdapat berbagai jenis katak. Siding (lobang yang menjorok pada batang sungai), hidup beberapa ikan khas seperti, baung, lele dan gabus. Lubuk (dasar sungai yang dalam, biasanya di bagian tepi sungai), sumber daya yang dimanfaatkan yaitu beragam jenis ikan dan jenis kura-kura (tryonyx cartilsgineus), biuku, serta berang-berang. Rongga (lobang pada batang sungai yang ditutupi akar kayu), dapat dimanfaatkan jenis amfibi seperti sebodo. Rantau
(lantai sungai yang landai), terdapat kepiting, udang, cinceher, dan ikan ukuran kecil seperti, suluang, kepiul, dan lainnya. Napol (lantai sungai dari lumpur yang membatu), sumber dayanya ikan baung dan ikan telan. Lebung (mirip rawa namun lebih kecil) terdapat katak, sebodo, ikan sepat, dan membiyang. Sususpon/inumon (kolam yang airnya asin), tempat binatang besar untuk minum seperti, tapir, beruang, dan kijang. Tumbang (genangan air yang luasnya mirip kolam), sumber daya yang bisa dimanfaatkan yaitu ikan palau, gabus, sradang, ikan kebarau, dan berbagai jenis ikan yang bisa hidup di air tergenang. Sako (anak sungai yang lebih kecil), terdapat ikan-ikan kecil seperti, suluang dan pancit. Tanjung (belokan sungai), tempat yang disukai bintang jenis napu. Lumpur ( endapan daun yang membusuk di pinggir sungai), terdapat kerang, tengkuyung, dan berbagai jenis keong.
Ekosistem darat : Kasong (kasang/pematang), sumber daya yang dimanfaatkan adalah kancil, babi, bentorung, umbi benor, umbi kona, rotan manau, dan damar. Kubang (tempat beberapa jenis hewan ‘mandi’), sumber daya yang dimanfaatkan rusa dan babi yang menyukai tempat ini untuk berkubang. Bukit (bukit), tempat mengambil getah balam, pasak bumi, selusuh, serta tempat buruan jenis tupai dan tikus. Tobing (tebing), sumber daya yang dimanfaatkan jenis tikus dan posou. Lamon (permukaan tanah yang ‘dibesihkan’ burung kuau), lokasi tersebut sering digunakan untuk menjerat burung kuau. Tenggelou (semak duri), sumber daya yang dimanfaatkan adalah berbagai jenis rotan, seperti rotan temiyang, soni, siu, dan rotan tetebu. Payaou (rawa), sumber daya yang dimanfaatkan yaitu rotan rumbai. Rana (renah), yangdimanfaatkan ialah umbian, seperti benor, gadung, jehong, tekusut, slemak, binatang kancil, musang, biawak, babi, dan pangka.
Formasi Kelompok
Keberhasilan subsistensi Orang Rimba sangat ditentukan oleh dukungan kelompok sekitarnya. Dukungan ini tidak saja menyangkut distribusi ubi, lauk, dan berbagai pemberian lain untuk memelihara hubungan antar mereka. Melainkan hubungan ini juga dipertahankan untuk tujuan politik kelompok. Misalnya di suatu masa salah satu kelompok Orang Rimba akan terlihat sangat mesra dengan kelompok lain, namun di waktu berikutnya juga bisa saling menghindar atau menjelek-jelekan.
Anggota satu kelompok Orang Rimba biasanya 4-10 rumah tangga. Jarang sekali satu kelompok padat yang jumlahnya sampai 30 rumah tangga dan juga jarangditemukan satu rumah tangga Orang Rimba yang soliter. Kelompok yang berjumlah 4-10 rumah tangga bisa lebih mandiri mengelola SDA. Sebaliknya kelompok yang lebih besar akan kesulitan dalam pembagian hasil buruan. Pengumpulan hasil hutan akhirnya mempercepat SDA sekitar pemukimannya habis.
Demikian juga satu rumah tangga soliter (sendiri/terpisah dari kelompok), sangat sulit mengelola rumah tangganya tanpa dukungan kelompok sekitar. Kesulitan ini menyangkut penggunaan tenaga kerja, seperti kebutuhan tenaga kerja dalam jumlah yang besar untuk mengikuti semua proses pembukaan ladang. Hingga keberadaan tenaga kerja Orang Rimba ini akan sangat tinggi nilainya.
Dasar tradisional untuk memelihara hubungan antar kelompok adalah kewajiban dari status yang disandang. Misalnya orang semendo (pemuda rimba yang tengah berbakti ke orang tua perempuan rimba demi menyakinkan si orang tua agar diizinkan menikahi anaknya). Bujang rimba harus membuktikan ke pihak perempuan (mertua dan waris perempuan) ketangguhan dan ketekunannya mencari penghidupan seperti berburu, mengambil madu, membuka ladang, mengambil rotan, dan lainnya. Dia juga harus melayani pimpinan kelompok si wanita meskipun si pimpinan bukan dari kelompok yang sama dengannya.
Berkurangnya satu orang anggota kelompok dianggap satu kerugian. Cara menghindari kerugian seperti ini biasanya dengan mencari calon istri dari kelompok terdekat. Cara ini akan sekaligus menjamin suatu dukungan kerja sama di masa depan. Kerja sama antar kelompok biasanya menyangkut pengerahan tenaga kerja untuk pekerjaan-pekerjaan besar, seperti membuka ladang, ritual, dan lainnya. Kerja sama juga dibutuhkan saat salah satu kelompok melangun (berpindah tempat tinggal karena ditimpa musibah kematian). Kelompok yang melangun bisa saja akan sangat tergantung pada kebaikan hati kelompok lainnya.
Siklus Subsistensi Orang Rimba
Siklus umum subsistensi Orang Rimba dimulai dari ekonomi berladang. Sistem perladangan mereka berbeda dengan masyarakat desa terutama dalam pembuatan keputusan perpindahan ladang. Di mana perpindahan ladang Orang Rimba sering dipengaruhi oleh musibah penyakit dan kematian. Perpindahan ini membawa semua barang rumah tangga dan tempat tinggal sebelumnya tidak akan ditempati lagi.
Berladang dilakukan 1-2 tahun sekali. Perladangan ini memiliki cara khas dalam mengefisienkan waktu pemanenan. Caranya dengan menyelaraskan berbagai jenis tanaman yang interval waktu panennya bertahap, dari yang terpendek hingga jangka panjang. Cara ini untuk mendukung pemenuhan kebutuhan subsistensi.
Pada tahap paling awal, ladang diisi beberapa jenis tanaman umbi-umbian yang masa panennya lebih cepat. Padi jarang ditanam karena resiko kegagalannya tinggi. Ladang biasanya ditinggalkan setelah seluruhnya tereksploitasi. Orang Rimba akan terbantu dengan datangnya musim petahunon (musim buah-buahan) yang memberikan kelimpahan madu pada tahap awal dan buah pada tahap akhir. Kualitas madu yang dihasilkan bagus. Selain dikonsumsi rumah tangga Orang Rimba untuk jangka pendek, madu juga dijual ke desa. Perdagangan madu ini sudah lama berlangsung antara Orang Rimba dengan penduduk desa. Sementara hasil buah-buahan dapat diolah dalam bentuk makanan yang tahan (disimpan) lama. Dengan kata lain musim petahunon menyediakan suplai makanan hingga tiga bulan untuk Orang Rimba.
Siklus musim petahunon ini bersamaan dengan siklus perkembangbiakan beberapa jenis binatang, salah satunya siklus burung besar. Burung-burung besar menggunakan lubang-lubang kayu tua untuk bertelur. Biasanya jenis burung ini bisa dikonsumsi (dibunuh) Orang Rimba dengan menemukan sarangnya, baik siang maupun malam hari. Beberapa burung besar yang dimaksud, yaitu kuneng paru, henggang, kongkoi, selelayak, pusoron, burung hubanon, dan burung nyeyarok.
Siklus ini berakhir pada musim kemarau, di mana air sungai surut bahkan hampir kering. Ikan akan sangat mudah didapat pada musim ini. Kegiatan mencari ikan dengan cara ngakop (menangkap langsung dengan tangan) pun dimulai.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar