Marahalim Siagian

Selasa, 15 Februari 2011

Bukit 12 National Park: Kejasung Field Notes

Marahalim Siagian
(OD & NORAD Norwegian Project: Staf Kajian dan Pendampingan Orang Rimba)

Lubuk Regas, 10 Maret 2004.
Tadi malam tersesat setelah berjalan sangat capek. Berangkat dari Dusun Tuo jam 9 pagi, sampai di Sungai Benuang sudah jam 3 sore. Lapar dan makan nasi sisa yang diberikan Bang Saipul dari Dusun Tuo. Nasi itu hanya aku yang makan. Porterku merasa tidak lapar. ia kelihatan sangat capek dan kepanasan. Ia membawa beban kurang lebih 35 Kg dengan jalan kaki kira-kira 16 Km.

Pada jam 6 sore kami sudah masuk ke daerah Pematang Limau. Jalanan setapak di dalam hutan sudah digenangi luapan air sungai kejasung. Karena hari sudah sore dan agak gelap, orientasi ruang sudah buyar. Kami berjalan dengan menaikkan celana sampai ke pangkal paha sekaligus was-was dengan terkaman ular air yang mungkin tertarik dengan sinar senter kami. Akhirnya kami melewatijalan yang diluapi air itu dan sedikit gembira karena sudah ketemu ladang Orang Rimba.

Kegembiraan kami segera pupus beberapa menit kemudian karena ladang itu tak ditunggui seorang manusia pun, kosong sepi. Aku coba 'bersesalung'(berteriak dengan cara orang rimba) tetapi suaraku tidak ada yang mendengar. Pernah sekali terdengarjawaban dari kejauhan tetapi kemudian hilang, aku frustrasi karenannya.

Akhirnya ku putuskan untuk bermalam di tepi ladang Orang Rimba tersebut walaupun kami tidak tahu siapa pemilik ladang tersebut. Bisa saja kami kena denda dengan perbuatan itu jika ada barang atau tanaman yang hilang dari kebun, kendatipun kami tidak menggambilnya. Kami berkeliling untuk mencari tepian sungai yang agak datar sekaligus dekat dengar air agar bisa memasak. Waktu kami melewati tepi ladang ternyata paroh ladang sudah ditinggalkan, namun dibagian lain masih kami temukan rumah yang sepertinya masih dihuni.

Kami berhenti pada sepetak tanah yang bersemak. Kami berdua mencabut golok dan membersihkan rerumputan dan semak duri agar bisa mendirikan tenda. Sekarang kami bisa mendirikan tenda dan meletakkan barang-barang bawaan kami.

Nasi sisa dari Desa Batu Sawar masih ada, sudah lebih berbau lagi karena dibungkus dalam plastik. Nasi basi seperti itu sayang untuk dibuag untuk orang yang kelaparan seperti kami, lagipula kami belum akan makan nasi setidaknya sampai besok pagi karena api belum bisa kami hidupkan untuk memasak.
Aku hanya berharap tidak tersesat lebih jauh. Aku harus menenangkan porterku, memasak dengan kondisi sangat buruk, hujan mulai turun, air sungai tidak terlalu jauh tetapi turun ke tebing sungai yang licin, sehingga setiap ambil air kaki penuh lumpur dan tak bisa masuk tenda.

Porterku juga tidak terlalu pembersih, tampaknya aku tidak bisa menuntut banyak dari dia malam ini. Syukur-syukur dia tidak minta pulang karena stres. Akhirnya air panas pertama mendidih, sedikit senang karena bisa buat teh. Sebelumnya entah sudah berapa kali meminum air sungai yang mentah dan aku khawatir kombinasi stres, capek dan makanan yang tak terartur dan tak bergizi dengan minuman yang tak matang akan merongrong staminaku.

Hujan semakin deras, dalam hujan rintik pun sudah sangat kepayahan menghidupkan dan memelihara api agar tetap hidup. Kami terpaksa memasukkan sisa kayu bakar ke tenda dengan kondisi bercampur gatal, belum mandi, tanpa lampu penerang karena bola senter mati. Akhirnya kami merebahkan diri, namun belum bisa pejamkan mata karena masih cemas. Agas menggigit sekujur tubuh, aku gerah sekali. Porterku kentut dalam tenda, bau tapi tidak ada pilihan selain tetap berada di dalam tenda. Dengat sangat tersiksa akhirnya tengah malam ku gosokkan Stop-X pada sekujur tubuhku dan sedikit hangat dibagian telapak kaki, namun agar kurang ajar itu terus mencari-cari tempat untuk menggingit, pada kuping dan dekat mataku, teruk...

Pagi, setelah bersusah payah menghidupkan api akhirnya berhasil menak nasi tetapi berasnya banyak tatal/sekam-nya, beras itu aku beli di Dusun Tuo. Akhirnya aku makan juga dan menutupnya dengan segelas capucino sachet.

Pagi hari setelah sedikit tenang, matahari mulai meninggi, kami melacak Orang Rimba yang berada di sekitar hutan tersebut, setengah jam kemudian kami bertemu dengan Selisi dan aku meminta dia ikut ke tenda. Setelah memberinya makan, ia bersedia bersedia mengantarkan kami ke Lubuk Rengas. Aku sudah tenang kembali. Porteku bersemangat karena membayangkan akan bertemu dengan Abul, Hari dan teman-teman satu desanya yang ikut dengan para antropolog yang mendahului kami 2 hari sebelumnya.

Dipinggir sungai kami bertemu lagi dengan seorang anak, dan dia memanggil Penyuruk. Penyuruk adalah orang yang sudah sangat biasa dengan kami, karena ia salah satu murid baca-tulis hitung KKI-Warsi. Bebera menit kemudia kami bertemu lagi dengan teman-teman lainnya. Sangat gembira. Aku merokok dan tidur dengan sangat terkendali. Beberapa jam kemudian, aku terpikir untuk mandi, mandi lama sekali, menggosok tubuhku yang bau dan juga rambutku yang gatal karena panjang, gosok gigi dan bisa berpikir untuk buat kegiatan 2 minggu di hutan, aku makan siang dan menggoreskan penaku pada buku diary.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar