Marahalim Siagian

Selasa, 15 Februari 2011

"Batu Bertanah": Mode Produksi Masyarakat Sambirejo

Oleh: Marahalim Siagian
(Mahasiswa Pascasarjana UGM)

Hidup di dataran tinggi yang kekurangan air dan tandus tidaklah mudah, seperti Desa Sambirejo di pengunungan Batur Agung. Pegunungan Batur Agung merupakan kawasan perbukitan yang membujur dari wilayah Prambanan sampai wilayah pantai selatan, perbukitan ini oleh Belanda disebut siwa plateau. Seperti halnya di Gunung Kidul, Desa Sambirejo selalu kekurangan air dan pada musim kemarau tanah-tanah pertanian tidak bisa lagi ditanami. Lapisan tanah di Desa Sambirejo sangat tipis, didominasi batuan kapur, sehingga penduduk desa mengidentifikasi desa mereka dengan sebutan ”batu bertanah”.
Dengan lingkungan khas seperti Sambirejo, menarik perhatian untuk mengetahui bagaimana penduduk desa memproduksi makanan dan kebutuhan hidup subsistesi lainnya. Dengan kata lain bagaimana moda produksi masyarakat di lingkungan kering dan tandus seperti Sambirejo?

Lansekap
Desa Sambirejo berada pada ketinggian 150-400 d.p.l Curah hujan rata-rata yang tercatat dalam monografi desa hingga Desember 2004 hanya 200-300 mm, dengan suhu udara rata-rata 23-32 derajat celsius. Topografinya ditandai dengan tanjakan memanjang dengan kemiringan kira-kira 30-45 derajat. Kita dapat menyaksikan pemandangan persawahan yang terdiri dari petak-petak kecil tanah pertanian, bertingkat-tingkat, di kiri kanan jalan. Lahan-lahan itu tidak seluruhnya ditanami padi, bahkan tidak terlihat penanaman padi serentak. Satu petak lahan pertanian misalnya digunakan untuk menanam kacang-kacangan, jagung, dan padi, dan atau campuran tanaman palawija dengan padi sesuai dengan kesuburan tanah.

Dari luas 839.637 ha tanah desa hanya 171.270 ha atau kurang dari 20 % yang dapat diolah menjadi lahan pertanian pangan. Angka ini telah mengindikasikan gambaran umum kekurangan pangan di desa yang berpenduduk 5.000 jiwa ini. Pada bagian puncak desa yakni kompleks Candi Ijo, daerah ini lebih banyak ditanami pepohonan. Bukit yang membentuk jurang dibawahnya sangat curam. Lahan seperti itu digunakan untuk tanah perkuburan dan atau dibiarkan menjadi semak belukar dengan menanami kayu jati. Budidaya kayu jati pada lokasi yang lebih ektrim ini merupakan potensi kayu bakar dan bahan baku kayu perumahan pada 5-10 tahun mendatang. Berbagai rumput yang tumbuh disela-sela kayu jati dipotong untuk makanan ternak. 600 ton lebih padi dihasilkan oleh lahan seluas 173 ha, 525 ton jagung dihasilkan oleh lahan 350 ha dan 1225 ton ketela pohon dihasilkan oleh lahan 350 ha. Tiga jenis tanaman pangan ini merupakan sumber karbohidrat utama penduduk Sambirejo. Selain padi, tanaman jagung, ketela pohon, kacang-kacangan, sayuran, pisang, mangga, dan hasil pertanian lainnya, masih mempunyai arti yang signifikan untuk pemenuhan hidup sehari-hari.

Sumber keberhasilan pertanian di Sambirejo ternyata karena tersedianya pupuk (organik) yang berasal dari kotoran ternak. Faktor inilah yang memungkinkan petani memproduksi makanan yang cukup untuk populasi manusia yang demikian banyak---dari kandang ke meja makan.

Kotoran ternak (jabuk) yang lazim dikenal pupuk kandang terutama bersumber dari 752 ekor sapi, dan 781 kambing. Satu ekor sapi dapat menghasilkan kira-kira 1 kg pupuk kandang kering per hari dan dari kambing kira-kira 0,3 kg pupuk kandang kering per hari, hasilnya 986 kg pupuk kandang per hari untuk lahan pertanian.

Ternak sapi tenaganya juga dimanfaatkan untuk membajak tanah pertanian. Kontribusi tenaga kerja sapi sangat besar peranannya pada tanah-tanah pertanian Sambirejo.

Sumber makanan ternak adalah rumput yang tumbuh dipekarangan, kebun dan tepi jalan. Selain itu, sumber yang lebih rutin dan berkesinambungan adalah rumput kolonjono yang ditanam serta jerami padi yang dapat disimpan dalam waktu lama tetapi, masih dapat diberikan sebagai makanan ternak dalam kondisi kering.

Petani yang berhasil harus memiliki ternak, bahkan jika tidak dapat memiliki dengan cara membeli, seseorang dapat memiliki sapi atau kambing dengan cara bagi hasil (gaduh), praktek seperti ini lazim terjadi di Sambirejo.

Sumber batu kapur, seperti telah disinggung di atas keadaanya melimpah bahkan dimasa yang akan datang. Penduduk telah mengenal baik manfaat batu kapur sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Produksi batu kapur awalnya ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku candi. Studi lapangan mahasiswa arkeologi Universitas Gadjah Mada tahun 2005 yang lalu (Penambangan Batu Putih Dan Pengaruhnya Terhadap Pembentukan Fitur Di Batur Agung) menginformasikan bahwa sumber batu untuk Candi Ijo, Candi Barong, rumah, dinding sumur galian berasal dari batu kapur dalam desa Sambirejo.

Komersialisasi batu kapur baru dimulai 1980-an seiring dengan dibukanya jalan kendaraan umum yang diikuti meningkatnya permintaan pasar. Selanjutnya, bentuk dan cara produksinya dikembangkan lebih massal, beragam, dalam bentuk dan ukuran.

Produksi batu diserap oleh pasar di Bali, Jakarta bahkan Malasya. Ratusan penduduk dapat terserap disektor ini dalam profesi yang berbeda-beda; sebagai penambang, buruh bongkar muat, sopir truk, penggergajian, dan pemahat batu.

Terdapat 8 industri kecil-menengah pengergajian batu yang beroperasi di dusun Nglengkong dan Gunung Sari. Seorang pengusaha penggergajian batu yang dikunjungi mempekerjakan 24 orang buruh. Pada kondisi optimal dimana mesin beroperasi seluruhnya ia dapat mempekerjakan buruh 28-30 orang. Gaji buruh bervariasi antara 20-25 ribu rupiah/hari.

Batu yang dapat diserap dari penambang sebanyak 3-4 truk per hari, basarnya permintaan bahan baku tidak dapat dipenuhi dari dalam desa sendiri. Untuk beberapa jenis batu seperti batu itam, batu ijo, kuning doreng didatangkan dari Wonosari dan desa disekitar merapi. Industri batu ini merupakan sumber ekonomi kedua di Sambirejo. Lebih dari itu, industri ini merupakan media hubungan sosial, ekonomi dengan masyarakat di dataran rendah.

Keberhasilan subsistensi pada masyarakat Sambirejo disokong dua jenis kegiatan produksi. Pertama. pertanian tadah hujan yang sukses pada lahan kering dan tandus, terdukung dengan jumlah ternak yang dapat memproduksi pupuk kandang untuk menyuburkan tanaman. Tenaga hewan peliharaan itu juga sangat penting perananya dalam kegiatan produksi pertanian. Tipe produksi pertama ini secara umum mendukung pemenuhan kebutuhan subsistensi masyarakat desa dan orientasinya domestik.
Berbeda dengan kegiatan kedua, yakni produksi batu kapur. Tujuan produksi batu kapur adalah masyarakat di luar desa (dataran rendah). Sektor ini menyediakan cukup besar lapangan pekerjaan. Sektor kedua ini memperlihatkan dinamika ekonomi di Desa Sambirejo yang berciri ke luar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar