Marahalim Siagian
(NORAD & OD Norwegian Project: Staf Kajian dan Pendampingan Orang Rimba)
Sialang, merupakan sumberdaya penting yang dilindungi oleh Orang Rimba (Kubu), begitu tingginya nilai pohon sialang ini sehingga di setarakan dengan satu nyawa manusia. Sialang adalah sebutan umum, untuk mengatakan pohon madu yang merupakan istilah yang lebih luas menyebut "kedudungdung"/"kedongdong", "kruing", "pulai", "kayu kawon", dan "par"i
Mani rapa, begitu Orang Rimba menyebut madu adalah sebuah keajaiban sekaligus dianggap bedewo (keramat). Madu dipercaya Orang Rimba berasal dari bunga-bunga yang telah mengembang yang dibawa rapa/repo (lebah) di kepala dan kakinya. Sedangkan anak rapa berasal dari embun yang dimasukkan kedalam sarang-sarang yang sangat rapi---lubang-lubang yang hampir sama ukuran. Mulanya ia akan menjadi klayot lalu makan madu sehingga ia bertambah besar dan menjadi dewasa—kepala, kaki, sayap dan semakin hitam dan akan menjadi anak dewasa yang juga masih dapat dimakan.
Dikisahkan bahwa rapa berasal dari gunung Kerinci yang mempunyai penjaga(pawang) yang digambarkan bermata merah, garang, berkulit putih dan tinggi besar seperti Orang Belanda. Konon mereka mengakui ada sialang batu yang merupakan perhention(perhentian) rapa di sana. Lebah datang seperti musim, menjelang bunga mulai memekarkan kelopaknya. Siang malam lebah akan bekerja menimbun madu seperti para protestan yang menganggap bekerja sebagai ibadah.
Menjelang sore laki-laki dewasa yang telah belajar memanjat sialang mulai melantak (memakukan kayu ke pohon sialang) hingga ke cabang pertama dan dilanjutkan pada malam hari pada cabang-cabang yang lebih kecil untuk menghindari cahaya agar tidak disengat lebah.
Beberapa pemuda yang memanjat sialang, telah menghafalkan sejumlah tomboy(pantun) yang sangat sitematis dan pada malam hari pantun itu akan digunakan merayu gadis agar memberikan susunya untuk diperah. Gadis yang dimaksud adalah lebah dalam anatominya yang dapat dikenali dengan beberapa sebutan. Bidang, kepalo rapa, anak, dan induk rapa.
Mengambil madu memerlukan sebuah ritus penyucian diri untuk menghindari songot rapa (sengat lebah.), karena jumlahnya mencapai ratusan ribu ekor, rapa sangat potensial untuk menciderai sebab punya bio(bisa) yang meyiksa korbannya karena sengatannya. Untuk menghindari hal tersebut tidak diperbolehkan mandi pakai sabun, makan cabai, garam, ketiga pantangan ini bersifat tajam (bermambu, peday, asin). Makanan lain yang juga dihindari mis, boung, ikan tano, keli, kepuyu, sepat, kebakang, tikus dan daging babi, karena punya “kemiripan” dari sifat yang dapat dilihat pada lebah).
Keseluruhan objek sialang dipandang mempunyai “pemilik” yang sifatnya gaib dan dalam pantun harus disebut satu persatu untuk menghindari rintangan, sapaan dari setan yang menghuni pohon sialang tersebut.
Pohon sialang sendiri dipersonifikasikan sebagai balay panjang (rumah panggung:penulis) dan di balai panjang tersebut terdapat gadis yang dianggap tunangan dan induk sebagai penjaga anak gadis tersebut.
Proses pengambilan madu digambarkan sebagai sebuah penyuntingan anak gadis oleh pemuda yang gagah. Dimulai dengan memindahkan penghuni pohon sialang untuk sementara agar tidak menegur sapa dan menghalangi, lalu dilanjutkan dengan besetabik (petmiasi) sebagai salam perkenalan untuk berkeliling balay panjang, lalau dilanjutkan dengan menjauhkan induk rapa atau menurunkannya dengan cara membujuknya, kemudian setelah hampir semuannya di turunkan diahiri dengan pantun beramit (permisi) turun dari pohon sialang.
Semua peralatan yang dipakai dalam menurunkan madu haruslah baru; lantak, geganden, tunom, tali hanyut, sludang, sengkorot, periuk. Lantak digunakan sebagai pijakan untuk naik pohon sialang dengan cara memakukannya dengan menggunakan gegenden berfungsi seperti martil besar dan terbuat dari akar kayu sungori lebah di usir dengan menggunakan tunom (bara api) kulit kayu meranti yang dijadikan sebagai api untuk mengusir lebah lalu madu di turunkan dengan tali hanyut (tali untuk menurunkan madu) yang dibuat dari routan temiyang yang cukup kuat dan sebagai wadah penampungya digunakan sludang yang terbuat dari kulit kayu dibentuk seperti ember persegi empat yang ringan namun kuat.
Madu yang letaknya sulit karena pada dahan yang kecil dapat diambil menggunakan bantuan sengkorot yang terbuat dari kulit antuy yang panjangnya mencapai 20-25 cm untuk di ikatkan dikaki dengan cara telungkup menjalar pada dahan yang paling kecil.
Orang Rimba memakan madu dengan beberapa cara:
-Direngka, anak rapa lebah yang masih muda dipotong-potong kecil-kecil lalu di campur madu secukupnya kemudian dikukus atau di goreng tanpa menggunakan minyak.
-Klayot, anak rapa yang masih putih seperti ulat kecil bisa dimakan dengan mencampurkan madunya , rasannya seperti susu.
-Kluyu, anak rapa yang bagian tubuhnya dikeluarkan dengan cara memerasnya, air yang keluar dimasak hingga mendidih dan mengumpal ,dimakan tanpa menggunakan air madu.
Madu diawetkan dengan cara memasaknya , menggunakan suhu api yang harus relatif stabil. Madu selain untuk diminum, juga digunakan sebagai obat. Seperti obat untuk bekas sengatan yang membengkak, untuk ibu yang baru bersalin dengan mengoleskan diperutnya, juga di oleskan pada bibir bayi yang baru lahir agar cepat menyusui.
Sarang lebah biasannya telah dibagi-bagi kepada semua orang yang hadir, dan semuanya biasannya mendapkan madu. Pembagian sarang lebah didasarkan pada orang-orang yang intensif menjaga/membersikan belukar sekitar pohon, juga didasarkan atas kepemilikan sialang.
Selain dipohon sialang lebah juga bisa ditemukan pada kayu lain dengan jumlah sarang yang sedikit. Lebah seperti ini dikenali sebagai rapa bumbun. Selain manusia, elang juga mengiginkan madu dan kadang beberapa dari sarang telah kosong karena diterkam oleh elang.
Banjirnya madu menjaminkan tersediannya kecukupan vitamin, protein, lemak dan unsur-unsur lain yang dibutuhkan Orang Rimba dalam jangka waktu yang relatif lama (setidaknya 2 bulan) setelah masa itu beberapa bulan kemudian akan muncul musim buah---buah petahunon, yang juga menyediakan kecukupan makanan bagi Orang Rimba. Siklus tahunan ini tampaknya yang memberikan setengah tahun makanan yang berkecukupan, dan siklus ini begitu mereka pahami sebagai sumberdaya penting yang jika terganggu mengancam kelangsungan hidup mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar