Marahalim Siagian
(OD&NORAD Norwegian Project: Staf Kajian dan Pendampingan Orang Rimba)
Senja di Dusun Tuo, tidak seperti senja lain yang berlalu menyambut malam. Matahari memerah seperti cat dalam canva dengan awan sebagai viguranya. Aku duduk di atas perahu yang ditambatkan di Sungai Batang Hari yang hiruk oleh penyadap karet yang pulang dari ke rumah. Aku terpana pada sebaris pepohonan yang berubah warna seperti api; tidak terlalu tampak panas hanya redup dengan warna merah kekuning-kuningan, diumbuhi warna hitam yang mulai jelas di Timur. Di jemban, tepian sungai, emak-emak memukulkan pakain kotor ke sebatang kayu. Mencelupkannya kembali ke sungai Batang Hari yang coklat. Lalu menyabunnya lagi. Buih-buih sabun hanyut seperti kembang-kembang yang diserakkan di air yang tenang. Dan aku terpaku oleh efek romantis senja hari.
Senja telah benar-benar lenyap, berganti dengan suara jangkrik yang bersahut-sahutan dengan kodok di tebing sungai yang lembab. Sekelompok emak-emak (ibu-ibu) turun lagi ke sungai dengan pakai sarung, jongkok dan menyulut rokok sambil membuang hajat. Mereka membuang hajat sambil mengobrol. Aku tidak mengerti bagaimana hal seperti itu berjalan sealamiah itu. Aku tidak selera mandi, bahkan enggan mencelupkan kakiku ke air. Ada perasaan malas dan pikiran yang berbunga-bunga dan aku larut dalam lamunanku, seperti tidak ingin terganggu dan kehilangan senja yang barusan singgah di Dusun Tuo.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar