Marahalim Siagian

Jumat, 06 Mei 2011

Riwajat Seboeah SD Inpres

SD Inpres 013 Lelaumpang Desa Polewali Kecamatan Pasangkayu Kabupaten Mamuju Utara Propinsi Sulawesi Barat kondisinya sangat memprihantinkan. Mungkin sejak dibangun sekolah ini tidak pernah dirawat. Apakah karena tidak ada dana perawatan atau dana perawatannya diselewengkan kepala sekolah belum diketahui. Sekolah dasar ini hanya 20 Km dari kota Pasangkayu, Ibukota Kabupaten Mamuju Utara.

Pada kunjungan saya tanggal 6 Mei 2011 atas ajakan partner kerja (Babinsa) Serma Arifin, saya mencatata
ada 153 anak-anak yang menuntut ilmu di sekolah ini, namun dengan kondisi sekolah yang "sakit" dan guru-guru yang kurang termotivasi, mutu pendidikan sekolah ini menjadi rendah.

Hampir tak terbayangkan bahwa masih ada sekolah di jaman sekarang (dekat kota kabupaten) yang samasekali tidak memiliki meja dan kursi. Pintu kelas yang tidak dapat dikunci, lantai yang "bopeng-bopeng", plafon kelas yang terbuka menganga, sarana belajar yang tidak layak (mis, papan tulis), halaman sekolah yang kerap banjir.



Minggu, 20 Februari 2011

DAYAK PUNAN MALINAU DAN TUBU-KALTIM

Penelitian lapangan ini dilakukan dari tanggal 6 sampai 27 November 2005, dengan suatu rencana  penelitian terfokus terhadap beberapa aspek kebudayaan Punan. Sebelumnya, telah didapatkan informasi umum, sebagai dasar  untuk mengembangkan pengetahuan lebih lanjut di daerah penelitian. Karena keterbatasan waktu, seorang Punan (asisten lapangan)turut membantu mengatasi hambatan teknis, memperjelas arti beberapa istilah dalam bahasa lokal yang di temui selama penelitian. Sebuah surat pengantar yang didapatkan dari Lembaga Adat Punan di Malinau juga melancarkan kegiatan studi.


  • Das Malinau Selatan
Kecamatan Malinau Selatan dibentuk tahun 2002, pusat kecamatan berada di Loreh. Pusat  kecamatan merupakan gabungan dari 4 desa (Loreh, Sengayan, Pelancau dan Bila Bekayuk) dua dari desa yang ada merupakan desa berpenduduk Punan (Pelancau dan Bila Bekayuk) satu desa  berpenduduk Kenyah (Long Loreh) dan Desa Sengayan yang berpenduduk Merap. Ada 3 (tiga) sekolah menengah  pertama (SMP) di kecamatan; SMPN 02 di Loreh, SMPN di Setulang dan SMP satu atap di Tanjung Naga. Fasilitas lain  yang tersedia satu unit Puskesmas yang melayani 24 desa di kecamatan.

Loreh merupakan pusat perdagangan dan pemerintahan Kecamatan Malinau Selatan, terutama karena keberadaan perusahaan tambang batubara milik PT. Bara Dinamika Muda Sukses (BDMS) yang beroperasi di daerah itu. Pertumbuhan pendatang dari luar daerah meningkat untuk bekerja di perusahaan, sementara keterlibatan penduduk Punan di perusahaan belum nyata. Keberadaan perusahaan ini sangat nyata mendinamisasi pertumbuhan desa-desa di sekitar dan pusat kecamatan. Akibat langsung adalah meningkatnya kebutuhan kayu dan nilai lahan, sehingga hutan di sepanjang jalan berlomba-lomba dibuka.

Di Loreh Punan merasa diperlakukan sebagai pendatang oleh Kenyah dan  Merap hal ini menimbulkan reaksi Ipu Kre (ketua adat kecamatan) dan mendorong dilakukannya pembagian wilayah melalui forum adat. Saat ini batas yang disepakati untuk Punan adalah hutan disebelah kanan mudik sungai Malinau. Namun perebutan tanah di sepanjang jalan masih merupakan potensi konflik. Perebutan lahan ini telah menimbulkan ketegangan setidaknya mulai tahun 1998 antara penduduk Punan, Merap, dan Kenyah yang lebih mendominasi. Kegiatan perladangan terdukung dengan truk antar jemput yang disediakan perusahaan untuk memobilisasi penduduk.

Motivasi lain pembukaan ladang bertujuan untuk mendapatkan ganti rugi akibat penambangan batubara. Satu contoh tindakan ektrim yang dilakukan perusahan batubara adalah memindahkan desa Langap ke tepi jalan agar dapat menambang batubara yang berada di bawah rumah penduduk. Ancaman nyata lain terhadap kerusakan hutan di sepanjang sungai  Malinau adalah PT. Meranti Sakti yang melakukan pengambilan kayu di hulu sungai. Pengambilan kayu menjadi pendapatan lain penduduk. Harga kayu ulin di pasar lokal Rp.1 juta/kubik, kapur Rp.8-900 ribu/kubik dan meranti Rp.700 ribu/kubik. Selain untuk bahan bangunan, papan terserap juga pada usaha pertukangan perahu, yang merupakan sumber pendapatan lain rumah tangga. Harga perahu (ketinting) di Loreh per unit sebesar 500 ribu rupiah. Sumber pendapatan lainnya dari penjulan daging babi, pasar daging babi cukup besar karena penduduk di hulu sungai beragama Kristen. Harga daging babi di Loreh Rp. 8-10 ribu demikian juga di Tanjung Naga. Beberapa rumah tangga dari Desa Halanga secara  rutin memasok daging babi untuk kebutuhan di Loreh


  • Das Tubu
Secara administratif Tubu merupakan bagian dari Kecamatan Kayan Mentarang dan Pulau Sapi sebagai ibu kota kecamatan. Pulau Sapi merupakan pusat perdagangan bagi desa Punan yang berada di Sungai Tubu. Kota kecamatan dapat di akses dari kota Malinau dengan transportasi air dan darat.

Sistem transportasi utama adalah kendaraan air “ketingting” dan “longbot” yang berbahan bakar bensin. Jenis kendaraan tersebut diatas merupakan kendaraan yang sesuai denga Das Tubu yang bercirikan arus deras, berbatu dan banyak “giram” yang membuat transportasi  air sangat sulit. Semua desa berada pada muara sungai yang membentuk sungai Tubu, namun kondisinya hampir sama dengan sungai Tubu, sehingga kendaraan air tidak dapat menjangkau desa. Praktisnya, lalulintas manusia antar desa menggunakan jaringan jalan setapak yang terhubung melalui punggung bukit/gunung. Jumlah penduduk relatif kecil, rata-rata 170-225 jiwa dalam desa/pemukiman       (Kuala Avang 37 jiwa, Long Pada 185 jiwa, Long Ranau[1] 65 jiwa, Long Tami 26 jiwa, Long Penai 12 jiwa, Rian Tubu 167 jiwa), karakteristik penduduk ini menunjukkan tiga hal. Pertama, luas pemukiman relatif kecil, hanya setara dengan 2-3 kali lapangan bola. Kedua, untuk mendapatkan lahan subur pertanian dan dekat dengan sumber daya hutan. Ketiga, mendapatkan otonomi hidup dan cara menghindari konflik.
Penduduk umumnya hidup dalam susbsistensi yang berdasar pada hasil hutan. Pemanfaatan hutan untuk pertanian pangan relatih kecil terutama karena teknologinya sederhana serta serapan tenaga kerja yang besar. Tenaga kerja merupakan komponen yang paling besar dalam menebas (menderik), menebang (nevong), memotong dahan (netu), membakar (tutung) dan atau membakar kembali sisa bakaran yang tidak sempurna (mekup). Kerjasama rumah tangga affine dan keluarga luas masih berjalan terutama dalam kegiatan membuka ladang. Di  luar itu sistem upah dipraktekkan. Upah harian berkisar 30-50 ribu rupiah. Luas lahan yang dapat dibuka satu rumah tangga ½ sampai 1 hektar, membutuhkan 5 kg bibit padi. Hasil  padi (dipanenan dalam  umur 5 bulan) dalam kondisi baik hasilnya mencapai 100 kg atau 30-50 Kg dalam kondisi gagal. Jumlah ini hanya dapat memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga  3-6 bulan, kekurangan pangan disubsistusi ubi kayu (inau) dan atau sagu hutan (lo’ hulung). Satu batang sagu besar dapat mencukupi kebutuhan makan satu rumah tangga dalam satu minggu. Hasil perburuan masing sangat baik, terutama ikan, babi, dan bintang buruan lainnya. Peranan anjing sangat besar dan alat berburu yang dipergunakan--sumpit dan tombak (bujak), sangat murah dan efektif. Racun untuk sumpit (tacom) dapat produksi dari berbagai akar, daun, getah yang sumbernya melimpah.
           
Pada musim buah, terjadi migrasi babi (bavui nyatung) dari Malinau ke Tubu dan sebaliknya, dimana babi sangat mudah untuk dibunuh. Surplus lemak babi diolah menjadi minyak (lanyih) yang berfungsi sebagai pengganti minyak sayur. Pada musim ini penduduk dapat menyimpan minyak babi 5-25 kg/ rumah tangga. Surplus ini sekaligus menjamin anjing peliharaan mendapatkan makanan berkualitas tinggi.Walau dekat dengan sumberdaya hutan, kondisi ekonomi penduduk masih marjinal. Terutama karena mereka sedikit banyak merupakan bagian dari sistem ekonomi pasar. Kebutuhan seperti gula, rokok, tembakau, garam, obat, harganya cukup tinggi. Hampir semua desa tidak memiliki warung yang dapat menyediakan kebutuhan barang. Ketersediaan barang disuplay oleh toke gaharu yang merangkap pedagang kebutuhan pokok, diantaranya berasal dari Singaterang. Secara historis peran ganda ini dilakukan oleh orang Tidung dan Putuk/Lundayeh, dimana para pedagang mudik ke hulu sungai untuk menukar tempayan atau  gong dengan gaharu, damar, geliga, dll dimasa lalu. Pola ini sekarang sudah jauh berubah namun masih berjalan.
Toke disebutkan kerap melakukan eksploitasi melalui harga barang yang diperjualbelikan, terutama harga gaharu. Namun hubungan ini tetap berjalan karena jerat hutang dan juga toke yang dapat berfungsi sebagai bank untuk yang membutuhkan uang segera. 


[1] Sebanyak 13 rumah tangga tinggal di Mabau

PT Pasangkayu Junior High School

SMP PT Pasangkayu, salah satu SMP yang dibangun dan dikelola Astra Agro Lestari untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas untuk masyarakat di pedalaman Mamuju Utara. Sekolah ini dilengkapi dengan fasilitas internet, laboratorium bahasa, lab kimia, lab komputer, perpustakaan, UKS, konseling dengan tenaga pengajar yang terakreditasi. Tamatan pertama sekolah ini (thn 2010) dapat lulus 100% ujian nasional dan menjadi salah satu sekolah favorit dan kebanggaan masyarakat di Mamuju Utara umumnya dan di lingkungan PT Pasangkayu khususnya.

Seleksi Calon Pengelola LKM: A Note

PT Suryaraya Lestari I, 2008

Seleksi peneriman calon pengelola LKM dilakukan pada Kamis, 17 Juni 2008 bertempat di ruang rapat (meeting room) PT Suryaraya Lestari I. Sedianya seleksi telah dimulai pada Rabu, 16 Juni 2006, namun hal itu tertunda sehari karena Bapak Zainal dari PT Beraklah Madani baru tiba pada siang hari tanggal 16 Juni 2006. Ada 13 (tiga belas) pelamar yang dinyatakan berhak mengikuti seleksi selanjutnya. Test meliputi dua bagian: tertulis dan wawancara. Test tertulis mulai dilakukan pada jam 08.00 Wita. MT CDO (Marahalim & Imam) bertindak sebagai pengawas ujian dan time keeper.  Test tertulis terdiri atas 18 bagian dengan durasi pengerjaan soal yang berbeda-beda, soal-soal dimaksud antara lain:  pengetahuan umum, hafalan ringan, kemampuan numerik, logika (silogisme), uji ketelitian, Bahasa Indonesia (antonim VS sinonim) dan test kreatifitas lewat menggambar. setelah test tertulis, peserta diberikan waktu untuk istirahat selama 30 menit (dengan suguhan kue dan minum) baru kemudian dilanjutkan dengan sesi wawancara. Mempertimbangkan banyaknya peserta test wawancara, MT CDO turut membantu wawancara dengan menggunakan panduan baku yang disediakan oleh PT Berkah Madani. Alat ukur wawancara meliputi  5 (lima) item dengan skala 1-4 yakni: a) 1=kurang, b) 2=cukup, c) 3= baik, d) 4=sangat baik.  Hasil seleksi diperiksa pada sorehari tanggal 17 Juni 2008 oleh Bapak Zainal, Marahalim Siagian dan Imam Thayibi. Hasilnya  direkomendasikan 6 (enam) orang untuk menjadi pengelola LKM berdasarkan hasil test dan latar belakang pekerjaan serta pendidikan. Dari hasil test tertulis score terrendah adalah 105  (Dorce Paliling) dan score tertinggi 250 (Reynold), sementara score wawancara terrendah adalah 7 (Dorce Paliling) dan score tertinggi 19 (Reynold) dalam skala 1-20.
     

*      Laporan Proses
Bertempat di meeting room kantor PT Suryaraya Lestari 1, seleksi penerimaan calon karyawan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dilaksanakan pada tanggal 17 Juni 2008 dengan diikuti oleh 13 peserta. Saharian penuh, para peserta menjalani test tertulis yang kemudian dilanjutkan dengan sesi wawancara. Test tertulis itu sendiri berlangsung selama empat jam meliputi test: pengetahuan umum, hafalan ringan, kemampuan numerik, logika (silogisme), uji ketelitian, Bahasa Indonesia dan test kreatifitas lewat menggambar. Setiap peserta diwajibkan menyelesaikan bagian-bagian tes tertulis tersebut dengan durasi waktu yang tercantum pada soal. Seperti penyelenggaraan test umumnya, penggunaan alat komunikasi handphone tidak diperkenankan beserta alat hitung lainnya. Sebagai gantinya kami menyediakan kertas ‘ceker’ pada setiap peserta untuk soal-soal hitungan. Di awal test tertulis kami mendapati seorang peserta yang selalu mencoba melakukan kecurangan dengan menyontek jawaban peserta di sampingnya. Hal itu dilakukan berulang-ulang dan baru berhenti setelah kami mengancam tidak akan memeriksa kertas jawabannya.
Rangkaian test tertulis berakhir pada jam 12.00 Wita. Peserta diberikan waktu istirahat selama 60 menit berikut untuk minum dan snack yang disediakan PT Suryaraya Lestari I. Sesi  test wawancara dilanjutkan pada jam 13.00 Wita. Kami diminta Bapak Zainal untuk membantu beliau mewawancarai 5 (lima) orang peserta, sementara 8 (delapan) orang lainnya diwawancarai Bapak Zainal dengan panduan baku penilaian wawancara yang disediakan PT Berkah Madani. Pedoman penilaian wawancara tersebut kami gunakan untuk mengukur  5 (lima) hal dari peserta test dan beberapa sub itemnya, antara lain: latarbelakang keluarga, pendidikan dan pengalaman kerja, kemampuan verbal,  pengetahuan tentang LKM, motivasi kerja, dan personality character. Durasi test wawancara berkisar antara 15-20 menit.
Berdasarkan wawancara, kami mendapati bahwa tidak ada satu pun peserta yang memiliki pengalaman kerja di sektor perbankan. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan kenyataan bahwa separuh dari peserta yang mengikuti seleksi tersebut memiliki latar belakang pendidikan ekonomi/akuntansi. Sebagian dari mereka bahkan terlihat sedikit kesulitan menjawab pertanyaan seputar pengetahuan LKM. Hanya beberapa diantara peserta yang mampu menjelaskan secara mendalam baik definisi, fungsi, maupun operasional LKM secara garis besar. Saudari Chaterina misalnya. Wanita yang sedang mengandung 6 (enam) bulan ini merupakan satu dari sekian peserta yang bisa memaparkan secara gamblang fungsi LKM.
Setelah tahap test tertulis dan wawancara selesai dilaksanakan, kami bersama Bapak Zainal kemudian memeriksa hasil test tertulis dan hasil test waawancara keseluruhan peserta pada sore hari itu juga di Mess PT. Suryaraya Lestari-1. Butuh waktu lebih dari tiga jam untuk menyelesaikan memeriksa test tertulis ke-tigabelas peserta tersebut. Hasil pemeriksaan test tertulis dan wawancara menunjukkan bahwa lima nama teratas hanya masuk dalam kategori cukup: Reynold (250 dan 19), Arni Ariani (241,5 dan 17), Selvina (228 dan 16), Suri Tangalayuk (222,5 dan 16), Chaterina Ninik Sri (220 dan 18). Selebihnya tidak masuk kategori cukup karena hanya memperoleh score di bawah 200, berturut-turut adalah: Erlisa (189 dan 16), Lilianty Datu (179 dan 15), Salviani (171,5 dan 14), Suleman (154,5 dan 14), Naomi Basongan (144 dan 17), Meri (144 dan 14), Asrul Sani (111,5 dan 12), serta Dorce Paliling (103 dan 7).
Hasil dari test ini melahirkan 6 (enam ) nama yang direkomendasikan untuk menjadi pengelola LKM, mereka adalah:
1.      Reynold
2.    Arni Ariani
3.    Selvina
4.    Suri Tangalayuk
5.    Erlisa
6.    Asrul Sani

*       Briefing untuk pelatihan staff LKM di Mamuang
Nama-nama tersebut di atas sempat didiskusikan dengan Bapak Harinoto dan Bapak Unari, kami diminta untuk membuat rekapitulasi data diri peserta berikut dengan hasil testnya. Rekapitulasi ini telah dikirimkan ke sekretariat CD pada hari Sabtu, tanggal 18 Juni 2008 oleh Bapak Unari (CDO/ Ka Kebun) PT SRL 1.
            Nama-nama yang dinyatakan lulus dan selanjutnya dihubungi untuk mengikuti briefing pelatihan LKM adalah:
1.      Reynold
2.      Selvina
3.      Suri Tangalayuk
4.      Erlisa
5.      Salviani
6.      Asrul Sani
Melihat komposisi laki-laki dan perempuan, Bapak Unari memberitahukan pada peserta bahwa Saudara Erlisa (direkrut di PT SRL 1) akan bertukar tempat kerja dengan Saudara Syahrudin (direkrut di PT SRL 2). Kedua nama yang disebut di atas hadir pada hari Sabtu, 18 Juni 2008 pada saat briefing pelatihan LKM dilakukan di kantor PT SRL 1 dan menyatakan kesiapannya. Disamping itu, peserta juga diberikan informasi mengenai ketentuan yang harus dipatuhi peserta selama pelatihan. 



Micro Finanance: Field Note

Pinrang-Pare-Pare, 2008

Kegiatan mikrofinance di Indonesia sebenarnya sudah memiliki umur yang panjang. Mulai dari skala kecil tradisonal seperti arisan sampai organisasi yang komplek dan modern seperti BRI unit. Baitul Maal  wat Tamwil alias BMT adalah salah satu dari kategori microfinace ini. BMT memiliki sejarahnya sendiri, dan tumbuh dengan nasabah yang mayoritas beragama Islam. Satu hal yang menojol dari lembaga moneter islam ini adalah sistem bagi hasilnya derta sifat pengelolaanya yang memedomani nilai-nilai keislaman. Bila diteropong dari kacamata pengelolaan microfinace biasa maka terasa ada keganjilan dalam pengelolaan BMT/LKM. Ambil contoh, seorang nasabah dapat mengajukan pembiayaan cukup dengan disumpah saja. Sebagai gambaran umum, akan dikemukakan profil masing-masing BMT.

BMT ASY-SYABAAB, BMT ini didirikan sebagai jawaban atas sulitnya akses masyarakat ke Bank umum 10-15 tahun yang lalu. Dengan berdirinya BMT ini paling tidak dapat membantu nasabahnya dari segi permodalan pengembangan usaha mikro dengan suntikan permodalan. Di awal berdirinya, BMT ini menjalin kerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) untuk melakukan pelatihan pelatihan keterampilan kerja nasabahnya. Nasabah yang terlah mengikuti pelatihan ini kemudian diberi modal untuk memulai dan mengembangkan usahanya. Dari sinilah tumbuhh kegiatan ekonomi akar rumput di Pinrang yang sempat kolaps akibat krisis ekonomi yang melanda pelosok negeri ini pada tahun 1998. Usaha kecil dimaksud seperti pembuatan kue dan jajanan, reparasi kulkas, dan keterampilan mengelas listrik. Seiring berjalannya waktu BMT ini menjalin kerjasama dengan Bank Muamalat dalam hal penyelenggaraan haji. Masuknya BMT ini dalam bisnis pemberangkatan ibadah haji membuat Departemen Agama berang. Depaetemen Agama menyebarkan himbauan agar calon jamaah haji tidak berhubungan dengan BMT Asy Sabaab. BMT ini dituduh mengelola dana gelap. Pihak pengelola BMT menyadari posisi ini namun mereka terus bertahan dengan modal pelayanan dan membangun kepercayaan. Dalam beberapa tahun kemudian BMT ini semakin dipercaya. Saat ini BMT Asy Sabaab ini rata-rata memberangkatkan 250 calon jamaah haji, nomor dua terbesar di Pinrang. Dana yang dikelola BMT Asy Sabaab saat ini berkisar antara 2-3 Miliar.

Alamat: JL IMAM BONJOL NO 37 TELP 923530 KOTA PINRANG
BELAKANG MESJID AGUNG

BMT AL BIRRY, BMT ini lahir tahun 1995, salah satu BMT yang tertua di Pinrang. Al Birry awalnya didesain sebagai Bank Perkreditan Rakyat Syariah. Namum karena legalitas nya tidak memenuhi syarat untuk menjadi BPR Al Birry berubah badan hukum menjadi BMT. Namun,  walau berbadan hukum koperasi, BMT ini tidak membagi SHU kepada nasabahnya. Nasabah hanya memperoleh pendapatan berupa bagi hasil, sedangkan SHU dibagi diantara pendiri dan pengurus BMT saja. BMT ini meluncurkan beberapa produk, tabungan pendidikan, tabungan perkawinan, disamping pembiayaan usaha kecil di pasar sentral kota Pinrang. Bentuk pembiayaan dilakukan dengan uang tunai bukan barang dengan birokrasi yang tidak rumit (cepat dan berkualitas). Di luar kegiatan simpan pinjam BMT ini juga menggarap sektor riil namum diakui mereka belum dapat bersaing dengan pasar. Uang yang dikelola BMT Al Birry saat ini berkisar 4 Miliar dengan pendapan bersih sekitar Rp. 70.000.000 per tahun

Alamat: JL MONGONSIDI NO 38 TELP 0421-923760
DEPAN MESJID RAYA KOTA PINRANG


BMT Fauzan Azhima, BMT lahir pada saat krisis moneter tahun 1997. Kelahirannya tidak terlepas dari Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK) binaan ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia). BMT ini berkantor di Islamic Centre yang cukup megah di kota Pare-Pare. BMT Fauzan merupakan satu dari setidaknya 20 Lembaga Keuangan Bukan Bank yang ada di Kota Pare-Pare. Nasabah utamanya 60 persen adalah pedagang pasar pusat Pare-Pare. Selain kegiatan simpampinjam BMT ini melakukan pembiayaan sepeda motor dan alat-alat elektronik. Lembaga ini juga menjalin kerjasama dengan Kementerian Perumahan Rakyat, hasilnya diluncurkan produk pembiayaan perbaikan rumah masyarakat miskin. Kegiatan ini telah memasuki tahun ke dua. Uang yang dikelola lembaga ini berkisar 2 Miliar. Bila dibandingkan dengan BMT sejenis di kota Pinrang dana berputar di lembaga ini lebih kecil, namun memperhatikan jumlah micro finance di Pare-Pare yang julamnya belasan, aset ini tergolong besar.
Alamat: JL DELIMA NO 4 KOTA PARE-PARE
BELAKANG ISLAMIC CENRE

Sabtu, 19 Februari 2011

Road for Welfare







Desa Ngovi Kecamatan Rio Pakava adalah sebuah desa berpenduduk mayoritas Suku Bunggu atau Binggi yang mendiami dataran tinggi Donggala. Desa ini jauh dari sentrum pemerintahan sehingga tergolong minim perhatian dari pemerintah.
Penduduk di daerah ini hidup dari bertanam kakao dan belakangan kelapa sawit. Hasi-hasil pertanian biasaya dipikul dalam jarak yang cukup jauh dan upah yang tinggi. Dibukanya jalan ini dapat mempermudah masyakat untuk mengeluarkan hasl pertaniannya dengan biaya yang lebih murah.

Program ini terwujud atas kerjaama masyarakat Ngovi dengan PT. Pasangkayu dengan pendanaan utama PNPM.

A Morning in Bambamone

19 November 2010
Bambamone adalah sebuah dusun di Desa Gunung Sari, Kecamatan Pasangkayu, Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulawesi Barat. Dusun ini pada dasarnya adalah perluasan dari pemukim Bali yang migrasi ke Kelurahan Martajaya pada tahun 80-an. Orang meyakini bahwa Suku Bunggu (Sub Etnik Kaili) telah mendiami kawasan lebih awal, kemudian migrasi penduduk dari daratan Sulawesi Selatan: Toraja dan Bugis. Secara umum dusun/desa ini masih terisolasi. Sejumlah proyek pembangunan pemerintah yang diinvestasikan tidak berjalan baik, diduga karena diselewengkan. Hal ini terlihat dari pondasi jembatan dan proyek infrastruktur desa tidak berkembang.


Awernes Terhadap Undang-Undang Berlalulintas dan Penggunaan Helm SNI

SMP PT Pasangkayu, 12 Februari 2011

Sosialisasi Undang-Undang Lalulintas dan penggunaan helm SNI di SMP PT Pasangkayu.
Hadir dalam acara: Kasatlantas Matra AKP Abdul Rahman dan Kanit Laka. Ibu Kartina (kepala sekolah SMP) dan Ibu Hadiana (Kepala Sekolah SD PT Pasangkayu), Para siswa pengguna kendaraan dan siswa kelas 3. Bapak Triyanto dan Marahalim Siagian hadir mewakili management.

Stakeholder Empowering

Radar Sulbar, 16 Februari 2011
Koran Radar Sulbar menerbitkan berita Pelatihan Petani IGA yang dilakukan PT Pasangkayu terhadap mitranya. Sebanyak 65 orang di undang dalam kegiatan pelatihan ini, namun yg hadir ada 47 orang. Kegiatan ini diisi oleh pemateri Agustinus Silalahi dan Nursalim. Kegiatan ini terselengara atas bantuan Bapak Eri Ka TCA Area C1 yang diorganisir oleh CD Officer PT Pasangkayu Marahalim Siagian.

Selasa, 15 Februari 2011

Silahturahmi Astra Lestari Tbk Dengan Wartawan Matra.

Sumber: http://www.ujungpandangekspres.com
Astra Lestari Tbk menemui beberapa wartawan Kabupaten Mamuju Utara (Matra) di Rumah Makan Blok M Pasangkayu selasa kemarin. Silahturahmi ini merupakan pertama kalinya di lakukan oleh Perusahaan yang ada di Matra selama ini. Astra Group berencana menciptakan kerjasama yang lebih baik kedepan bersama para wartawan khususnya yang berada di Matra dan yang tergabung dalam asosiasi Perwakilan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Matra.
 
Astra Lestari Tbk Matra yang bergerak di bidang pertanian sawit, cenderung terbuka kepada wartawan, namun koordinasi dan komunikasi yang di bangun harus jelas seperti yang tergabung dalam asosiasi Perwakilan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Matra. Hal tersebut dalam waktu dekat akan ditindak lanjuti dengan seringnya di lakukan pertemuan antara Astra Lestari Tbk dengan para wartawan yang ada di Matra, agar hubungan yang selama ini di anggap tidak pernah ada, benar-benar tercipta hubungan yang lebih baik kedepan.
Menurut salah satu Kepala Administratur anak perusahaan Astra di Pasangkayu Indra Irawan mengatakan tertutupnya koordinasi antara perusahaan dengan wartawan akibat tidak adanya komunikasi, sehingga perusahaan dengan wartawan terkesan jalan sendiri-sendiri," perusahaan sebenarnya tidak tertutup, apalagi dengan teman-teman wartawan, yang jelasnya kami ingin mengenal wartawan lebih dekat, namun wartawan itu juga harus jelas dan memang berdomisili di Matra, idealnya hanya kurang komunikasi, tak kenal maka tak sayang, mungkin itulah yang terjadi," terang Indra yang di amini Marahalim Humas salah satu anak
perusahaan Astra Tbk.

Kemudian, Indra juga mengharapkan kedepan," kami dari perusahaan akan melakukan pertemuan lanjutan dengan para wartawan Matra, paling tidak satu atau dua bulan sekali untuk memperat hubungan antara perusahaan dengan wartawan agar saling lebih mengenal dan kami perusahaan juga mengetahui wartawan yang memang berdomisili di Matra," harapnya. Pertemuan ini merupakan silahturahmi yang sangat baik dan merupakan bukti, bahwa perusahaan yang bergerak di bidang pertanian sawit, tidak hanya berkontribusi terhadap daerah tapi juga memberikan perhatian terhadap wartawan yang ada di Matra. ()
 

Empowering Stakeholder: Pemberdayaan Petani Sawit Di Mamuju Utara

Bpk Agustinus Silalahi Memberikan Materi Perawatan Kebun,
Kualitas Buah dan Perawatan tanaman menghasilkan.
Training Center Area- Sulawesi Barat Februari 2011. 

Kegiatan pelatihan bagi petani "income generating activity" dan petani yang mengorganisasikan dirinya dalam koperasi tani mendapat pelatihan agar dapat membuat hasil pertanian mereka menjadi optimal yang pada gilirannya meningkatkan penghasilan mereka dengan meningkatnya hasil produksi mereka.
Pembukaan Pelatihan Oleh Bapak Eri Irianto, Ka TCA Area Celebes


Foto bersama dengan peserta pelatihan di Training  Center Area  

Pemahaman Mendalam dan Kurangnya Minat Riset Antropologi Tentang Orang Binggi

Marahalim Siagian
(Community Development Officer PT. Astra Agro Lestari, Tbk)

Sejauh ini, kita belum banyak mengenal kebudayaan Kaili kontemporer kecuali dari pengalaman para missionaris (penyiar agama Kristen) yang hidup dengan mereka selama bertahun-tahun. Interaksi yang intensif membuat mereka mampu menguasai bahasa dan kebudayaan sukubangsa ini dengan baik serta keberhasilan misi keagamaan yang mereka bawa.

Pendekatan seperti itu merupakan ciri khas pendekatan antropologi yakni, hidup dengan cara kebudayaan orang lain untuk mencapai pemahaman mendalam (deep understanding). Snouck Hurgronje, pada masa kolonial melakukan pendekatan semacam itu di Aceh untuk tujuan penaklukan Bangsa Aceh, antropolog Amerika Ruth Benedict dalam Perang Asia Pasific untuk tujuan perang. Ruth Benedict diminta oleh tentara Sekutu untuk memahami perilaku tentara Jepang yang begitu nekad seolah mengumbar nyawa dalam perang melawan Sekutu, tindakan yang tidak pernah dibayangkan oleh Barat. Orang Barat sukar memahami dasar dari tindakan bunuh diri tetara Jepang serta aksi-aksi nekad lainnya. Kebingunagan itu baru terjawab ketika Ruth Benedict mempublikasikan studinya tentang Jepang dalam buku berjudul Pedang Samurai dan Bunga Serunai.

Saat ini para petugas pengembangan masyasrakat (CD Officer) juga memerlukan pengetahuan mendalam semacam itu, dalam rangka mengelola masyarakat yang hidup d isekitar perkebunan yang jumlahnya tidak hanya satu melainkan beberapa sukubangsa. Hal itu diperlukan dalam mengambil keputusan jangka pendek misalnya, sebagai dasar pengetahuan untuk menegosiasikan suatu masalah agar tidak terjadi dispute yang merugikan. Diperlukan juga dalam rangka merangcang serta mengimplementasikan program community development yang baik, sehingga kelak berhasil. Namun, para CD Officer hampir mustahil untuk hidup bersama dalam waktu lama dengan satu atau beberapa sukubangsa agar memperoleh pengetahuan mendalam tentang masyarakat binaannya. Maka CD Officer dari warga setempat menjadi pilihan atau CD Officer yang memiliki latarbelakang budaya setempat, baik karena perkawinan atau hubungan kekerabatan dengan masyarakat kunci di sekitar kebun, atau dalam kasus tertentu CD Officer yang pernah melakukan riset mendalam tentang sukubangsa tertentu sehingga dapat memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk melaksanakan tugasnya di masyarakat.

Cara lain yang tersedia adalah menggunakan literatur yang ada serta keinginan untuk memanfaatkannya. Tetang Orang Kaili atau To Kaili saya kira, hanya segelintir literatur yang berkualitas yang tersedia. Human Relation Area Files (Ethnic Groups Of Insular Southeast Asia Volume 1: Indonesia, Andaman Island, And Madagaskar, Frank M. Lebar., ed, 1972) sebagai salahsatu rujukan antropologi yang penting tidak mencantumkan Sukubangsa Kaili dalam daftar sukubagsa untuk groups Celebes. Barangkali satu-satunya literatur terbaik untuk mengenal sukubangsa ini yang dapat diakses saat ini adalah artikel Prof. Matullada yang terbit pada tahun 1991 dalam Jurnal Antropologi Indonesia.

Artikel ini pun tidak jauh dari kerangka pengetahuan yang pernah dikembangkan oleh Matullada. Namun itupun terbatas pada sejarah Orang Kaili pra kolonial.

Secara eksplisit Matullada menyebut wilayah persebaran Orang Kaili adalah daerah yang kita kenal saat ini Sulawesi Tengah. Pada kawasan ini hidup beberapa sub etnik yakni; To Kaili dengan sejumlah subetnik antara lain To-Palu, To Sigi, To Dolo, To Biromaru, To Kulawi, To Parigi dan lain-lain. To Pamona dengan sejumlah subetnik seperti To Mori, To Bungku dan lain-lain. To Banggai dengan beberapa subetnik yang berdekatan seperti To Saluan, To Balantak, dan lain-lain. To Bual Toli-toli dengan sejumlah subetnik yang kecil-kecil.

Wilayah yang didiami sukubangsa To Kaili adalah Donggala, To Pamona mendiami kawasan Poso, To Banggai mendiami Kepulauan Banggai, dan To Buol Toli-toli mendiami kawasan Buol Toli-toli.

Kelompok-kelompok etnik dalam subetnik Kaili dapat dikatakan telah menjadi subetnik Kaili yang diidentifikasi sesuai dengan nama tempat pemukimannya sbb:
1. To Palu (To-Ri-Palu)
2. To Biromaru
3. To Dolo (To Ri Dolo)
4. To Sigi (To-Ri Sigi)
5. To Pakuli, To Banggai, To Baluase, To Sibalaya, To Sidondo
6. To Lindu
7. To Banggakoro
8. To Tamungkolawi dan To Baku
9. To Kulawi
10. To Tawaeli (to payapi)
11. To Susu, To Balinggi, To Dolago
12. To Petimbe
13. To Rarang Gonau
14. To Parigi

Kelompok-kelompok subetnik di atas pada masa pra-kolonial (abad ke-17) pernah mendirikan kerajaan-kerajaan lokal seperti: Banawa, Sigi, Biromaru, Tawaeli, Pantoloan, Sindue, Dolok, Bangga, Tatangan, Palu, Sibalaya, dan Parigi.

Kerajaan-kerajaan lokal ini memiliki perangkat kepemimpinan adat dan kekuasaan yang “sama” dalam pinsip-prinsip dan strukturnya. Masing-masing kerajaan juga memiliki rumah adat yang disebut baruga yang merupakan lambang kewibawaan dan kekuasaan adat kerajaan.

Kepemimpinan tertinggi suatu kerajaan dipimpin oleh seorang magau yang mengelola kerajaan dalam suatu dewan yang terdiri dari: Madika Malolo (raja muda), Madika Matua (menangani urusan pemerintahan umum dan kemakmuran), Ponggawa (penyelenggara kekauman dalam negeri dan adat perkauman dalam negeri), Galara (penyelenggara pengadilan dan adat-istiadat dalam hukum kerajaan, serta selaku penuntut umum), Tadulako (penyelenggara urusan pertahanan dan kemanan), Pabicara (penyelenggara ketertiban adat dan tata kehidupan masyarakat atau lebih dekat sebagai fungsi hakim dalam peradilan), Sabandara (bendahara yang mengurusi penghasilan perdangangan terutama perdangangan dilautan.

Disamping dewan kerajaan selaku pemerintahan kerajaan, terdapat semacam dewan perwakilan rakyat yang mewakili daerah-daerah dalam lingkup kerajaan, mereka disebut kotapitunggota yang diketuai seorang Baligau.

Beberapa Hal Penting Dari Budaya Kaili

Bagi orang Kaili, masa lalu disebut memberikan pamor dalam kehidupan masa kini dan masa depan. Masa lalu yang selalu dihadirkan pada kenyataan masa kini membuat orang Kaili sangat awas terhadap kehadiran orang lain dalam lingkungannya, karena dikhawatirkan kebanggaan masa lalunya menjadi kurang dihargai.

Waktu, dipandang memiliki kualitas tertentu yang ditentukan masa lalu, maka tidak perlu ada perlombaan dalam waktu. Waktu dalam kualitas tertentu harus dapat dinikmati dengan tempo yang lamban, maka tidak perlu berpacu dengan waktu, karena manusia yang menentukan dalam menikmati sesuatu yang disajikan oleh waktu.

Hakikat Hidup, hidup adalah untuk menikmati apa yang disajikan oleh alam, termasuk yang diwarisi dari pendahulu.

Hakikat Karya, karya analog dengan hakikat hidup Orang Kaili yakni menikmati sebagaimana adanya, apabila hakikat hidup telah terpenuhi maka karya itupun telah menemukan terminalnya.

Hubungan dengan Alam Sekitar, bagi orang Kaili alam sekitar adalah buat manusia yang harus dimanfaatkan untuk kesenangan, pelestarian alam kurang mendapat tempat dalam kehidupan orang Kaili.

Hubungan Manusia dengan Sesama, orang Kaili sangat menjunjung in groups solidarity (solidaritas kalangan sendiri) sehingga penerimaan terhadap orang luar dilingkupi dengan perasaan penolakan dan kecurigaan.

Saya kira, studi sejarah Matullada di atas memberikan sumbangan pengetahuan berharga bagi kita saat ini, namun studi kontemporer sangat diperlukan untuk mengkonfirmasi pengetahuan terdahulu dan memberikan deskripsi yang lebih tajam dan jelas perihal budaya Kaili dan subetniknya yang saat ini telah banyak dilanda perubahan. Semoga ada antropolog yang mengambil tantangan ini!?.
Marahalim Siagian
(OD&NORAD Norwegian Project: Staf Kajian dan Pendampingan Orang Rimba)

Senja di Dusun Tuo, tidak seperti senja lain yang berlalu menyambut malam. Matahari memerah seperti cat dalam canva dengan awan sebagai viguranya. Aku duduk di atas perahu yang ditambatkan di Sungai Batang Hari yang hiruk oleh penyadap karet yang pulang dari ke rumah. Aku terpana pada sebaris pepohonan yang berubah warna seperti api; tidak terlalu tampak panas hanya redup dengan warna merah kekuning-kuningan, diumbuhi warna hitam yang mulai jelas di Timur. Di jemban, tepian sungai, emak-emak memukulkan pakain kotor ke sebatang kayu. Mencelupkannya kembali ke sungai Batang Hari yang coklat. Lalu menyabunnya lagi. Buih-buih sabun hanyut seperti kembang-kembang yang diserakkan di air yang tenang. Dan aku terpaku oleh efek romantis senja hari.

Senja telah benar-benar lenyap, berganti dengan suara jangkrik yang bersahut-sahutan dengan kodok di tebing sungai yang lembab. Sekelompok emak-emak (ibu-ibu) turun lagi ke sungai dengan pakai sarung, jongkok dan menyulut rokok sambil membuang hajat. Mereka membuang hajat sambil mengobrol. Aku tidak mengerti bagaimana hal seperti itu berjalan sealamiah itu. Aku tidak selera mandi, bahkan enggan mencelupkan kakiku ke air. Ada perasaan malas dan pikiran yang berbunga-bunga dan aku larut dalam lamunanku, seperti tidak ingin terganggu dan kehilangan senja yang barusan singgah di Dusun Tuo.
Marahalim Siagian
(Mahasiswa Pasca Sarjana UGM)

Di tepi jalan, kira-kira 10 meter jauhnya dari jalan, pada kebun karet. Seorang bapak sedang memotong anak karet liar. Ia membuang akar serabutnya dengan pisau dan mengurangi lagi akar tunggangnya, juga pucuknya. Begitulah ia mempersiapkan bibit pada lahannya yang satu hektar lagi. Bapak ini sendiri punya kebun karet 4 hentar, dan satu hektar yang akan ditanami lagi.

Anaknya yang paling kecil berjalan-jalan dikebun karet tersebut, sepertinya tidak digigit nyamuk dan seorang anak perempuan lagi yang juga bertelanjang bermain-main di kebun tersebut tanpa dikwatirkan orang tuannya. Ibunya yang berada tidak jauh dari mereka mengawasinya. Sesekali menegur dan memberikan asi pada anak yang paling kecil. Lamanya ia memberikan asi tidak lebih 10 menit. Kemudian anak-laki-lakinya yang usiannya kira-kira 8 tahun sudah bisa mengamati kami dan menyelidik apa yang kami lakukan.

Seorang temannya yang selisih 2-3 tahun lebih tua darinya mengajaknya main-main. Kaki anak ini satu tidak normal (kerdil) sehingga hanya salah satu kaki saja yang berfungsi. Namun ia selalu bermain diatas sepeda bahkan membonceng kawannya. Yang unik adalah kerja sama diantara keduanya. Salah satu kaki anak yang lebih besar ini menggayuhkan pedal sepeda sedangkan temannya yang lebih kecil yang duduk dibelakang, membantunya dengan memberikan satu kakinya untuk ikut mendayuh sepeda tersebut. Sepeda itu berjalan dengan anggun, sebuah kerjasama yang baik.

Tentang istri informan saya ini, badanya agak kurus, putih dan rambutnya bergelombang. Ia masih berpakaian seperti layaknya seorang perempuan rimba. Rumah yang dia gunakan juga masih dengan konstruksi seperti orang rimba. Dia hanya beberapa kali tertawa, melainkan hanya menyimak pembicaraan kami. Suatu kali dia meninggalkan kami berbincang dengan suaminya, dia membawa naknya pergi setelah memakan roti yang saya bawa. Tetapi dia kembali lagi. Dan duduk dengan membawa kembali anaknya yang paling kecil, memegang ayam ditangannya sebagai mainan.

Tentang suaminya, informan. Tingginya sekitar 158-160 cm. Tidak terlalu kurus, sedikit lebih gemuk dari
saya. Kira-kira 50 kg beratnya. Ia menyirih dan juga merokok. Giginya banyak sekali yang ompong. Hanya bagian samping atas saja yang kelihatan masih tersisa ditempatnya. Ia tidak terlalu cerdas, tetapi bisa diajak berbicara dengan pertanyaan yang sederhana dan jelas. Kadang-kadang saya gagal mendapatkan jawaban yang saya harapkan. Atau bisa saja saya tidak bisa mendapatkannya dengan cara wawancara, melainkan dengan cara pengamatan langsung.
Marahalim Siagian
(OD&NORAD Norwegian Project: Staf Kajian dan Pendampingan Orang Rimba)

Anak-anak orang rimba tidak terlalu dekat dengan orangtuannya. Pada umur menjelang remaja, anak-anak menjadi sangat berkurang ketergantungannya kepada orangtuannya. Perempuan punya kedekatan khusus dengan rumah, bahkan agak jarang keluar untuk keperluannya sehari-hari. Anak tiri atau anak ambikan atau anak asuh atau juga disebut anak buah tidak terlalu merindukan orangtua biologisnya. Mereka tidak mengalami perasaan "rindu" seperti pengalaman anak-anak desa atau anak yang tumbuh di kota.

Anak-anak seperti mereka merupakan anak yang dimiliki sebagai ganti denda yang tidak bisa dibayarkan/ dilunasi, dan konsekuensi sebagai anak ambilan adalah dia bekerja layaknya seperti "tawanan" bagi pemilikinya.

Seorang perempuan bernama Mesumo berumur 15 tahun kelihatan lebih pendek dari pertumbuhan seusiannya. Penampilannya hitam dan rambut gimbal. Dia selalu melewati tenda saya pada pagi dan sore hari dari sungai untuk air minum atau untuk keperluan rumah tangga lainnya. Bila tidak ada yang mengawasi ia selalu tegak persis di depan tenda ku seperti ingin meminta roti dengan cara sembunyi-sembunyi. Suatu sore Penyuruk menembak seekor beruk yang bergantungan di kayu ara dekat ladang sekitar aku mendirikan tenda. Beruk suka tampil di dekat kebun itu untuk mencuri umbi-umbian atau tanaman Orang Rimba. Mesumo juga bertugas untuk menjaga dan menghalau beruk atau binatang pengganngu ladang itu. Orang Rimba di Das Kejasung memang dikenal memakan beruk, lain dengan mereka yang mengaku keturunan Das Makekal yang merasa 'goli' dengan makanan tersebut. Saya menanyakan nasib beruk itu pagi harinya kepada Penyuruk, ia dengan ekspresi alamiah mengatakan bahwa Mesumo memakan beruk tersebut. Ia sendiri mengaku tidak memakannya karena ia anak dari keturunan Orang Rimba di Das Makekal. (Sungai Kejasung Besar, 13 Maret 2004)

Bukit 12 National Park: Kejasung Field Notes

Marahalim Siagian
(OD & NORAD Norwegian Project: Staf Kajian dan Pendampingan Orang Rimba)

Lubuk Regas, 10 Maret 2004.
Tadi malam tersesat setelah berjalan sangat capek. Berangkat dari Dusun Tuo jam 9 pagi, sampai di Sungai Benuang sudah jam 3 sore. Lapar dan makan nasi sisa yang diberikan Bang Saipul dari Dusun Tuo. Nasi itu hanya aku yang makan. Porterku merasa tidak lapar. ia kelihatan sangat capek dan kepanasan. Ia membawa beban kurang lebih 35 Kg dengan jalan kaki kira-kira 16 Km.

Pada jam 6 sore kami sudah masuk ke daerah Pematang Limau. Jalanan setapak di dalam hutan sudah digenangi luapan air sungai kejasung. Karena hari sudah sore dan agak gelap, orientasi ruang sudah buyar. Kami berjalan dengan menaikkan celana sampai ke pangkal paha sekaligus was-was dengan terkaman ular air yang mungkin tertarik dengan sinar senter kami. Akhirnya kami melewatijalan yang diluapi air itu dan sedikit gembira karena sudah ketemu ladang Orang Rimba.

Kegembiraan kami segera pupus beberapa menit kemudian karena ladang itu tak ditunggui seorang manusia pun, kosong sepi. Aku coba 'bersesalung'(berteriak dengan cara orang rimba) tetapi suaraku tidak ada yang mendengar. Pernah sekali terdengarjawaban dari kejauhan tetapi kemudian hilang, aku frustrasi karenannya.

Akhirnya ku putuskan untuk bermalam di tepi ladang Orang Rimba tersebut walaupun kami tidak tahu siapa pemilik ladang tersebut. Bisa saja kami kena denda dengan perbuatan itu jika ada barang atau tanaman yang hilang dari kebun, kendatipun kami tidak menggambilnya. Kami berkeliling untuk mencari tepian sungai yang agak datar sekaligus dekat dengar air agar bisa memasak. Waktu kami melewati tepi ladang ternyata paroh ladang sudah ditinggalkan, namun dibagian lain masih kami temukan rumah yang sepertinya masih dihuni.

Kami berhenti pada sepetak tanah yang bersemak. Kami berdua mencabut golok dan membersihkan rerumputan dan semak duri agar bisa mendirikan tenda. Sekarang kami bisa mendirikan tenda dan meletakkan barang-barang bawaan kami.

Nasi sisa dari Desa Batu Sawar masih ada, sudah lebih berbau lagi karena dibungkus dalam plastik. Nasi basi seperti itu sayang untuk dibuag untuk orang yang kelaparan seperti kami, lagipula kami belum akan makan nasi setidaknya sampai besok pagi karena api belum bisa kami hidupkan untuk memasak.
Aku hanya berharap tidak tersesat lebih jauh. Aku harus menenangkan porterku, memasak dengan kondisi sangat buruk, hujan mulai turun, air sungai tidak terlalu jauh tetapi turun ke tebing sungai yang licin, sehingga setiap ambil air kaki penuh lumpur dan tak bisa masuk tenda.

Porterku juga tidak terlalu pembersih, tampaknya aku tidak bisa menuntut banyak dari dia malam ini. Syukur-syukur dia tidak minta pulang karena stres. Akhirnya air panas pertama mendidih, sedikit senang karena bisa buat teh. Sebelumnya entah sudah berapa kali meminum air sungai yang mentah dan aku khawatir kombinasi stres, capek dan makanan yang tak terartur dan tak bergizi dengan minuman yang tak matang akan merongrong staminaku.

Hujan semakin deras, dalam hujan rintik pun sudah sangat kepayahan menghidupkan dan memelihara api agar tetap hidup. Kami terpaksa memasukkan sisa kayu bakar ke tenda dengan kondisi bercampur gatal, belum mandi, tanpa lampu penerang karena bola senter mati. Akhirnya kami merebahkan diri, namun belum bisa pejamkan mata karena masih cemas. Agas menggigit sekujur tubuh, aku gerah sekali. Porterku kentut dalam tenda, bau tapi tidak ada pilihan selain tetap berada di dalam tenda. Dengat sangat tersiksa akhirnya tengah malam ku gosokkan Stop-X pada sekujur tubuhku dan sedikit hangat dibagian telapak kaki, namun agar kurang ajar itu terus mencari-cari tempat untuk menggingit, pada kuping dan dekat mataku, teruk...

Pagi, setelah bersusah payah menghidupkan api akhirnya berhasil menak nasi tetapi berasnya banyak tatal/sekam-nya, beras itu aku beli di Dusun Tuo. Akhirnya aku makan juga dan menutupnya dengan segelas capucino sachet.

Pagi hari setelah sedikit tenang, matahari mulai meninggi, kami melacak Orang Rimba yang berada di sekitar hutan tersebut, setengah jam kemudian kami bertemu dengan Selisi dan aku meminta dia ikut ke tenda. Setelah memberinya makan, ia bersedia bersedia mengantarkan kami ke Lubuk Rengas. Aku sudah tenang kembali. Porteku bersemangat karena membayangkan akan bertemu dengan Abul, Hari dan teman-teman satu desanya yang ikut dengan para antropolog yang mendahului kami 2 hari sebelumnya.

Dipinggir sungai kami bertemu lagi dengan seorang anak, dan dia memanggil Penyuruk. Penyuruk adalah orang yang sudah sangat biasa dengan kami, karena ia salah satu murid baca-tulis hitung KKI-Warsi. Bebera menit kemudia kami bertemu lagi dengan teman-teman lainnya. Sangat gembira. Aku merokok dan tidur dengan sangat terkendali. Beberapa jam kemudian, aku terpikir untuk mandi, mandi lama sekali, menggosok tubuhku yang bau dan juga rambutku yang gatal karena panjang, gosok gigi dan bisa berpikir untuk buat kegiatan 2 minggu di hutan, aku makan siang dan menggoreskan penaku pada buku diary.

MUFUT: Borneo Filed Notes

Marahalim Siagian
(Mahasiswa Pascasarjana UGM)
Penelitian ini disponsori oleh Cipta Lestari Indonesia

Mufut adalah satu kebiasaan tahunan yang khas dari Sukubangsa Dayak Punan di Kalimantan Timur, ditandai dengan perginya seluruh anggota keluarga meninggalkan kampung untuk masuk ke hutan mencari buah-buahan. Lamanya bisa 2-3 minggu. Para informan mengemukakan tradisi ini berhubungan dengan rekreasi dan juga berfunsi ganda yakni menghindari kelaparan dan menjaga keseimbangan hubungan sosial diantara kerabat-kerabat terdekat. Kesan saya, tradisi ini telah berubah makna sedemikian rupa sehingga menceritakan tradisi ini mengandung makna kekolotan. Orang Dayak Punan yang masih melakukan mufut dianggap masih tertinggal.

Pada beberapa grup pemukiman yang saya kunjugi, yang letaknya lebih terisolir, kebiasaan ini masih terus dilakukan dengan beberapa modifikasi. Dengan alasan keamanan kampung, maka hanya beberapa orangtua, khususnya laki-laki yang turut serta ke hutan, pada beberapa kasus ada juga beberapa pasang keluarga bersama kelompok mufut. Di Ranau, penduduk mengemukakan bahwa mereka sudah menanam buah-buahan, oleh sebab itu mereka tidak lagi melakukan mufut. Tetapi pemukiman tetangga mereka Long Tami dan sebagian Long Titi masih melakukan mufut.

Kebiasaan ini sering dikombinasikan juga dengan aktivitas berburu, namun tidak semua peserta mufut menggambil bagian didalamnnya. Para perempuan dengan beberapa laki-laki pergi mendahului mereka dengan janji bertemu di tempat tertentu, dimana hasil buruan kelak didistribusikan.

Borneo Field Notes: Bavui Nyatung


Marahalim Siagian
(Mahasiswa Pascasarjana UGM)
Penelitian ini disponsori Cipta Lestari Indonesia

Di Kecamatan Malinau Selatan, Ibukotannya Loreh, ada dua desa yang di huni Dayak Punan: Desa Plancau dan Desa Bila Bekayuk. Saya menginap di Desa Plancau, rumah seorang ketua suku besar bernama Ipu Kre. Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud ke datangan saya, saya diterima dengan hangat. Surat pengantar dari Lembaga Adat sepertinya dapat menjadi jimat dalam perjalanan saya menyusuri pemukiman-pemukiman Dayak Punan di interior Kalimantan Timur (Das Tubu dan Das Malinau).

Makan malam saya disuguhi daging bavui (babi), daginnya sangat banyak dan tak mungkin bisa dihabiskan oleh keluarga itu. Pak Ipu Kre bercerita, bahwa bulan ini ada migrasi babi dari barat ke timur melintasi Sungai Malinau. Migrasi babi ini biasanya terjadi bila musim buah-buahan hutan. Kelompok babi itu biasanya menyeberang dengan cara berenang (saya baru tahu bahwa babi adalah perenang yang hebat) dalam bahasa mereka disebut Bavui Nyatung. Sungai Malinau lebarnya kira-kira ratusan meter namun kawanan babi yang jumlahnya mencapai 50 ekor bisa sampai di tebing seberang sungai. Pada saat melintas atau pada saat di tebing sungai itulah biasanya kawanan babi itu dibantai menggunakan bujak (kujur atau tombak).

Kalau daging babi surplus, lemaknya dimasak untuk dijadikan minyak makan (minyak sayur), minyak babi itu mereka sebut lanyih. Kalau lanyih banyak tidak perlu membeli minyak makan. Pak Ipu Kre sendiri masih memiliki saving minyak babi 20 kg yang disimpan dalam galon-galon air. Dengan saving sebanyak itu, kebutuhan rumah tangga ini dapat terpenuhi untum masa 2-3 bulan.

Selain bavui nyatung pada musim buah ada juga migrasi kelelawar besar (mowak) yang juga mengincar buah-buahan hutan. Mowak juga bermigrasi dalam jumlah yang banyak dan dagingnya di sukai oleh orang Dayak Punan. Cara mereka membunuh mowak menggunakan sumpit atau senapan angin pada malam hari.

Punan Riset: Catatan Lapangan


Marahalim Siagian
(Mahasiswa Pasca Sarjana UGM)
Penelitian ini disponsori oleh Cipta Lestari Indonesia

Ranau, 20 November 2005
Kemarin, setelah habis digasak pacet, akhirnya kami sampai di Mirau. Lelah setelah berjalan mulai dari jam 8 pagi dan tiba jam 2 siang. Pertama kami disambut dirumah penduduk yang sangat kotor tetapi sangat ramah, kesan pertama kami langsung dimintai kopi dan gula, lalu seorang ibu tua dengan suara keras meminta obat paramex dan disusul oleh orang lain hingga malam tiba ada lagi yang minta paramex.

Kemudian beberapa penduduk terutama orang tua meminta celana, baju, senter, dan lain-lain. Kalau dikabulkan saya bias pulang telanjang. Tetapi masyarakat silih berganti memberikan makanan dengan berbagai variasi. Menurut penduduk, mereka sedang dalam masa kelaparan. Hal ini bisa saja betul karena makanan yang disajikan cukup beragam untuk membuat variasi rasa.
Perjalanan Mirau ke Avang melewati tiga gunung; Angan (tinggi), Kabong (tinggi sekali), dan Telou (sangat tinggi).

Lemuncung, 21 November 2005
Saya di lepas oleh penduduk Mirau seperti memberangkatkan anak mereka. Rasanya haru dan merasa berhutang budi atas kebaikan mereka dan mungkin juga karena saya menunjukkan surat pengantar dari Lembaga Adat Punan.

Saya juga diantar oleh guide yang merangkap porter terbaik, ia punya reputasi berjalan jauh yang dikagumi penduduk desa. Dari Mirau ke Ranau dia hanya perlu waktu satu hari perjalanan yang kami tempuh dengan susah payah selama dua hari dan capek yang sangat, lagi pula kami hanya sampai di Long Avang (pemukiman Punan sebelum Ranau).

Long Penai, 25 November 2005
Dua hari dalam perjalanan yang melelahkan dari Long Tami dengan rombongan mufut orang Punan, keluarga Awang Ipu bersama keponankannya, dan seorang perempuan Punan yang putih dan cantik. Ia selalu setia menyediakan makanan di dapur.

Tiba dipuncak bukit kami menginap di jalan, kami berbagi tugas untuk menyiapkan tempat bermalam dan makanan. Waktu semua pekerjaan selesai, kami duduk menikmati hidangan kopi manis. Tiba-tiba lantai kami ambruk, grubarak…, kami diam di tempat masing-masing, lalu saling menatap dan tertawa.
Tetapi yang membuat kami khawatir adalah seorang Ibu dengan bayi 4 bulan yang berada diujung lantai camp. Syukur ibu itu dan bayinya tidak mengalami apa-apa, dan kami kembali gotong royong untuk memperbaiki tempat menginap dan lantai camp yang sudah ambruk serta menurunkan tenda kembali supaya angin tidak menghantam tenda.

Malam hari, sudah sangat larut, hujan turun dan kami sudah lama tidur sebelum menyadari sebagian dari tenda kami kena air. Yang paling parah adalah tendaku yang agak terpisah dengan teman yang lain. Saya telah dibuatkan tempat tidur dengan bahan karung plastik yang masing-masing ujungnya diberi dua buah kayu penyangga. Tetapi sangat sempit namun cukup lumayan untuk kualitas tidur di hutan.
Kaki dan kepalaku basah dan rasanya sangat dingin diatas gunung yang dikurung rimba raya dengan lembah-lembah yang curam. Lalu aku mengecilkan tubuhku dengan “melipatkannya” walau kakiku tidak nyaman dengan kayu penyangga di satu sisinya. Saya mencoba menenangkan diri, menerima ketidaknyamanan itu dan baru bangun jam 7 pagi. Bagun pagi, hujan masih turun karenanya kami baru bisa melanjutkan perjalanan setelah jam 11 siang dan tiba di Long Penai pada jam 4 sore.

Long Penai, 26 November 2005
Sore kemarin, Avang Ipu dan Pak Pilung berburu babi dengan membawa beberapa anjing. Babi putih besar beratnya kira-kira 60 Kg di bagi tiga; untuk tuan rumah separoh, untuk Avang separoh dan paha sebelah untuk dibawa Adi porter saya ke Respen. Pesta makan babi pun berlansung. Kepala yang dipanggang di luar rumah hingga malam lalu menyayatnya sedikit-demi sedikit secara perlahan-lahan, harumnya enak. Saya menikmati separoh teliga kirinya dan makan dengan sop Iga yang lezat. Dengan makanan inau (sagu) yang lembut ditelan dan bersahabat dengan gigiku yang sedang sakit (sekarang sudah sembuh). JIka babi seberat 60 Kg didapat dua keluarga, paling yang bisa dimakan sebanyak 2 Kg dalam sekali makan. Dengan demikian perlu dua minggu untuk menghabiskan 1 babi berukuran 60 Kg.
Lemaknya diambil untuk minyak sayur yang disebut lanyih, bisa juga dimakan dengan campuran daun ubi. Jika babi tidak sedang ada dalam dua sampai tiga hari ada makanan yang bisa dimakan dari sekitar lading yakni sagu atau ubi.

Surplus makanan memberikan manfaat juga untuk ternak anjing yang dipelihara cukup banyak. Kadang-kadang anjing dipelihara lebih dari dua dalam satu rumah tangga. Dan anjing tidak diberi makan secara khusus sehingga menggangu waktu makan keluarga dan membuat kompetisi diantara para anjing yang kadang menimbulkan kekacauan pada saat makan.

Long Penai, 26 November 2005
Menunggu perahu dari Long Pada untuk mengantarkan kami kembali ke Malinau, sudah dua hari kendaraan air ketinting tidak ada yang lewat. Aduh….
Waktuku untuk balik ke Jogja lewat. Mestinya aku sudah di Malinau pada hari ini dan aku harusnya sudah pula ke Pulau Sapi untuk melihat perkembanga kecamatan yang menjadi kunci bagi perdagangan di Daerah Aliran Sungai Tubu. Hal ini sangat penting untuk membuat suatu perbandingan antara Das Malinau dengan Das Tubu sebagai dua Das utama penyebaran suku Punan di Kalimantan Timur.

27 November 2005
Pulang dari Long Penai dengan Longboat 40 PK dengan operator bernama Henry dan dibantu adiknya, saya bayar Rp. 100.000 untuk dua orang penumpang ditambah persekot Rp. 100.000,- untuk akomodasi dan jasa guide kepada Awang Ipu asal Long Penai dengan kedok “uang Natal buat anaknya”. Saya terbantu dengan adanya beliau yang mengusahakan perahu dan tempat menginap dirumahnya selama dua hari dan jasa baik karena bisa menumpang di rumah Pak Bilung yang beristrikan orang Cina.