Marahalim Siagian

Jumat, 06 Mei 2011

Riwajat Seboeah SD Inpres

SD Inpres 013 Lelaumpang Desa Polewali Kecamatan Pasangkayu Kabupaten Mamuju Utara Propinsi Sulawesi Barat kondisinya sangat memprihantinkan. Mungkin sejak dibangun sekolah ini tidak pernah dirawat. Apakah karena tidak ada dana perawatan atau dana perawatannya diselewengkan kepala sekolah belum diketahui. Sekolah dasar ini hanya 20 Km dari kota Pasangkayu, Ibukota Kabupaten Mamuju Utara.

Pada kunjungan saya tanggal 6 Mei 2011 atas ajakan partner kerja (Babinsa) Serma Arifin, saya mencatata
ada 153 anak-anak yang menuntut ilmu di sekolah ini, namun dengan kondisi sekolah yang "sakit" dan guru-guru yang kurang termotivasi, mutu pendidikan sekolah ini menjadi rendah.

Hampir tak terbayangkan bahwa masih ada sekolah di jaman sekarang (dekat kota kabupaten) yang samasekali tidak memiliki meja dan kursi. Pintu kelas yang tidak dapat dikunci, lantai yang "bopeng-bopeng", plafon kelas yang terbuka menganga, sarana belajar yang tidak layak (mis, papan tulis), halaman sekolah yang kerap banjir.



Minggu, 20 Februari 2011

DAYAK PUNAN MALINAU DAN TUBU-KALTIM

Penelitian lapangan ini dilakukan dari tanggal 6 sampai 27 November 2005, dengan suatu rencana  penelitian terfokus terhadap beberapa aspek kebudayaan Punan. Sebelumnya, telah didapatkan informasi umum, sebagai dasar  untuk mengembangkan pengetahuan lebih lanjut di daerah penelitian. Karena keterbatasan waktu, seorang Punan (asisten lapangan)turut membantu mengatasi hambatan teknis, memperjelas arti beberapa istilah dalam bahasa lokal yang di temui selama penelitian. Sebuah surat pengantar yang didapatkan dari Lembaga Adat Punan di Malinau juga melancarkan kegiatan studi.


  • Das Malinau Selatan
Kecamatan Malinau Selatan dibentuk tahun 2002, pusat kecamatan berada di Loreh. Pusat  kecamatan merupakan gabungan dari 4 desa (Loreh, Sengayan, Pelancau dan Bila Bekayuk) dua dari desa yang ada merupakan desa berpenduduk Punan (Pelancau dan Bila Bekayuk) satu desa  berpenduduk Kenyah (Long Loreh) dan Desa Sengayan yang berpenduduk Merap. Ada 3 (tiga) sekolah menengah  pertama (SMP) di kecamatan; SMPN 02 di Loreh, SMPN di Setulang dan SMP satu atap di Tanjung Naga. Fasilitas lain  yang tersedia satu unit Puskesmas yang melayani 24 desa di kecamatan.

Loreh merupakan pusat perdagangan dan pemerintahan Kecamatan Malinau Selatan, terutama karena keberadaan perusahaan tambang batubara milik PT. Bara Dinamika Muda Sukses (BDMS) yang beroperasi di daerah itu. Pertumbuhan pendatang dari luar daerah meningkat untuk bekerja di perusahaan, sementara keterlibatan penduduk Punan di perusahaan belum nyata. Keberadaan perusahaan ini sangat nyata mendinamisasi pertumbuhan desa-desa di sekitar dan pusat kecamatan. Akibat langsung adalah meningkatnya kebutuhan kayu dan nilai lahan, sehingga hutan di sepanjang jalan berlomba-lomba dibuka.

Di Loreh Punan merasa diperlakukan sebagai pendatang oleh Kenyah dan  Merap hal ini menimbulkan reaksi Ipu Kre (ketua adat kecamatan) dan mendorong dilakukannya pembagian wilayah melalui forum adat. Saat ini batas yang disepakati untuk Punan adalah hutan disebelah kanan mudik sungai Malinau. Namun perebutan tanah di sepanjang jalan masih merupakan potensi konflik. Perebutan lahan ini telah menimbulkan ketegangan setidaknya mulai tahun 1998 antara penduduk Punan, Merap, dan Kenyah yang lebih mendominasi. Kegiatan perladangan terdukung dengan truk antar jemput yang disediakan perusahaan untuk memobilisasi penduduk.

Motivasi lain pembukaan ladang bertujuan untuk mendapatkan ganti rugi akibat penambangan batubara. Satu contoh tindakan ektrim yang dilakukan perusahan batubara adalah memindahkan desa Langap ke tepi jalan agar dapat menambang batubara yang berada di bawah rumah penduduk. Ancaman nyata lain terhadap kerusakan hutan di sepanjang sungai  Malinau adalah PT. Meranti Sakti yang melakukan pengambilan kayu di hulu sungai. Pengambilan kayu menjadi pendapatan lain penduduk. Harga kayu ulin di pasar lokal Rp.1 juta/kubik, kapur Rp.8-900 ribu/kubik dan meranti Rp.700 ribu/kubik. Selain untuk bahan bangunan, papan terserap juga pada usaha pertukangan perahu, yang merupakan sumber pendapatan lain rumah tangga. Harga perahu (ketinting) di Loreh per unit sebesar 500 ribu rupiah. Sumber pendapatan lainnya dari penjulan daging babi, pasar daging babi cukup besar karena penduduk di hulu sungai beragama Kristen. Harga daging babi di Loreh Rp. 8-10 ribu demikian juga di Tanjung Naga. Beberapa rumah tangga dari Desa Halanga secara  rutin memasok daging babi untuk kebutuhan di Loreh


  • Das Tubu
Secara administratif Tubu merupakan bagian dari Kecamatan Kayan Mentarang dan Pulau Sapi sebagai ibu kota kecamatan. Pulau Sapi merupakan pusat perdagangan bagi desa Punan yang berada di Sungai Tubu. Kota kecamatan dapat di akses dari kota Malinau dengan transportasi air dan darat.

Sistem transportasi utama adalah kendaraan air “ketingting” dan “longbot” yang berbahan bakar bensin. Jenis kendaraan tersebut diatas merupakan kendaraan yang sesuai denga Das Tubu yang bercirikan arus deras, berbatu dan banyak “giram” yang membuat transportasi  air sangat sulit. Semua desa berada pada muara sungai yang membentuk sungai Tubu, namun kondisinya hampir sama dengan sungai Tubu, sehingga kendaraan air tidak dapat menjangkau desa. Praktisnya, lalulintas manusia antar desa menggunakan jaringan jalan setapak yang terhubung melalui punggung bukit/gunung. Jumlah penduduk relatif kecil, rata-rata 170-225 jiwa dalam desa/pemukiman       (Kuala Avang 37 jiwa, Long Pada 185 jiwa, Long Ranau[1] 65 jiwa, Long Tami 26 jiwa, Long Penai 12 jiwa, Rian Tubu 167 jiwa), karakteristik penduduk ini menunjukkan tiga hal. Pertama, luas pemukiman relatif kecil, hanya setara dengan 2-3 kali lapangan bola. Kedua, untuk mendapatkan lahan subur pertanian dan dekat dengan sumber daya hutan. Ketiga, mendapatkan otonomi hidup dan cara menghindari konflik.
Penduduk umumnya hidup dalam susbsistensi yang berdasar pada hasil hutan. Pemanfaatan hutan untuk pertanian pangan relatih kecil terutama karena teknologinya sederhana serta serapan tenaga kerja yang besar. Tenaga kerja merupakan komponen yang paling besar dalam menebas (menderik), menebang (nevong), memotong dahan (netu), membakar (tutung) dan atau membakar kembali sisa bakaran yang tidak sempurna (mekup). Kerjasama rumah tangga affine dan keluarga luas masih berjalan terutama dalam kegiatan membuka ladang. Di  luar itu sistem upah dipraktekkan. Upah harian berkisar 30-50 ribu rupiah. Luas lahan yang dapat dibuka satu rumah tangga ½ sampai 1 hektar, membutuhkan 5 kg bibit padi. Hasil  padi (dipanenan dalam  umur 5 bulan) dalam kondisi baik hasilnya mencapai 100 kg atau 30-50 Kg dalam kondisi gagal. Jumlah ini hanya dapat memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga  3-6 bulan, kekurangan pangan disubsistusi ubi kayu (inau) dan atau sagu hutan (lo’ hulung). Satu batang sagu besar dapat mencukupi kebutuhan makan satu rumah tangga dalam satu minggu. Hasil perburuan masing sangat baik, terutama ikan, babi, dan bintang buruan lainnya. Peranan anjing sangat besar dan alat berburu yang dipergunakan--sumpit dan tombak (bujak), sangat murah dan efektif. Racun untuk sumpit (tacom) dapat produksi dari berbagai akar, daun, getah yang sumbernya melimpah.
           
Pada musim buah, terjadi migrasi babi (bavui nyatung) dari Malinau ke Tubu dan sebaliknya, dimana babi sangat mudah untuk dibunuh. Surplus lemak babi diolah menjadi minyak (lanyih) yang berfungsi sebagai pengganti minyak sayur. Pada musim ini penduduk dapat menyimpan minyak babi 5-25 kg/ rumah tangga. Surplus ini sekaligus menjamin anjing peliharaan mendapatkan makanan berkualitas tinggi.Walau dekat dengan sumberdaya hutan, kondisi ekonomi penduduk masih marjinal. Terutama karena mereka sedikit banyak merupakan bagian dari sistem ekonomi pasar. Kebutuhan seperti gula, rokok, tembakau, garam, obat, harganya cukup tinggi. Hampir semua desa tidak memiliki warung yang dapat menyediakan kebutuhan barang. Ketersediaan barang disuplay oleh toke gaharu yang merangkap pedagang kebutuhan pokok, diantaranya berasal dari Singaterang. Secara historis peran ganda ini dilakukan oleh orang Tidung dan Putuk/Lundayeh, dimana para pedagang mudik ke hulu sungai untuk menukar tempayan atau  gong dengan gaharu, damar, geliga, dll dimasa lalu. Pola ini sekarang sudah jauh berubah namun masih berjalan.
Toke disebutkan kerap melakukan eksploitasi melalui harga barang yang diperjualbelikan, terutama harga gaharu. Namun hubungan ini tetap berjalan karena jerat hutang dan juga toke yang dapat berfungsi sebagai bank untuk yang membutuhkan uang segera. 


[1] Sebanyak 13 rumah tangga tinggal di Mabau

PT Pasangkayu Junior High School

SMP PT Pasangkayu, salah satu SMP yang dibangun dan dikelola Astra Agro Lestari untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas untuk masyarakat di pedalaman Mamuju Utara. Sekolah ini dilengkapi dengan fasilitas internet, laboratorium bahasa, lab kimia, lab komputer, perpustakaan, UKS, konseling dengan tenaga pengajar yang terakreditasi. Tamatan pertama sekolah ini (thn 2010) dapat lulus 100% ujian nasional dan menjadi salah satu sekolah favorit dan kebanggaan masyarakat di Mamuju Utara umumnya dan di lingkungan PT Pasangkayu khususnya.

Seleksi Calon Pengelola LKM: A Note

PT Suryaraya Lestari I, 2008

Seleksi peneriman calon pengelola LKM dilakukan pada Kamis, 17 Juni 2008 bertempat di ruang rapat (meeting room) PT Suryaraya Lestari I. Sedianya seleksi telah dimulai pada Rabu, 16 Juni 2006, namun hal itu tertunda sehari karena Bapak Zainal dari PT Beraklah Madani baru tiba pada siang hari tanggal 16 Juni 2006. Ada 13 (tiga belas) pelamar yang dinyatakan berhak mengikuti seleksi selanjutnya. Test meliputi dua bagian: tertulis dan wawancara. Test tertulis mulai dilakukan pada jam 08.00 Wita. MT CDO (Marahalim & Imam) bertindak sebagai pengawas ujian dan time keeper.  Test tertulis terdiri atas 18 bagian dengan durasi pengerjaan soal yang berbeda-beda, soal-soal dimaksud antara lain:  pengetahuan umum, hafalan ringan, kemampuan numerik, logika (silogisme), uji ketelitian, Bahasa Indonesia (antonim VS sinonim) dan test kreatifitas lewat menggambar. setelah test tertulis, peserta diberikan waktu untuk istirahat selama 30 menit (dengan suguhan kue dan minum) baru kemudian dilanjutkan dengan sesi wawancara. Mempertimbangkan banyaknya peserta test wawancara, MT CDO turut membantu wawancara dengan menggunakan panduan baku yang disediakan oleh PT Berkah Madani. Alat ukur wawancara meliputi  5 (lima) item dengan skala 1-4 yakni: a) 1=kurang, b) 2=cukup, c) 3= baik, d) 4=sangat baik.  Hasil seleksi diperiksa pada sorehari tanggal 17 Juni 2008 oleh Bapak Zainal, Marahalim Siagian dan Imam Thayibi. Hasilnya  direkomendasikan 6 (enam) orang untuk menjadi pengelola LKM berdasarkan hasil test dan latar belakang pekerjaan serta pendidikan. Dari hasil test tertulis score terrendah adalah 105  (Dorce Paliling) dan score tertinggi 250 (Reynold), sementara score wawancara terrendah adalah 7 (Dorce Paliling) dan score tertinggi 19 (Reynold) dalam skala 1-20.
     

*      Laporan Proses
Bertempat di meeting room kantor PT Suryaraya Lestari 1, seleksi penerimaan calon karyawan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dilaksanakan pada tanggal 17 Juni 2008 dengan diikuti oleh 13 peserta. Saharian penuh, para peserta menjalani test tertulis yang kemudian dilanjutkan dengan sesi wawancara. Test tertulis itu sendiri berlangsung selama empat jam meliputi test: pengetahuan umum, hafalan ringan, kemampuan numerik, logika (silogisme), uji ketelitian, Bahasa Indonesia dan test kreatifitas lewat menggambar. Setiap peserta diwajibkan menyelesaikan bagian-bagian tes tertulis tersebut dengan durasi waktu yang tercantum pada soal. Seperti penyelenggaraan test umumnya, penggunaan alat komunikasi handphone tidak diperkenankan beserta alat hitung lainnya. Sebagai gantinya kami menyediakan kertas ‘ceker’ pada setiap peserta untuk soal-soal hitungan. Di awal test tertulis kami mendapati seorang peserta yang selalu mencoba melakukan kecurangan dengan menyontek jawaban peserta di sampingnya. Hal itu dilakukan berulang-ulang dan baru berhenti setelah kami mengancam tidak akan memeriksa kertas jawabannya.
Rangkaian test tertulis berakhir pada jam 12.00 Wita. Peserta diberikan waktu istirahat selama 60 menit berikut untuk minum dan snack yang disediakan PT Suryaraya Lestari I. Sesi  test wawancara dilanjutkan pada jam 13.00 Wita. Kami diminta Bapak Zainal untuk membantu beliau mewawancarai 5 (lima) orang peserta, sementara 8 (delapan) orang lainnya diwawancarai Bapak Zainal dengan panduan baku penilaian wawancara yang disediakan PT Berkah Madani. Pedoman penilaian wawancara tersebut kami gunakan untuk mengukur  5 (lima) hal dari peserta test dan beberapa sub itemnya, antara lain: latarbelakang keluarga, pendidikan dan pengalaman kerja, kemampuan verbal,  pengetahuan tentang LKM, motivasi kerja, dan personality character. Durasi test wawancara berkisar antara 15-20 menit.
Berdasarkan wawancara, kami mendapati bahwa tidak ada satu pun peserta yang memiliki pengalaman kerja di sektor perbankan. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan kenyataan bahwa separuh dari peserta yang mengikuti seleksi tersebut memiliki latar belakang pendidikan ekonomi/akuntansi. Sebagian dari mereka bahkan terlihat sedikit kesulitan menjawab pertanyaan seputar pengetahuan LKM. Hanya beberapa diantara peserta yang mampu menjelaskan secara mendalam baik definisi, fungsi, maupun operasional LKM secara garis besar. Saudari Chaterina misalnya. Wanita yang sedang mengandung 6 (enam) bulan ini merupakan satu dari sekian peserta yang bisa memaparkan secara gamblang fungsi LKM.
Setelah tahap test tertulis dan wawancara selesai dilaksanakan, kami bersama Bapak Zainal kemudian memeriksa hasil test tertulis dan hasil test waawancara keseluruhan peserta pada sore hari itu juga di Mess PT. Suryaraya Lestari-1. Butuh waktu lebih dari tiga jam untuk menyelesaikan memeriksa test tertulis ke-tigabelas peserta tersebut. Hasil pemeriksaan test tertulis dan wawancara menunjukkan bahwa lima nama teratas hanya masuk dalam kategori cukup: Reynold (250 dan 19), Arni Ariani (241,5 dan 17), Selvina (228 dan 16), Suri Tangalayuk (222,5 dan 16), Chaterina Ninik Sri (220 dan 18). Selebihnya tidak masuk kategori cukup karena hanya memperoleh score di bawah 200, berturut-turut adalah: Erlisa (189 dan 16), Lilianty Datu (179 dan 15), Salviani (171,5 dan 14), Suleman (154,5 dan 14), Naomi Basongan (144 dan 17), Meri (144 dan 14), Asrul Sani (111,5 dan 12), serta Dorce Paliling (103 dan 7).
Hasil dari test ini melahirkan 6 (enam ) nama yang direkomendasikan untuk menjadi pengelola LKM, mereka adalah:
1.      Reynold
2.    Arni Ariani
3.    Selvina
4.    Suri Tangalayuk
5.    Erlisa
6.    Asrul Sani

*       Briefing untuk pelatihan staff LKM di Mamuang
Nama-nama tersebut di atas sempat didiskusikan dengan Bapak Harinoto dan Bapak Unari, kami diminta untuk membuat rekapitulasi data diri peserta berikut dengan hasil testnya. Rekapitulasi ini telah dikirimkan ke sekretariat CD pada hari Sabtu, tanggal 18 Juni 2008 oleh Bapak Unari (CDO/ Ka Kebun) PT SRL 1.
            Nama-nama yang dinyatakan lulus dan selanjutnya dihubungi untuk mengikuti briefing pelatihan LKM adalah:
1.      Reynold
2.      Selvina
3.      Suri Tangalayuk
4.      Erlisa
5.      Salviani
6.      Asrul Sani
Melihat komposisi laki-laki dan perempuan, Bapak Unari memberitahukan pada peserta bahwa Saudara Erlisa (direkrut di PT SRL 1) akan bertukar tempat kerja dengan Saudara Syahrudin (direkrut di PT SRL 2). Kedua nama yang disebut di atas hadir pada hari Sabtu, 18 Juni 2008 pada saat briefing pelatihan LKM dilakukan di kantor PT SRL 1 dan menyatakan kesiapannya. Disamping itu, peserta juga diberikan informasi mengenai ketentuan yang harus dipatuhi peserta selama pelatihan. 



Micro Finanance: Field Note

Pinrang-Pare-Pare, 2008

Kegiatan mikrofinance di Indonesia sebenarnya sudah memiliki umur yang panjang. Mulai dari skala kecil tradisonal seperti arisan sampai organisasi yang komplek dan modern seperti BRI unit. Baitul Maal  wat Tamwil alias BMT adalah salah satu dari kategori microfinace ini. BMT memiliki sejarahnya sendiri, dan tumbuh dengan nasabah yang mayoritas beragama Islam. Satu hal yang menojol dari lembaga moneter islam ini adalah sistem bagi hasilnya derta sifat pengelolaanya yang memedomani nilai-nilai keislaman. Bila diteropong dari kacamata pengelolaan microfinace biasa maka terasa ada keganjilan dalam pengelolaan BMT/LKM. Ambil contoh, seorang nasabah dapat mengajukan pembiayaan cukup dengan disumpah saja. Sebagai gambaran umum, akan dikemukakan profil masing-masing BMT.

BMT ASY-SYABAAB, BMT ini didirikan sebagai jawaban atas sulitnya akses masyarakat ke Bank umum 10-15 tahun yang lalu. Dengan berdirinya BMT ini paling tidak dapat membantu nasabahnya dari segi permodalan pengembangan usaha mikro dengan suntikan permodalan. Di awal berdirinya, BMT ini menjalin kerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) untuk melakukan pelatihan pelatihan keterampilan kerja nasabahnya. Nasabah yang terlah mengikuti pelatihan ini kemudian diberi modal untuk memulai dan mengembangkan usahanya. Dari sinilah tumbuhh kegiatan ekonomi akar rumput di Pinrang yang sempat kolaps akibat krisis ekonomi yang melanda pelosok negeri ini pada tahun 1998. Usaha kecil dimaksud seperti pembuatan kue dan jajanan, reparasi kulkas, dan keterampilan mengelas listrik. Seiring berjalannya waktu BMT ini menjalin kerjasama dengan Bank Muamalat dalam hal penyelenggaraan haji. Masuknya BMT ini dalam bisnis pemberangkatan ibadah haji membuat Departemen Agama berang. Depaetemen Agama menyebarkan himbauan agar calon jamaah haji tidak berhubungan dengan BMT Asy Sabaab. BMT ini dituduh mengelola dana gelap. Pihak pengelola BMT menyadari posisi ini namun mereka terus bertahan dengan modal pelayanan dan membangun kepercayaan. Dalam beberapa tahun kemudian BMT ini semakin dipercaya. Saat ini BMT Asy Sabaab ini rata-rata memberangkatkan 250 calon jamaah haji, nomor dua terbesar di Pinrang. Dana yang dikelola BMT Asy Sabaab saat ini berkisar antara 2-3 Miliar.

Alamat: JL IMAM BONJOL NO 37 TELP 923530 KOTA PINRANG
BELAKANG MESJID AGUNG

BMT AL BIRRY, BMT ini lahir tahun 1995, salah satu BMT yang tertua di Pinrang. Al Birry awalnya didesain sebagai Bank Perkreditan Rakyat Syariah. Namum karena legalitas nya tidak memenuhi syarat untuk menjadi BPR Al Birry berubah badan hukum menjadi BMT. Namun,  walau berbadan hukum koperasi, BMT ini tidak membagi SHU kepada nasabahnya. Nasabah hanya memperoleh pendapatan berupa bagi hasil, sedangkan SHU dibagi diantara pendiri dan pengurus BMT saja. BMT ini meluncurkan beberapa produk, tabungan pendidikan, tabungan perkawinan, disamping pembiayaan usaha kecil di pasar sentral kota Pinrang. Bentuk pembiayaan dilakukan dengan uang tunai bukan barang dengan birokrasi yang tidak rumit (cepat dan berkualitas). Di luar kegiatan simpan pinjam BMT ini juga menggarap sektor riil namum diakui mereka belum dapat bersaing dengan pasar. Uang yang dikelola BMT Al Birry saat ini berkisar 4 Miliar dengan pendapan bersih sekitar Rp. 70.000.000 per tahun

Alamat: JL MONGONSIDI NO 38 TELP 0421-923760
DEPAN MESJID RAYA KOTA PINRANG


BMT Fauzan Azhima, BMT lahir pada saat krisis moneter tahun 1997. Kelahirannya tidak terlepas dari Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK) binaan ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia). BMT ini berkantor di Islamic Centre yang cukup megah di kota Pare-Pare. BMT Fauzan merupakan satu dari setidaknya 20 Lembaga Keuangan Bukan Bank yang ada di Kota Pare-Pare. Nasabah utamanya 60 persen adalah pedagang pasar pusat Pare-Pare. Selain kegiatan simpampinjam BMT ini melakukan pembiayaan sepeda motor dan alat-alat elektronik. Lembaga ini juga menjalin kerjasama dengan Kementerian Perumahan Rakyat, hasilnya diluncurkan produk pembiayaan perbaikan rumah masyarakat miskin. Kegiatan ini telah memasuki tahun ke dua. Uang yang dikelola lembaga ini berkisar 2 Miliar. Bila dibandingkan dengan BMT sejenis di kota Pinrang dana berputar di lembaga ini lebih kecil, namun memperhatikan jumlah micro finance di Pare-Pare yang julamnya belasan, aset ini tergolong besar.
Alamat: JL DELIMA NO 4 KOTA PARE-PARE
BELAKANG ISLAMIC CENRE

Sabtu, 19 Februari 2011

Road for Welfare







Desa Ngovi Kecamatan Rio Pakava adalah sebuah desa berpenduduk mayoritas Suku Bunggu atau Binggi yang mendiami dataran tinggi Donggala. Desa ini jauh dari sentrum pemerintahan sehingga tergolong minim perhatian dari pemerintah.
Penduduk di daerah ini hidup dari bertanam kakao dan belakangan kelapa sawit. Hasi-hasil pertanian biasaya dipikul dalam jarak yang cukup jauh dan upah yang tinggi. Dibukanya jalan ini dapat mempermudah masyakat untuk mengeluarkan hasl pertaniannya dengan biaya yang lebih murah.

Program ini terwujud atas kerjaama masyarakat Ngovi dengan PT. Pasangkayu dengan pendanaan utama PNPM.

A Morning in Bambamone

19 November 2010
Bambamone adalah sebuah dusun di Desa Gunung Sari, Kecamatan Pasangkayu, Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulawesi Barat. Dusun ini pada dasarnya adalah perluasan dari pemukim Bali yang migrasi ke Kelurahan Martajaya pada tahun 80-an. Orang meyakini bahwa Suku Bunggu (Sub Etnik Kaili) telah mendiami kawasan lebih awal, kemudian migrasi penduduk dari daratan Sulawesi Selatan: Toraja dan Bugis. Secara umum dusun/desa ini masih terisolasi. Sejumlah proyek pembangunan pemerintah yang diinvestasikan tidak berjalan baik, diduga karena diselewengkan. Hal ini terlihat dari pondasi jembatan dan proyek infrastruktur desa tidak berkembang.